Senin, 01 Oktober 2012

Sambungan Paranoid Posesif


Bila ini kenyataan tentu ini menyakitkan, untungnya ini hanya cerita  fiksi alias rekaan semata dan objek bila ada mungkin sudah di telan bumi atau tak pernah ada dalam kehidupan,,

Waktu ku telepon katanya ia sedang berada di  kota B ada kerjaan katanya, seperti akhirnya Ia tak lagi seperti dahulu yang selalu memberitahu pada ku bila ada kerjaan keluar kota, aku bertanya dalam telepon yang selalu akhirnya tidak mudah untuk percaya akan kata-katanya, kerjaan biasa katanya, tentang kegiatan mantan menteri yang sekarang sibuk dengan LSM nya,mendadak meyakinkan dia di seberang sana dalam telepon. Dan segera mencari alasan untuk memutus hubungan telepon, karena ingin segera istirahat karena besok harus bangun pagi, waktu memang sudah menuju setengah satu ketika ku memulai percakapan telepon, tidak lebih dari 5 menit dia hentikan sambungan telepon tanpa pulsa ini.

Aku pun harus puas dengan kurang dari 5 menit telponku  padanya, aku coba memutar musik, mengalihkan semua kekecawaanku, tetap tidak tertidur diriku, lalu kirimkan teksku padanya, tulisannya agar selalu mengabari aku, begitu rindunya diriku akan kabar darinya.

Ternyata semua tidak membuatnya bergeming, entah ada apa yang terjadi di sebrang sana, benarkah dia ada di sana, benarkah dia tidak bersama lelaki yang lain, begitu sesak rongga dada, kepala menjadi penat semua meikirkan dirinya, seolah tak ada lagi yang lebih penting selain memikirkannya di malam ini, asap terus keluar dari rongga dada melepas terus keluar, berbatang-batang rokok tak cukup menyesakan paru-paru. Teringat majalah yang menuliskan artikel, jangan sepelekan felling anda, bisa jadi itu suatu kebenaran, begitu artikel itu mengabarkan, dulu juga pernah ku kutip quote yang entah dari siapa ku lupa tapi mungkin bunyinya, perasaan adalah kebenaran dari Tuhan.  

Hari sudah pagi kopi dan sebatang rokok hanya sekedar untuk menyegarkan pikiran ku yang kusut, sudah jam 9 pagi kembali ku dapatkan telepon ku langsung memutar nomornya, sampai 5 kali tapi tak diangkat olehnya, ku berhenti menelponnya, 40 menit kemudian, kembali ku coba hubunginya, 6 kali baru di angkat teleponnya, ketika ku Tanya kenapa tak di angkat, katanya di kamar mandi,, lalu ku Tanya kembali katanya pagi berangkatnya sekarang sudah jam 10 kok baru di kamar mandi, acaranya di undur jawabnya, tak lebih dari 30 detik kemudian dia memutuskan telepon katanya harus segera berangkat,, aku pun berangkat,,
Sampai di Kantor, aku pun seperti biasa, melakukan rutinitas yang selalu saja membuatku tak bersemangat , kadang aku benci dengan diriku sendiri yang tidak mudah untuk bisa menikmati rutinitas keseharianku, jam setengah 1 siang, ku coba hubungi kembali dirinya, langsung di angkat di seberang sana berkata kalau ia sedang berada di jalan menuju tempat liputan, aku diam saja bila mengingat kabar terakhir darinya, segera mau masuk gedung, kembali telepon di putuskan, jangan lupa kabari aku yah,, pesan ku terakhir,, dan kata iya terdengar sayup dari seberang sana.

Aku adalah orang ambisius, aktif cerdas dan mungkin masuk katagori sangat pandai, kadang aku lebih mampu menganalisa lebih tajam dan lebih aseli dari pada kolegaku, dan teman-temanku, ini bukan sebuah kesombongan karena ini tidak lebih dari sekedar kenyataan, Aku juga masuk dalam katagori tampan, berselera pakaian yang selalu bisa menarik orang di sekitarku, karena aku memang benar pemilih dalam berpakaian, dan tidak sedikit aku merasakan perhatian yang lain dari lawan jenis , tapi aku menutup diri, karena aku juga hidup dalam kenaifan kesetiaan, sebagai pelampiasannya aku adalah pecemburu yang kacau. Tetapi aku selalu tahu di mana aku harus mengedepankan rasio atau tepatnya terlalu pengecut membuat keputusan, jelas sudah ketidak sempurnaan ku adalah, aku adalah bagian dari kumpulan manusia yang naif , yang biasa mati di medan laga pertempuran karena keberanian yang gelap, bunuh diri karena tak mampu membedakan logika dan fakta.

Sampai besok pagi tak ada kabar darinya,, dan malam harinya baru ku kembali menelpon tak di angkat,, ku kirimkan teks tak di jawab,, tapi di baca olehnya,, ada apa sebenarnya di seberang sana,,  tengah malam dia membalas textnya ,, katanya dia habis minum bersama temannya di bandung,, dan sekarang sedang mabuk,, ku telpon, hanya orang meracau di seberang sana, ini belum cukup gila ternyata, aku pun kembali di buat bodoh, pikiranku berputar terus, aku menjadi tak percaya dengan semua ceritanya, hari sudah beranjak pagi mataku belum juga terpejam terus saja memikirkannya yang sama sekali aku tak di pikirkan olehnya,
Sampai di sini wajar kalau aku mempertanyakan akal warasku, di mana letaknya, aku bukan orang yang dungu, aku bukan orang yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tidak bisa puas dengan jawaban-jawaban bodoh, kebohongan-kebohongan yang tidak berbakat, aku merasa di lecehkan oleh kebohongan yang tidak lengkap, aku merasa di perlakukan seperti orang dungu, memang sungguh keterlaluan, entah di mana akal waras ku dapat menerima semua ini tetap berlangsung. Aku merasakan kebusukan sedang terjadi.

Paginya kembali ku coba menelponnya tak di angkat, aku pun berangkat ke kantor, kembali meneruskan rutinitasku jam 12 siang kembali ku coba menelponnya sampai 7 kali baru di angkat olehnya, aku bilang padanya kalau aku baru saja menelpon kantornya yang padahal aku tak melakukannya, kalau berita dari kantor tidak ada kerjaan di B dan tak ada agenda dengan LSM itu, berita apa yang ku dengar dari sana suara pun meninggi, lancang banget lo,, itu kata pertama darinya,, emang lo siapa,, emang lo pikir lo siapa,,  (aku orang yang bertahun-tahun bersamanya) ya lo gue bohongin, puas lo,, WHAT,,,, tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt,,,,

Aku terkejap, benar terkejap.. siapa sebenarnya orang di seberang sana, yang suara dan nomor telponnya tetap sama dengan perempuan yang bertahun mengisi kehidupanku, walau memang ini bukan sebuah kejutan yang baru, tetapi aku begitu tertusuk dengan pragmatisme dan ketidak perdulian kesetiaan terhadap pasangan, apa jadinya bila manusia menjadi seperti ini, tidak tahu di mana harus berhenti mengakui melakukan sebuah kesalahan, malah semakin masa bodoh, seolah hidup esok hari tidak penting lagi, dan belum selesai.

 Masih belum puas dirinya ternyata, dia posting foto dirinya bersama seorang lelaki bule dengan pose mesranya,, di halaman sosialnya,, entah motivasi apa yang terjadi dalam pikirannya dan di manakah teman-teman berpikirnya, begitu ceroboh dan kembali masa bodoh dalam waktu tidak lebih dari matahari bersinar, saya pasti berhadapan dengan orang yang terlalu berlebihan, tanpa perasaan,, dan apa yang terjadi, dia perempuan yang sudah bertahun- tahun bersama ku,, walau akhirnya di tahun ini selalu saja menghilang secara tiba-tiba, dan aku selalu mengetahuinya,, dan selalu saja bisa memaafkannya, dan aku benar-benar membenci diriku saya benar-benar harus membunuh diriku untuk menghindar dari semua ini.

Aku bersumpah pada diri ku bahwa ini adalah hal terakhir dan benar-benar terakhir dari semua kekecawaan yang berulang-ulang darinya, aku tidak akan memaafkan semua ini, aku bersumpah hubungan ini sudah selesai, dan tak ada lagi toleransi.  Esok sampai di Jakarta, dari liburan senang-senangnya, yang dalam imajinasinya adalah bekerja bertemu klien,, aku pun memaafkannya, dan aku pun melupakannya, mencintai sepenuh hati seperti tak pernah ada badai yang terjadi.

Akhirnya cerita tiada asalnya ini harus berakhir,, semoga cerita begini tidak pernah terjadi,,



FN 27
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar