Bila ini
kenyataan tentu ini menyakitkan, untungnya ini hanya cerita fiksi alias rekaan semata dan objek bila ada
mungkin sudah di telan bumi atau tak pernah ada dalam kehidupan,,
Waktu ku
telepon katanya ia sedang berada di kota
B ada kerjaan katanya, seperti akhirnya Ia tak lagi seperti dahulu yang selalu
memberitahu pada ku bila ada kerjaan keluar kota, aku bertanya dalam telepon
yang selalu akhirnya tidak mudah untuk percaya akan kata-katanya, kerjaan biasa
katanya, tentang kegiatan mantan menteri yang sekarang sibuk dengan LSM
nya,mendadak meyakinkan dia di seberang sana dalam telepon. Dan segera mencari
alasan untuk memutus hubungan telepon, karena ingin segera istirahat karena
besok harus bangun pagi, waktu memang sudah menuju setengah satu ketika ku
memulai percakapan telepon, tidak lebih dari 5 menit dia hentikan sambungan
telepon tanpa pulsa ini.
Aku pun
harus puas dengan kurang dari 5 menit telponku
padanya, aku coba memutar musik, mengalihkan semua kekecawaanku, tetap
tidak tertidur diriku, lalu kirimkan teksku padanya, tulisannya agar selalu
mengabari aku, begitu rindunya diriku akan kabar darinya.
Ternyata
semua tidak membuatnya bergeming, entah ada apa yang terjadi di sebrang sana,
benarkah dia ada di sana, benarkah dia tidak bersama lelaki yang lain, begitu
sesak rongga dada, kepala menjadi penat semua meikirkan dirinya, seolah tak ada
lagi yang lebih penting selain memikirkannya di malam ini, asap terus keluar
dari rongga dada melepas terus keluar, berbatang-batang rokok tak cukup
menyesakan paru-paru. Teringat majalah yang menuliskan artikel, jangan
sepelekan felling anda, bisa jadi itu suatu kebenaran, begitu artikel itu
mengabarkan, dulu juga pernah ku kutip quote yang entah dari siapa ku lupa tapi
mungkin bunyinya, perasaan adalah kebenaran dari Tuhan.
Hari sudah
pagi kopi dan sebatang rokok hanya sekedar untuk menyegarkan pikiran ku yang
kusut, sudah jam 9 pagi kembali ku dapatkan telepon ku langsung memutar
nomornya, sampai 5 kali tapi tak diangkat olehnya, ku berhenti menelponnya, 40
menit kemudian, kembali ku coba hubunginya, 6 kali baru di angkat teleponnya,
ketika ku Tanya kenapa tak di angkat, katanya di kamar mandi,, lalu ku Tanya
kembali katanya pagi berangkatnya sekarang sudah jam 10 kok baru di kamar
mandi, acaranya di undur jawabnya, tak lebih dari 30 detik kemudian dia
memutuskan telepon katanya harus segera berangkat,, aku pun berangkat,,
Sampai di
Kantor, aku pun seperti biasa, melakukan rutinitas yang selalu saja membuatku
tak bersemangat , kadang aku benci dengan diriku sendiri yang tidak mudah untuk
bisa menikmati rutinitas keseharianku, jam setengah 1 siang, ku coba hubungi
kembali dirinya, langsung di angkat di seberang sana berkata kalau ia sedang
berada di jalan menuju tempat liputan, aku diam saja bila mengingat kabar
terakhir darinya, segera mau masuk gedung, kembali telepon di putuskan, jangan
lupa kabari aku yah,, pesan ku terakhir,, dan kata iya terdengar sayup dari
seberang sana.
Aku adalah
orang ambisius, aktif cerdas dan mungkin masuk katagori sangat pandai, kadang
aku lebih mampu menganalisa lebih tajam dan lebih aseli dari pada kolegaku, dan
teman-temanku, ini bukan sebuah kesombongan karena ini tidak lebih dari sekedar
kenyataan, Aku juga masuk dalam katagori tampan, berselera pakaian yang selalu
bisa menarik orang di sekitarku, karena aku memang benar pemilih dalam
berpakaian, dan tidak sedikit aku merasakan perhatian yang lain dari lawan
jenis , tapi aku menutup diri, karena aku juga hidup dalam kenaifan kesetiaan,
sebagai pelampiasannya aku adalah pecemburu yang kacau. Tetapi aku selalu tahu
di mana aku harus mengedepankan rasio atau tepatnya terlalu pengecut membuat
keputusan, jelas sudah ketidak sempurnaan ku adalah, aku adalah bagian dari
kumpulan manusia yang naif , yang biasa mati di medan laga pertempuran karena
keberanian yang gelap, bunuh diri karena tak mampu membedakan logika dan fakta.
Sampai besok
pagi tak ada kabar darinya,, dan malam harinya baru ku kembali menelpon tak di
angkat,, ku kirimkan teks tak di jawab,, tapi di baca olehnya,, ada apa
sebenarnya di seberang sana,, tengah
malam dia membalas textnya ,, katanya dia habis minum bersama temannya di
bandung,, dan sekarang sedang mabuk,, ku telpon, hanya orang meracau di
seberang sana, ini belum cukup gila ternyata, aku pun kembali di buat bodoh,
pikiranku berputar terus, aku menjadi tak percaya dengan semua ceritanya, hari
sudah beranjak pagi mataku belum juga terpejam terus saja memikirkannya yang sama
sekali aku tak di pikirkan olehnya,
Sampai di
sini wajar kalau aku mempertanyakan akal warasku, di mana letaknya, aku bukan
orang yang dungu, aku bukan orang yang tidak mengerti tentang apa yang
sebenarnya terjadi, dan aku tidak bisa puas dengan jawaban-jawaban bodoh,
kebohongan-kebohongan yang tidak berbakat, aku merasa di lecehkan oleh
kebohongan yang tidak lengkap, aku merasa di perlakukan seperti orang dungu,
memang sungguh keterlaluan, entah di mana akal waras ku dapat menerima semua
ini tetap berlangsung. Aku merasakan kebusukan sedang terjadi.
Paginya
kembali ku coba menelponnya tak di angkat, aku pun berangkat ke kantor, kembali
meneruskan rutinitasku jam 12 siang kembali ku coba menelponnya sampai 7 kali
baru di angkat olehnya, aku bilang padanya kalau aku baru saja menelpon
kantornya yang padahal aku tak melakukannya, kalau berita dari kantor tidak ada
kerjaan di B dan tak ada agenda dengan LSM itu, berita apa yang ku dengar dari
sana suara pun meninggi, lancang banget lo,, itu kata pertama darinya,, emang
lo siapa,, emang lo pikir lo siapa,, (aku orang yang bertahun-tahun bersamanya) ya
lo gue bohongin, puas lo,, WHAT,,,, tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt,,,,
Aku
terkejap, benar terkejap.. siapa sebenarnya orang di seberang sana, yang suara
dan nomor telponnya tetap sama dengan perempuan yang bertahun mengisi
kehidupanku, walau memang ini bukan sebuah kejutan yang baru, tetapi aku begitu
tertusuk dengan pragmatisme dan ketidak perdulian kesetiaan terhadap pasangan,
apa jadinya bila manusia menjadi seperti ini, tidak tahu di mana harus berhenti
mengakui melakukan sebuah kesalahan, malah semakin masa bodoh, seolah hidup
esok hari tidak penting lagi, dan belum selesai.
Masih belum puas dirinya ternyata, dia posting
foto dirinya bersama seorang lelaki bule dengan pose mesranya,, di halaman
sosialnya,, entah motivasi apa yang terjadi dalam pikirannya dan di manakah
teman-teman berpikirnya, begitu ceroboh dan kembali masa bodoh dalam waktu
tidak lebih dari matahari bersinar, saya pasti berhadapan dengan orang yang
terlalu berlebihan, tanpa perasaan,, dan apa yang terjadi, dia perempuan yang
sudah bertahun- tahun bersama ku,, walau akhirnya di tahun ini selalu saja
menghilang secara tiba-tiba, dan aku selalu mengetahuinya,, dan selalu saja
bisa memaafkannya, dan aku benar-benar membenci diriku saya benar-benar harus
membunuh diriku untuk menghindar dari semua ini.
Aku
bersumpah pada diri ku bahwa ini adalah hal terakhir dan benar-benar terakhir
dari semua kekecawaan yang berulang-ulang darinya, aku tidak akan memaafkan
semua ini, aku bersumpah hubungan ini sudah selesai, dan tak ada lagi
toleransi. Esok sampai di Jakarta, dari
liburan senang-senangnya, yang dalam imajinasinya adalah bekerja bertemu
klien,, aku pun memaafkannya, dan aku pun melupakannya, mencintai sepenuh hati
seperti tak pernah ada badai yang terjadi.
Akhirnya
cerita tiada asalnya ini harus berakhir,, semoga cerita begini tidak pernah
terjadi,,
FN 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar