Minggu, 14 Oktober 2012

Ketika Pencerahan Datang



        Aku terlahir dengan nama Muhammad Syahreza, nama yang sangat indah menurutku tapi sangat jauh dari sifat dan kepribadian ku. Sering teman-temanku mengejeku karna nama dan kelakuan ku sangat jauh berbeda , nama yang diambil dari seorang Nabi yang berkepribadian baik, berahlak mulia tapi diberikan kepada orang sepertiku yang sangat terbalik dari sifat beliau. Tak tahu kenapa Ayahku memberi nama ku seperti itu padahal ia sangat jauh dari agama keseharianya hanya mabuk dan berjudi saja, mungkin itu nama dari Ibuku yang hanya dalam waktu 7 tahun aku bisa merasakan kasih sayangnya sebelum ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
       Dibesarkan didaerah yang rawan dengan kemaksiatan ,perjudian bahkan narkoba , pergaulan yang sangat kacau membuatku terlalu terlarut dalam kehidupan yang menyesatkan ini, memang nikmat tetapi tak tahu dampak dari kenikmatan itu sendiri. Didaerahku ini hanya akulah yang masih bersekolah karna aku diterima di SMA Negeri yang tidak memerlukan SPP ditiap bulanya.
       Disekolah aku mungkin bukan satu-satunya anak yang malas tapi akulah yang selalu disalahkan oleh guru-guru karna aku dinilai memberi dampak negatif kepada teman-temanku dengan mengajak teman temanku untuk tidak mengerjakan tugas dan lebih memilih main dan nongkrong, padahalkan itu kemauan meraka bukan salahku kalau mereka mau menuruti aku.
***
Pagi ini aku pusing sekali karna ada pelajaran geografi gurunya sangat killer menurutku, selalu memberi hukuman kepada para siswanya jika tidak mengerjakan tugas, entah dijemur , disuruh membersihkan WC, tidak diberi nilai dan banyak lagi. Bimbang sekali aku pagi itu kalau aku bolos lagi pastilah aku akan dikeluarkan dari sekolah karna sering sekali aku bolos, yasudahlah masuk saja dari pada aku keluar sayang sekali udah mau kelas 3 dan hampir lulus. Disekolahku ada seorang siswi perempuan cantik dan juga baik hati ia bernama Anissa Rahmi Rahmawati, perempuan dengan jilbab menutupi rambutnya yg lebih menarik hatiku daripada perempuan lain yang selalu berpenampilan menor dan ingin dilihat.
     Sampai dikelas teman temanku sibuk dengan tugas geografinya ,sedangkan aku hanya diam dan main permainan yang ada diHP ku tanpa mempedulikanya,saat itu guruku masuk dan memulai meneranagkan ,lalu langsung menyruh kami mengeluarkan tugas yang diberikanya minggu lalu, ahh sial kenapa dia harus ingat kataku. Tiba tiba seorang siswi berjilbab yang kuceritakan itu mengok kebelakang kearahku yang duduk dibelakangnya.
     “ini za” sambil memberikanku buku tulis
     “apaan ini  sa ?”
     “kamu pasti belum mengerjakan tugas geografi kan, ini sudah kukerjakan “
     “ah serius sa,lo kerjain semua”
     “iya, serius daripada kamu dimarahi terus oleh pak heri dan nanti bisa-bisa tidak lulus gimana ?”
terdiam sejenak ku mendengar jawabanya itu, bagaikan nabi Muhammad yang turun kebumi member pencerahan kepada umatnya,begitu pula dia memberikan pertolongan besar terhadapku dan masa depanku yang mungkinsudah tidak jelas ini
     “makasih ya anissa” jawabku dengan senyuman.
ia hanya menoleh tanpa memberi jawaban, dan selamatlah aku dari hukuman dan nilai nol itu.
ketika bel dibunyikan dan kegiatan belajar berhenti aku keluar kelas dan duduk dibangku samping musholla untuk menunggu anissa dan berterima kasih atas pertolonganya itu.
dan ia pun tiba,ia sedang berjalan menuju musholla ini dan langsung saja ku panggil dia.
     “anissa rahmi”
     “iya za”
     “terima kasih ya sa, kalau ngga ada lo pasti gue dihukum lagi dah sama pak heri”
     “ngga apa apa kok za, sudah kewajiban kita sesama muslim saling membantu”
sungguh jawaban yang ada duluar fikiran ku padahal solat saja aku jarang sekali sebulan saja terhitung oleh jari lah”
     ”oia aku solat dulu ya, kamu juga mau solat kan”  Tanya nya sambil tersenyum, mungkin mengejeku karna aku yang tak pernah sekalipun solat, Ayahku saja tak pernah solat ibukulah yang mengajariku tapi itu sudah lama sekali sebelum ibu wafat.
     “hmm iya iya ini juga mau solat kok” jawabku agak gagap.
aduh cara berwudhu gimana ya, lupa sekali aku, karna terakhir aku solat itu ketika aku SMP sudahlah liat saja yang lain wudhu tinggal mengikuti .
      selasailah solat zuhur ku yang sudah lama sekali ku tinggalkan ini, damai sekali hati ini setelah solat , baru kali ini aku merasakan ketentraman hati yang luar biasa ini, lalu keluar dan kembali duduk sambil menunggu malaikat penolongku tadi.
     “sudah selesai solat za?” Tanya malaikat penolongku itu yang langsung duduk disebelahku.
     “sudah kok sa”
     “hmm solatnya jangan hanya zuhur saja ya za, ashar, magrib, isya dan subuhnya juga jangan sampai ketinggalan, karna jika hanya satu tiang bangunanmu pasti akan roboh”
     “iya sa,tapi kok bangunan sih” tanyaku bingung
     “iya za ,karna solat itu adalah bangunan kita kelak disurga jika hanya satu tiangnya pasti tidak akan kuat menahan kemagahan surganya Allah swt”
kata kata yang belum pernah kudengar dari teman teman ku, seperti sedang berada didepan mimbar solat jumat dan mendengarkan pencerahan dari ustad dan kyai.
     “oh gitu ya sa, pasti aku akan solat kok”
     “bagus lah zal ,tapi jangan hanya kamu saja yang solat ajak juga teman temanmu yang lain agar dapat solat juga bersama dirimu”
     “iya sa pasti”
     “tapi ingat lagi, kamu solat juga jangan karena aku tapi karena Allah za”
terdiam lagi aku mendengar kata katanya itu, sungguh seorang wanita cantik luar dan dalam ,sempurna jasmani dan rohaninya sempat ku berfikir kalau ia bukanlah manusia melainkan seorang malaikat berwujud manusia yang sedang menyamar untuk memberiku pencerahan.
     “iya sa,pasti bakal gue ingat kata kata lo untuk sekarang dan mudah mudahan seterunya sa”
     “amin za, aku duluan ya za, assalamualaikum”
     “walaikum salam”


***
       Lelah sekali hari ini walau ku sangat senang karna kejadian disekolah tadi, belum sampai lima menit sampai rumah tiba tiba terdengar panggilan Allah untuk umatnya untuk bersegera solat ashar, baru aku ingin beristirahat tapi yasudahlah aku jalani saja mungkin suasana hatiku akan lebih damai lagi seperti tadi, tanpa mengganti pakaian sekolah ku aku langsung bergegas kemasjid dekat kampungku yang mungkin sudah bertahun tahun tak kudatangi itu.
     “woi.. za mau kemana lo ?” seru ilham teman satu daerah tinggalku
     “mesjid am, solat dulu biar damai”
     “hahahaha, gue ngga lagi mimpi kan nih za ?”
     “ngga lah ,gue baru dapet ilham nih”
     “dikasih duit berape lo za ama Tuhan ? sampe lo sembah lagi hahaha”  tawanya mengeras hingga terbahak bahak namun aku tak menggubrisnya dan langsung meninggalkanya
     “woi za ,nitip salam ya buat tuhan hahaha” serunya lagi dengan tawa yang semakin mengeras.
bingung sekali aku disaat aku ingin berada di jalan yang benar malah dicemooh sudahlah mendingan aku melunasi janjiku pada anissa untuk solat lima waktu.
kedamaian kembali hadir setelah aku melaksanakan solat ashar, sejuk sekali rasanya seperti ada disebuah ruangan ber AC yang hanya orang orang ataslah yang memilikinya. Tiba tiba datanglah ustad soleh ,ia adalah imam masjid ini sekaligus penjaga rumah Allah ini.
     “eh nak reza, alhamdulillah yah sekarang ada anak muda yang mengisi masjid ini yang biasanya hanya orang orang berusia lanjutlah yang beribadah di masjid ini”
     “iya ustad”
     “kenapa tidak mengajak yang lain nak reza ?”
     “ya mana pada mau ustad mendengar jawaban saya ingin kemasjid ini saja mereka menyangka sedang bermimpi, sampai sampai bilang bahwa saya diberi uang berapa sama Tuhan sampai sampai saya solat kembali ustad”
      “begitulah manusia yang tidak pernah berterima kasih atas segala yang Tuhan berikan”
      “maksudnya ustad ?” tanyaku lebih dalam
      “iya kita telah diberi banyak kenikmatan dan kesempurnaan dalam hidup tapi apa timbal balik dari kita, malah menghinanya, melupakanya padalah banyak mausia selain kita yg tidak sempurna tapi ia masih bisa bersyukur”
      “iya ya ustad benar juga, Alhamdulillah terima kasih ustad saya jadi bisa mengerti sedikit tentang agama”
      “iya za sama sama nak reza , kalau mau belajar agama datang saja kemari nanti pasti ustad ajarkan lebih banyak”
      “iya ustad pasti, saya pulang dulu ya ustad , assalamualaikum “
      “walaikum salam”

    bagaikan tanaman yang diberi air oleh pemiliknya aku baru merasa hidup di dunia ,ustad soleh memang sangat baik ,setengah jalan sebelum sampai rumah kulihat joko, wira, dan ucup teman teman bermainku dan mereka langsung menyapaku.
      “woi za, denger denger ada yang kerasukan jin islam nih hahaha” seru joko dan membuat andri dan ucup tertawa terbahak bahak
      “tau lo za ,kesambet setan apaan si lo sampe solat segala hahaha” giliran ucup yg menghinaku
      “woi udeh lo pada, temen berubah bukanye seneng malah dihina hina” seru wira membelaku
      “udeh wir lo jangan munafik, lo aja hobinya maen judi lo nyadar lah, lo aja makan pake duit ape haram ape halal” seru joko kepada wira ,lalu wira bangun dan member bogem mentah kearah joko
      “woi udeh udeh gara gara gue solat kenape elo pada ribut, udeh wir sabar” teriakku sambil menahan wira
      “awas lo ko, gue bikin bonyok lo, gue yg makan ya seterah gue” gertak wira
      “udeh wir mending lo solat biar tenang pikiran lo”
     “iye za, gue balik dulu ntar magrib aje ye, lo kerumah gue dulu, oke”
     “oke dah”
aku dan wira pulang meninggalkan joko dan ucup yg masih ada di tongkronganya.
     Terdengar adzan magrib lalu aku bersiap menuju rumah wira dan mengajaknya solat, diperjalananku menuju rumah wira aku melihat joko dan ucup sedang berlari secepat kilat hingga menabrak diriku, ada apa dengan mereka, lalu kudengar suara Bu Iyem ibunya Wira berteriak minta tolong sambil menangis.
     “kenapa bu ?” tanyaku bingung
     “ini nak reza, wira anak ibu” jawabnya dengan isak tangis yg mendalam
     “wira kenapa bu ?”
     “dia dibacok, ibu tak tahu siapa pelakunya”
     “dimana bu masa ibu tidak tahu ?”
     “didepan rumah nak, iya dia baru saja mandi katanya mau nunggu nak reza mau ke masjid bersama, pas ibu tinggal kedalam sebantar  tiba tiba wira berteriak kesakitan dan tahunya seperti ini”
     “baiklah bu ayo kita bawa wira kerumah sakit”
aku dan ibu Iyem segera membawa wira kerumah sakit dengan bajaj ,terliahat wajah yang amat gelisah dari ibu iyem ,yang amat takut jikalau anaknya itu tak selamat. Sampailah kami di UGD rumah sakit husada, wira langsung dibawa ke kamar rawatnya ,aku dan ibu iyem hanya boleh menunggu diluar saja , dengan perasaan harap harap cemas kami menunggu kabar dari dokter yg memeriksa wira, lalu datanglah seorang suster menghampiri kami.
     “ibu dan adik keluarga dari ahmad wirawan ya ?”
     “iya suster bagaimana keadaan anak saya ?” Tanya ibu iyem gelisah
     “baiklah ibu bisa menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu diruang administrasi nanti adik ini saya antar ke ruangan wirawan”
     “baik suster, saya pulang dulu saya kesini tidak membawa uang sama sekali”
     “baik bu ,secepatnya ya bu agar anak ibu tidat telat mendapat perawatan”
geram sekali aku mendengar percakapan itu, seharusnya rumah sakit menolong terlebih dahulu malah memikirkan biaya terlebih dahulu, tapi untung wira masih tergolong keluarga yg sederhana tidak seperti yg lain ,yg berada dibawah garis kemiskinan, ayahnya mantan pegawai negeri yg 2 tahun lalu meninggal dan sekarang keluarganya ditanggung pemerintah, ,sudahlah lebih baik aku solat magrib terlebih dahulusebelum waktunya habis karna insiden ini.
tak lama setelah selesai solat suster menghampiriku dan bertanya
     “kamu yang bernama reza bukan nak ?”
     “iya sus, saya sendiri “
     “pasian yg bernama wira tadi memanggil manggil namamu nak, mungkin ada yg ingindibicarakan padamu , kamu bisa menjenguk ke ruanganya kok nak”
     “baiklah dengan senang hati sus” lalu suster mengantarku kekamar dimana wira dirawat
     “ini ruanganya nak reza kalau butuh apa apa tinggal tekan tombol yga ada di sebelah kanan pasien saja ya”
     “iya sus terimakasih” segeralah aku masuk menghampiri wira yg terbujur kaku di tumpukan kapuk yg empuk milik rumah sakit ini dengan balutan perban dan sisa darah yg masih keluar dari tubuhnya itu.
     “wir lo kenapa wir bisa begini ?”
     “ini kerjaan joko sama ucup za, mungkin joko dendam karna gue pukul tadi sore”
     “brengsek memang joko biar kubalas dia nanti”
     “sudahlah za ,tidak usah biar Tuhanlah yg membalas mereka” terdiam aku mendengar jawaban itu, padahal ia baru ingin solat sama sepertiku tapi sudah bisa bicara agama seperti ini.
     “iya wir, kalo lo ga ngebela gue pasti lo ga akan kaya begini ya wir,sorry ya wir semua salah gue”
     “tidak kok za, ini sudah takdir Tuhan, gue sungguh berterimakasih sama lo karna gue mimpi sesuatu yg indah akan menyambut gue terang sekali cahayanya seperti cahaya lo saat ini za, terima kasih ya Allah kau telah memberiku pencerahan sebelum aku bertemu engkau” lalu ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
     tangisku tak terbendung saat itu, ibu wira pun datang dengan isak tangis yg luar biasa ternyata ia telah mengetahui itu bahwa pembulu darah wira ada yg putus akibat bacokan itu sehingga wira tidak bisa diselamatkan, lalu ibu iyem berbicara kepadaku dengan tangisan yg sangat mendalam.
      “terimakasih ya nak reza, di akhir hayatnya wira iya mau berusaha tobat walau belum sempat, tapi ibu yakin wira akan bahagia di alamnya”
      “tidak bu, ini hidayah dan pencerahan dari Allah yg datang tanpa kita ketahui darimana dan akan tertuju kepada siapa”
      “iya nak sekarang nak reza bisa pulang dan ibu sudah tahu siapa pelakunya dan sudah tertangkap pihak yang berwajib”
      “iya bu syukurlah semoga pelakunya bisa mersakan apa yg ia perbuat terhadap wira dan mau bertobat ya bu”
      “iya nak” aku keluar kamar meninggalkan ibu iyem dengan jenazah anaknya wira
      Diperjalanan pulang aku memikirkan kejadian hari ini kufikirkan anissa, ustad soleh, dan teman temanku, sangat sulit kupercaya pencerahan dan azab bisa datang kapan saja, dari siapa saja dan kepada siapa saja,sekarang joko dan ucup ada dirutan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, wira sudah pergi meningglkan dunia, anissa mungkin sibuk beribadah sambil belajar dan aku mungkin hanya sebuah bulan yang bersinar akibat pantulan matahari, lalu kembali memantulkanya kepada bintang bintang disekitar dan akan membuat malam ini lebih indah dari malam malam sebelumnya.




 O’iem Dos Santos
10 Oktober 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

Status itu, Nomor 2


Malam itu sudah pukul 7. Aku sedang duduk termangu memandangi layar handphone berharap ada sebuah chat. Ya, chat dari gebetanku, Putra. Kami baru saja menonton bioskop tadi sore. Ini kencan kami yang pertama setelah seminggu yang lalu kami berkenalan. Setelah selesai menonton dia mengantarkan ku pulang ke rumah. Lalu dia langsung bergegas pergi karena ada urusan katanya. Dia memang pria yang sibuk. Padahal sewaktu dijalan tadi dia berjanji akan mengabariku, tapi apa ini? Sudah 1 jam berlalu tak ada  satu pun chat darinya. Padahal aku sudah mengechat dan mencoba menelfon dia duluan. Tapi, tetap saja tak digubris dan dia tak ada kabar.

3 jam berlalu sejak dia mengantarkan ku pulang tadi, dia tetap tak ada kabar. Entah berapa ratus missed call yang sudah aku lakukan. Deg-degan yang tak terkira, keringat dingin pun mengalir di seluruh tubuhku. Sampai akhirnya handphone ku berdering. Dan ternyata itu dari Putra. Ah rasanya senang sekali seperti penantianku segera usai. Lalu aku pun buru-buru mengangkat telfon itu.

“Halooo!! Kemana saja sih put? Gila apa ya tadi katanya mau langsung kabarin aku.” kataku dengan nada marah.
“Maaf ya nao, tadi hp aku ketinggalan di mobil. Aku abis dari rumah temen. Sekarang aku udah mau pulang kok. Maaf ya” katanya dengan nada seperti orang tak bersalah.
“Ya tapi lain kali kabarin aku dulu. Jangan ngilang trus gini dong.” Ujarku dengan nada tambah marah dan penuh sedih.
“Yaudah maaf ya sekarang aku mau pulang dulu. Kamu tidur aja. Dah!”

Lalu ia menutup telfonnya seperti orang tak bersalah. Kemudian aku pun menangis penuh sesak. Padahal kami baru saja ketemu tadi sore. Baru saja dia memegang tanganku, memelukku, dan mengecup keningku untuk yang pertama kalinya. Tapi mengapa sudah begini? Tak bisa kupikirkan dengan akal sehatku. Yang ada aku makin menangis menjadi-jadi. Kemudian aku tertidur tanpa mengurusi kabar darinya lagi. Malam yang kelam pikirku.Keesokan harinya, kami sudah seperti tak ada masalah lagi. Sudah seperti biasa lagi, sudah bias bercanda, tertawa-tawa lagi. Seperti tak terjadi apa-apa. Apa mungkin karan aku sudah sangat jatuh cinta kepadanya? Entalah.

Hari demi hari pun berganti. Aku jadi semakin jatuh hati kepadanya. Dia sangat baik padaku, perhatian sekali. Semakin kesini, kami lebih sering bertemu. Tapi tetap kejadian seperti malam itu tetap saja sering terjadi. Yang aku pikirkan hanyalah mungkin dia terlalu sibuk, dan aku sudah menerima hal itu karna aku sudah jatuh hati sangat jauh kepadanya. Tak apalah pikirku, yang pentying aku bias terus sama dia dan aku sangat menyayanginya walaupun sebenarnya aku tak tahu dia punya rasa yang sama atau tidak kepadaku.


Sampai akhirnya di suatu siang yang terik di kantin sekolah, saat aku sedang makan dengan teman-teman sambil bercanda dan saling mencurahkan isi hati. Vika sahabatku tiba-tiba bertanya
“Nao gimana kabar lo sama Putra? Kan udah 2 bulan pdkt masa belom jadian juga? Cemen banget sih dia. Masa cowo gamau nembak”

Pertanyaan yang membuat makanan di dalam mulutu terasa pahit. Pertanyaan yang membuat hati ini seperti dicubit oleh guru BK sekolahku. Sakit sekali rasanya. Pertanyaan yang membuat aku berfikir dan tersadar. Bahwa aku dan dia itu apa, sudah 2 bulan kami seperti orang pacaran tapi tak punya status. Sudah 2 bulan kami dekat, kami mesra. Tapi rasanya aku seperti dipermainkan. Rasanya aku bodoh sekali. Atau mungkin memang dia yang tidak berani untuk menyatakan cintanya kepadaku? Atau mungkin yang paling menyakitkan apakah dia hanya ingin mempermainkan perasaanku saja? Entahlah. Yang pasti sekarang aku sedih dan rasanya aku ingin segera menanyakan hal ini kepada Putra.

Keesokan harinya di tengah kegalauan yang sangat mendalam, aku mengajak Putra untuk bertemu. Aku sudah tak tahan lagi menanyakan hal itu kepadanya. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di restoran cepat saji tempat kami biasa bertemu. Aku menunggu beberapa menit disana, ditemani minuman yang esnya sudah mencair. Akhirnya Putra pun dating dengan raut muka seperti orang habis lari-larian.
“udah lama Nao?” ujarnya sambil ngos-ngosan
“hemm lumayan lah satu jam”
“Maaf ya telat, tadi ada rapat osis dulu di sekolah hehe”


Kemudian ia duduk dan memesan makanan. Melihatnya lelah aku seperti ragu untuk membicarakan hal itu. Tapi aku harus gimana lagi, aku lelah kalau harus menungggu dan menjadi bodoh seperti ini. Biarkanlah aku malu. Mau gimana lagi juga, Aku udah sangat saying kepadanya. Aku ingin selalu bersamanya. Sampai ahirnya setelah beberapa menit berbasa basi aku membuka pembicaraan seriusku.
“Put sebenernya gini…”
“Apa nao? Apa Apa?”
“hemm kita kan udh 2 bulan deket ya”
“Iyaya udh 2 bulan. Gak terasa ya hehe”
“Tapi kok gak ada perubahan ya. Hehehe “
“perubahan apa maksud kamu?”
“Ya kita kaya gini-gini aja. Kita deket tapi engga pacaran, tapi kelakuan kita kayak orang pacaran. Kita apasih sebenernya? Aku gamau kalo ternyata kamu mainin perasaan aku. Aku tuh sayang sama kamu”
“Nao.. kamu kok ngomong gini. Aku juga sayang sama kamu.. tapi mungkin kita gabisa jadi pacar. Aku udah nganggep kamu seperti adek aku sendiri. Aku gamau nanti kalo pacaran kita pisah. Aku mau hubungan kita tetep, tapi konteksnya bukan pacaran nao. Maafin aku. Tapi emang kita gabisa pacaran.”
“Put.. ini jahat”
Lalu kemudian aku pun menangis tersedu-sedu…  sambil menunduk dihadapannya. Ternyata, semua yang ku harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin ekspetasiku terlalu tinggi. Mungkin juga Putra memang jahat dan mempermainkan perasaaanku saja. Sampai aku tak tahan lagi dan memutuskan untuk pulang. Dia tetap mengantarku walaupun di sepanjang jalan aku terus menangis dan dia terus meminta maaf. Aku sama sekali tak menghiraukan kata maafnya karena perasaanku begitu kecewa terhadapnya.
Tetapi.. hari demi hari pun berlanjut. Sejak hari itu Putra masih terus meminta maaf dan mencoba meluruskan semuanya. Tapi aku tetap jutek dan marah kepadanya. Aku sudah terlanjur sakit hati. Sampai akhirnya ketika aku curhat dengan seorang teman dan dia berkata
“Nao harusnya lo maafin dia. Kasih dia kesempatan.. siapa tau ending cerita lo bias berubah. Kalo gabisa juga ya memang cinta ga harus memiliki. Yang penting kan lo sama dia selalu ada, selalu mengisi satu sama lain. Sama-sama sayang.”

Mendengar itu… batinku tersadar. Aku tersadar bahwa cinta itu memang tak harus memiliki. Yang terpenting adalah 2 orang ini saling sayang, mengerti, menerima satu sama lain. Yang terpenting adalah dia bisa bikin kita bahagia. Yang penting kita bisa sama dia terus. Ah status itu nomor 2. Yang penting aku bahagia.

Akhirnya aku memutuskan untuk memaafka putra. Akhirnya aku member dia kesempatan untuk tetap bersamaku seperti kemarin-kemarin. Walaupun aku masih sangat kecewa karna akmi tidak jadian juga. Tapi tidak apa-apa lah. Aku bahagia sama dia. Aku pengen menghabiskan waktu selalu bersamanya. Toh hidup itu bisa berubah kok. Yang terpenting sekarang aku sama dia dan aku sayang dia. Status memang nomor 2.


 Bergas Agung

Senin, 08 Oktober 2012

ASUMSI MENJENGKELKAN



Qotir merebahkan tubuhnya yang hanya berbobot 60 kg ke atas kasur berselimutkan sprei berwarna putih dengan garis abu-abu. Warna sprei itu mengingatkan Qotir kembali ke masa lalunya bersama Lela, mengenang masa-masa indahnya menjalin hubungan di usia labil berpakaian seragam putih abu-abu. Qotir hanya tersenyum kecil. Pandangan ke arah langit-langit rumahnya seakan memberikan arti tersendiri. Seekor cicak yang kebetulan berada di tempat kejadian memasang wajah tanpa ekspresi . Ia bertanya-tanya jauh di dalam  hatinya yang lebih kecil dari tubuhnya. “Apa yang ada dalam benak makhluk raksasa yang memandangi dirinya itu?”. Ternyata cicak itu baru sadar bahwa ia dalam keadaan tanpa busana. Cicak itu pun lari menuju ruangan lain selain ruangan kamar Qotir. Sementara itu, Qotir masih tersenyum-senyum tanpa makna
Menjadi pasangan yang setia merupakan impian setiap pasangan.Baik laki-laki atau wanita, baik jantan atau betina, baik manusia atau hewan.Walaupun menurut Qotir, hanya buayalah satu-satunya hewan yang paling setia. Itu di karenakan Qotir sering melihat roti  berbentuk buaya dalam acara-acara pernikahan di keluarga besarnya. Kakek Qotir, Engkong Ali, mengatakan bahwa lambang hewan buaya dalam media roti menunjukan kesungguhan setiap pasangan dalam menjalin hubungan resmi di mata Tuhan. Itulah yang ingin Qotir tunjukan. MENJADI PASANGAN YANG SETIA. Tetapi kini, kesetiaan itu diambang krisis-krisis. Baik krisis kepercayaan, krisis akan suatu curiga, atau bahkan krisis ingin mendua.
“Tir,Qotir, makan malem dulu nyok! Nih emak udah masakin gulai kambing nih!” Teriak Bunaya, Emak Qotir, dengan suara persis seperti bintang film zaman dahulu, Mpok Nori, atau lebih tepatnya Emak Nori.
“Iye nyak!, ga usah pake teriak juga kali, ntar putus tu pita suaranye !” Jawab Qotir yang sedang menutup pintu kamarnya hendak menuju meja makan yang berada di tengah-tengah ruang keluarga
“Elu nyumpahin pita suare emak lu sendiri putus Tir? Durhake elu!”
Qotir hanya diam. Kesunyian datang menghampiri seisi ruangan sejenak untuk menghangatkan suasana makan malam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut pemuda kurus berambut jarang itu. Qotir yang memasang muka muram langsung melahap santapan yang ada di depannya. Nasi putih dengan lauk gulai kambing yang diatasnya ditaburi bawang goreng tidak membuat Qotir merasa baikan. Tampang Qotir tetap pada tahap awal ia duduk di kursinya. Bunaya sempat heran dengan sikap anak sulungnya. Perasaan Bunaya, ia tidak membubui masakannya dengan serbuk yang ada dalam pil, kapsul atau semacamnya yang bisa membuat orang terlihat ingin jatuh pingsan. Sudah dari lima hari yang lalu, Bunaya melihat tampang Qotir seperti ini, tidak biasanya Qotir bermuram durja lebih dari sehari. Tampang Qotir yang terlihat bagaikan buruh yang baru saja di pecat oleh atasannya karena alasan tertentu, membuat Bunaya ingin tahu apa sebab musabab Qotir terlihat seperti ini.
“Lu lagi ga enak badan tir?” Tanya Bunaya sambil memegangi kening Qotir dengan membalikkan kedua telapak  tangannya.
“Aye kaga nape-nape nyak, udah nyak ah Qotir pan lagi makan!”Qotir menjawab sambil menguyah nasi yang masih berada dalam mulutnya.
“Nyak cuman mau nge-cek doang barangkali lu kenape-nape, soalnya dari  seminggu kemaren mukelu begitu mulu!. Nyak khawatir ame lu. Ade perkare ape sih?” Bunaya kembali bertanya sambil membetulkan posisi duduknya kearah yang lebih serius demi mendengarkan penjelasan anak tercintanya.
“Kaga ade ape-ape nyak, kaga ada yang perlu di khawatirin, Qotir baek-baek kok!”
“iye, iye nyak tau lu baek-baek, badan lu sehat, tapi tampang lu itu tir. Ade ape sih tir? Hmmm…. Masalah lagi ye ama Lela?” Seperti seorang peramal ulung, Bunaya langsung bisa menebak akar masalah yang ada dalam pikiran Qotir, meskipun ia melakukannya secara tidak sengaja. Suasana tegang sesaat. Dua ikan Mas Koki yang berada di dalam akuarium belakang meja makan mereka berdua, menahan nafasnya sambil memandangi dua manusia yang berada di alam daratan dengan mata melotot dan mulutnya yang tidak bisa diam, membuka dan menutup. Mereka tidak sabar menunggu apa jawaban yang akan di lontarkan Qotir kepada Sang Peramal Ulung, Bunaya, emaknya sendiri.
Qotir sedikit terkejut sehingga ia menghentikan kunyahannya yang kesekian.Tapi suasana kembali tenang, atau lebih nyatanya suasana tegang.  Qotir tidak habis pikir, emaknya yang sudah berusia kepala tiga itu bisa menebak  asal muasal kenapa ia memasang muka muram dari lima hari yang lalu. Mendengar jawaban emaknya yang sedikit mengejutkan satu ruangan keluarga yang pada momen itu hanya dihuni dua manusia, Ibu dan anak, Qotir sebagai pemegang peran anak, tidak menjawab sepatah kata. Ia lebih memilih bungkam soal Lela, apalagi kalau harus menceritakan kepada emaknya. Pasti nasihatnya, “Tenang, jodoh ga bakalan kemana” atau seperti ini, “Cinta itu tidak memandang jarak, ruang, rupa, bahkan kedudukan.”Tetapi dengan aksen Betawi pinggiran, dan seperti biasa, nada ala Emak Nori
Sudah banyak cerita tentang kekasih Qotir yang satu ini. Lela, anak tunggal dari seorang ketua RW 08 Kampung Situ, Bapak Dayat, tidak lebih dari gadis seperti gadis-gadis yang lainnya. Perempuan berdarah sunda-betawi ini mulai memancarkan sinar kecantikannya ketika ia berusia 15 tahun, atau ketika ia mulai memasuki masa-masa SMA. Para lelaki di kampungnya, mulai dari yang berhidung normal sampai yang berhidung belang, dari yang berusia sebaya dengannya sampai yang sudah berusia sama dengan usia NKRI, telah dipikat oleh kemolekan dan kecantikan gadis Bapak Rukun Warga Kampung Situ ini. Ayahnya, yang dulu hanya bekerja sebagai wiraswasta yang berpenghasilan tidak tetap, ikut merasakan manfaatnya mempunyai gadis belia yang cantik nan jelita seperti Lela. Popularitasnya sebagai warga Kampung Situ dari hari ke hari makin meningkat, seperti data statistik kemiskinan di suatu negara antah berantah bernama Indonesia. Pada pagi hari, siang hari, atau malam hari, ada saja orang yang bertamu kerumahnya hanya demi bertemu dengan anaknya, Lela. Mereka bahkan ada yang membawa bingkisan seperti kue-padahal bukan suasana lebaran-, sarung dari Mekah,-bagi mereka yang baru pulang umroh atau haji-, dan sebagainya yang tidak bisa di sebutkan karena barang-barang tersebut dijual kembali oleh ayahnya yang berjiwa entrepreneurship sejati. Bahkan pada suatu hari, ketika ketua RW yang lama sudah hampir habis masa jabatannya karena umurnya yang sudah terlalu kematangan, banyak warga-terutama para lelaki-, yang mencalonkan Bapak Dayat sebagai ketua RW yang baru untuk memimpin kampung mereka, Kampung Situ.  Tentu saja kalau ditanya apa alasan mereka semua mencalonkan Bapak Dayat sebagai ketua RW yang baru, pasti semua warga -terutama yang laki-laki- kompak mempunyai alasan yang sama.
Memasuki usia ke 17 tahun, tepat pada usia transisi antara remaja menuju dewasa, Lela mulai dikenal seluruh kampung. Ia mulai dincar oleh banyak laki-laki kaya dari kampung lain untuk dijadikan aset berharga. Semua berlomba-lomba mengisi kekosongan hati Lela dengan cara apapun. Tetapi anehnya, dari sekian banyak pemuda bahkan sampai yang dulunya dibilang pemuda, Lela hanya tertarik oleh satu pemuda saja. Pemuda yang satu sekolah dengannya di SMAN Baru Jakarta, pemuda dengan pembawaan cuek, easy going, dan sedikit apatis itu berambut jarang alias botak. Sikap kritisnya akan sesuatu telah merobek hatinya dalam pandangan yang berbeda.  Meskipun tidak tampan seperti artis-artis zaman sekarang, Lela berani bertaruh bahwa ia tidak salah berpacaran dengan pemuda yang hanya mempunyai berat 60 kg dan tinggi 179 cm. Pemuda yang bernama lengkap Muhammad Qotir Makjub lah yang telah merebut kesempatan para pemuda lainnya dan para veteran dari kampung-kampung lain yang ingin sekali menjelajahi kecantikan alam dari seseorang bernama Lela.
Peristiwa awal dari perjalanan kekasih ini bisa di bilang hebat. Bahkan salah satu murid yang pada saat itu menjadi saksi penembakan Lela oleh Qotir, Japra, akan mengadaptasikannya dalam sebuah novel yang Insya Allah akan terjual habis atau best seller ketika di terbitkan. Qotir memang telah menyukai Lela ketika mereka berdua satu kelas pada saat kelas 11. Buat Qotir sendiri, menjadikan Lela sebagai pendampingnya akan membuat dirinya terkenal satu sekolah. Walaupun ini bertentangan dengan perwatakannya yang apatis itu. Tapi apa boleh buat, pedang sudah dicabut, Qotir tinggal menentukan kearah mana ia akan menusukkan pedangnya agar Lela jatuh terkulai lemas di hadapannya. Dan disinilah awal peristiwa hebat itu terjadi. Dengan gagah berani bak seorang Spartan yang akan melawan ratusan tentara Persia, Qotir mulai menunjukan sisi lain dari kelebihannya. Bermodalkan bunga mawar yang hampir layu karena di beli dengan harga murah, Qotir mulai menancapkan pedang gaib di hati Lela dan seraya berkata “neng, mau ga jadi pacar abang? Ntar kalo neng nerima, abang janji bakalan setia deh!”.Satu kelas terdiam menahan tawa, air mata jenaka siap turun menuju daratan yang berlapisi keramik tanpa muara. Mereka semua tidak bersorak kegirangan.Tidak terpikir dalam otak mereka, Qotir menembak Lela tanpa rayuan atau basa-basi, langsung ke intinya. Seakan terhipnotis dengan kata-kata pemuda botak itu, Lela hanya mengatakan satu  kata,-dan aneh jika di bayangkan oleh seisi kelas dengan 39 murid didalamnya-, “YA!”.  Itulah jawaban Lela kepada Qotir -entah dalam keadaan sadar atau tidak ia menjawabnya. Lama kelamaan Qotir mulai merasakan keganjilan, Mengapa mereka semua hanya diam saja?.Semua kelas hening cukup lama ketika Qotir melakukan aksi yang bisa dibilang nekat. Sino, Buyung, Entin, dan Rozak menutup mulut mereka dengan buku tulis yang ada di depan meja mereka masing-masing sambil bersuara kecil mencoba menahan tawa yang ingin keluar penasaran. Kodir bisa di bilang paling parah.Belum sempat Lela menjawab pertanyaan isi hati Qotir, anak tukang siomay itu sudah tertawa lepas dengan mulut menganga yang didalamnya terdapat sekitar dua puluh gigi yang letaknya tidak beraturan. Setelah kelas cukup lama sunyi akibat insiden langka tersebut, beberapa menit kemudian seisi kelas bersorak dan berteriak. Salah seorang murid ada yang melemparkan buku mereka ke atas, ada juga yang menaiki meja sambil bereteriak “Amazing Qotir, Capucinno buatanmu,  Numero Uno” . Entah aksen apa yang dipakai oleh anak tersebut tetapi kini Qotir puas dan lega, sekarang ia tinggal menikmati hasil jerih payahnya.
Memang hubungan Qotir dan Lela tidak selalu berjalan dengan apa yang mereka berdua harapkan -terutama bagi Lela yang menganggap Qotir sebagai pria yang berbeda dari yang lainnya-, ada saja gunjingan dari pihak sana sini, terutama gunjingan soal Lela yang notabennya selalu diinginkan setiap laki-laki. Bahkan ada suatu sindiran ketika mereka sedang berjalan pagi mengelilingi Komplek Senayan
“eh coy ada cewe cakep tuh!” kata orang pertama dengan mata yang terpaku melihat Lela
“iye cakep, tapi sayang ada monyetnya!”
Dengan spontan Qotir menengok kebelakang dan menghampiri dua orang tersebut sambil memberinya pelajaran dengan tangan kanannya yang mengepal penuh amarah.Keributan tidak bisa dihindari.Tapi sayang, Qotir kurang beruntung dalam keributan itu. Lela sebagai pacarnya, menenangkan Qotir dengan memberinya wejangan-wejangan, tapi wejangan yang diberikan kepadanya, menurut Qotir sangat menggurui. Ini yang tidak disukai oleh Qotir, Qotir sontak melepaskan kata-kata yang lebih dari menggurui kepada Lela. Di sinilah awal mula krisis-krisis akan perpecahan itu terjadi. Lela yang sangat amat mencintai Qotir hanya bisa diam, ia tidak mau menyeret dirinya kedalam kubangan yang akan membuat hubungan mereka pecah. Tidak hanya di tempat umum, di lingkungan sekolah pun, kedua pasangan ini selalu dihantui gosip yang bergentayangan, anehnya gosip itu selalu menggentayangi Lela, bukan Qotir.Wajah Lela yang masih cantik meski sudah mempunyai pacar dengan wajah biasa saja, membuat para laki-laki di SMAN Baru Jakarta, sekarang berlomba-lomba menjatuhkan Qotir demi memperbaiki citra Lela sebagai perempuan.
Kegeraman Qotir hampir mencapai puncaknya, tapi ia tidak mau melepaskan Lela begitu saja, tetapi ia juga tidak mau nama baiknya diinjak-injak hanya karena ia berhubungan dengan Lela. Lela yang mendengar gosip itu, tidak peduli, rasa sayangnya masih sepenuhnya kepada Qotir meski Qotir  selalu menuduhnya dengan asumsi yang tak masuk akal. Sekarang Qotir  hanya sibuk dengan keapatisannya sendiri. Hubungan mereka kini mulai diuji oleh Tuhan, atau oleh Syaitan. Dulu -seminggu sekali- Qotir selalu mengajak Lela melakukan aktivitas bersama-sama. Baik itu diskusi, belajar bersama, atau hanya sekedar nongkrong meminum secangkir kopi. Tetapi kini aktivitas itu hanya menjadi sebuah cerita yang tidak pantas lagi untuk di ceritakan. Qotir hanya sibuk dengan kesibukannya.Sifat cuek, easy going, dan apatisnya, membawanya jauh kedalam jurang keambiguan.
Dua Tahun menjalin hubungan bukan hal yang mudah , terutama bagi Qotir dan Lela. Sekarang mereka berdua telah lulus dari SMA. Seperti murid-murid lainnya, Qotir dan Lela saling berjabat tangan sambil bertukar pandang. Pandangan yang menurut Lela telah menyejukkan hatinya kembali setelah hampir 12 bulan tersesat dalam pencarian jati diri Qotir, pasangannya. Pandangan yang juga telah menghangatkan badan Qotir setelah sekian lama membeku dalam keapatisannya. Ujian yang sesungguhnya akan terjadi di sini. Ketika Lela merencanakan kuliah di luar Kota, tepatnya di Universitas Brawijaya, sedangkan Qotir yang lebih memilih kuliah di Jakarta, tepatnya di Universitas Negeri Jakarta. Mereka berdua seakan mengibarkan bendera perang kembali. Walaupun Lela berjanji bahwa ia akan pulang ke Jakarta pada akhir Desember tetapi percecokan diantara keduanya kini benar-benar tidak dapat di hindari. Jalan keluar akhirnya sudah diambil. Musyawarah mufakat telah disepakati. Lela senang akan keputusan Qotir yang terus melanjutkan hubungan mereka -meskipun hubungan jarak jauh. Lela langsung memeluk Qotir dengan erat. Qotir tidak bisa berkata apa-apa.Mulutnya seakan tertutup rapat di retsletingi oleh bibirnya sendiri. Bisa dibilang ironis, karena ini pertama kalinya mereka berpelukan selama 2 tahun berpacaran. Qotir segera melepaskan badannya dari pelukan hangat Lela. Mereka berdua telah berjanji akan terus mempertahankan hubungan ini, meskipun Qotir masih berat menerimanya. Sangat Berat.
Suara motor Satria F melaju kencang dari arah Universitas Islam Negeri Jakarta menuju  Bogor. Angin malam ikut melaju dengan membawa hawa dingin yang seakan menusuk kedalam tubuh hingga ke hati pengendara motor yang berjaket kulit tersebut. Mobil ambulan dari arah berlawanan meluncur cepat dengan suara sirenenya yang tiada henti, mencoba memberitahu pengendara lain bahwa akan ada satu nyawa lagi yang akan melayang didalam mobil itu.Dari dimensi lain, malaikat pencabu nyawa membututi dari belakang mobil ambulan, dengan jubah serba hitam dan membawa tongkat, ia siap melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya. Sementara itu, pemuda yang membawa motor Satria F menambah kecepatan laju motornya, suasana sepi kota Pamulang membawanya ke dalam lembah kesendirian menuju kota hujan, Bogor. Dari dalam helm, raut wajah terlihat abstrak, marah, sedih, gelisah, bimbang, dan rindu melanda dan menerpa wajah pemuda yang semakin menambah laju kecepatan motornya.Sebelum berangkat, ternyata ia dalam keadaan hampir meledak, kepalanya makin mengeras, tanganya mengepal tinju yang siap menghantam apa saja yang ada di depannya. Kekasihnya yang berada di kota apel, Malang, ternyata sudah lupa akan dirinya. Pesan, telepon, tidak pernah di jawabnya walau hanya satu kata.Ia berasumsi bahwa kekasih jarak jauhnya kini telah asyik bersama pria lain yang lebih mapan, tampan,  dan intelek daripada dirinya. Asumsi dari dirinya sendiri itu makin membuatnya geram bercampur kangen.Geram ingin memukuli pria itu jika benar adanya, kangen ingin memeluk kekasihnya yang telah lama jauh dari dirinya. Suara motor melaju makin kencang, keramaian mulai terlihat di depan, tetapi hatinya masih sepi sunyi.  Suara hanphone berbunyi dibarengi dengan getaran, ia kaget, sangat kaget, roda motornya yang masih melaju kencang tidak mampu menahan rem yang telah ia tekan dengan jemari tangan kanannya. Ban depan motornya berdecit, mengeluarkan sedikit bunyi bahwa pertanda buruk akan terjadi, sedangkan ban belakang masih memutar kencang. GUBRAKKKKK!. Pemuda itu terhempas ke tanah dengan helm yang terlepas  jauh dari kepalanya. Belum sempat ia berteriak kesakitan, ia langsung tersungkur. Ia tak sadarkan diri selama beberapa saat. Kemudian, dengan sisa tenaganya, ia langsung mengambil handphone dari saku jaketnya. Matanya yang sipit akibat berbenturan dengan aspal jalan masih melihat-lihat kearah layar handphonenya. Satu pesan dari seseorang bernama Lela. ”Tir, aku sekarang udah di Jakarta, kebetulan sekarang aku mau maen kerumah kamu. Mau curhat banyak tir. Boleh ya?”. Pemuda itu kemudian menaruh handphonenya ke dalam sakunya kembali, pesannya tidak ia balas. Selang beberapa menit,  keramaian dan mobil ambulan datang menolong pemuda malang yang hampir tidak terselematkan itu. Roda ambulan melaju pelan dibarengi dengan sirene yang akan segera berbunyi pertanda bahwa akan ada satu nyawa lagi yang tidak akan terselamatkan. Di dalam ambulan, pemuda itu berbaring dan melihat samar-samar kekasihnya yang bernama Lela duduk disampingnya didampingi pria asing berjubah hitam. Mobil ambulan pun pergi meninggalkan tempat dibarengi khalayak yang masih ramai memperbincangkan kronologi kejadian itu. Beberapa saat, Malam kota Pamulang kembali sunyi.



Deni

Senin, 01 Oktober 2012

Sambungan Paranoid Posesif


Bila ini kenyataan tentu ini menyakitkan, untungnya ini hanya cerita  fiksi alias rekaan semata dan objek bila ada mungkin sudah di telan bumi atau tak pernah ada dalam kehidupan,,

Waktu ku telepon katanya ia sedang berada di  kota B ada kerjaan katanya, seperti akhirnya Ia tak lagi seperti dahulu yang selalu memberitahu pada ku bila ada kerjaan keluar kota, aku bertanya dalam telepon yang selalu akhirnya tidak mudah untuk percaya akan kata-katanya, kerjaan biasa katanya, tentang kegiatan mantan menteri yang sekarang sibuk dengan LSM nya,mendadak meyakinkan dia di seberang sana dalam telepon. Dan segera mencari alasan untuk memutus hubungan telepon, karena ingin segera istirahat karena besok harus bangun pagi, waktu memang sudah menuju setengah satu ketika ku memulai percakapan telepon, tidak lebih dari 5 menit dia hentikan sambungan telepon tanpa pulsa ini.

Aku pun harus puas dengan kurang dari 5 menit telponku  padanya, aku coba memutar musik, mengalihkan semua kekecawaanku, tetap tidak tertidur diriku, lalu kirimkan teksku padanya, tulisannya agar selalu mengabari aku, begitu rindunya diriku akan kabar darinya.

Ternyata semua tidak membuatnya bergeming, entah ada apa yang terjadi di sebrang sana, benarkah dia ada di sana, benarkah dia tidak bersama lelaki yang lain, begitu sesak rongga dada, kepala menjadi penat semua meikirkan dirinya, seolah tak ada lagi yang lebih penting selain memikirkannya di malam ini, asap terus keluar dari rongga dada melepas terus keluar, berbatang-batang rokok tak cukup menyesakan paru-paru. Teringat majalah yang menuliskan artikel, jangan sepelekan felling anda, bisa jadi itu suatu kebenaran, begitu artikel itu mengabarkan, dulu juga pernah ku kutip quote yang entah dari siapa ku lupa tapi mungkin bunyinya, perasaan adalah kebenaran dari Tuhan.  

Hari sudah pagi kopi dan sebatang rokok hanya sekedar untuk menyegarkan pikiran ku yang kusut, sudah jam 9 pagi kembali ku dapatkan telepon ku langsung memutar nomornya, sampai 5 kali tapi tak diangkat olehnya, ku berhenti menelponnya, 40 menit kemudian, kembali ku coba hubunginya, 6 kali baru di angkat teleponnya, ketika ku Tanya kenapa tak di angkat, katanya di kamar mandi,, lalu ku Tanya kembali katanya pagi berangkatnya sekarang sudah jam 10 kok baru di kamar mandi, acaranya di undur jawabnya, tak lebih dari 30 detik kemudian dia memutuskan telepon katanya harus segera berangkat,, aku pun berangkat,,
Sampai di Kantor, aku pun seperti biasa, melakukan rutinitas yang selalu saja membuatku tak bersemangat , kadang aku benci dengan diriku sendiri yang tidak mudah untuk bisa menikmati rutinitas keseharianku, jam setengah 1 siang, ku coba hubungi kembali dirinya, langsung di angkat di seberang sana berkata kalau ia sedang berada di jalan menuju tempat liputan, aku diam saja bila mengingat kabar terakhir darinya, segera mau masuk gedung, kembali telepon di putuskan, jangan lupa kabari aku yah,, pesan ku terakhir,, dan kata iya terdengar sayup dari seberang sana.

Aku adalah orang ambisius, aktif cerdas dan mungkin masuk katagori sangat pandai, kadang aku lebih mampu menganalisa lebih tajam dan lebih aseli dari pada kolegaku, dan teman-temanku, ini bukan sebuah kesombongan karena ini tidak lebih dari sekedar kenyataan, Aku juga masuk dalam katagori tampan, berselera pakaian yang selalu bisa menarik orang di sekitarku, karena aku memang benar pemilih dalam berpakaian, dan tidak sedikit aku merasakan perhatian yang lain dari lawan jenis , tapi aku menutup diri, karena aku juga hidup dalam kenaifan kesetiaan, sebagai pelampiasannya aku adalah pecemburu yang kacau. Tetapi aku selalu tahu di mana aku harus mengedepankan rasio atau tepatnya terlalu pengecut membuat keputusan, jelas sudah ketidak sempurnaan ku adalah, aku adalah bagian dari kumpulan manusia yang naif , yang biasa mati di medan laga pertempuran karena keberanian yang gelap, bunuh diri karena tak mampu membedakan logika dan fakta.

Sampai besok pagi tak ada kabar darinya,, dan malam harinya baru ku kembali menelpon tak di angkat,, ku kirimkan teks tak di jawab,, tapi di baca olehnya,, ada apa sebenarnya di seberang sana,,  tengah malam dia membalas textnya ,, katanya dia habis minum bersama temannya di bandung,, dan sekarang sedang mabuk,, ku telpon, hanya orang meracau di seberang sana, ini belum cukup gila ternyata, aku pun kembali di buat bodoh, pikiranku berputar terus, aku menjadi tak percaya dengan semua ceritanya, hari sudah beranjak pagi mataku belum juga terpejam terus saja memikirkannya yang sama sekali aku tak di pikirkan olehnya,
Sampai di sini wajar kalau aku mempertanyakan akal warasku, di mana letaknya, aku bukan orang yang dungu, aku bukan orang yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tidak bisa puas dengan jawaban-jawaban bodoh, kebohongan-kebohongan yang tidak berbakat, aku merasa di lecehkan oleh kebohongan yang tidak lengkap, aku merasa di perlakukan seperti orang dungu, memang sungguh keterlaluan, entah di mana akal waras ku dapat menerima semua ini tetap berlangsung. Aku merasakan kebusukan sedang terjadi.

Paginya kembali ku coba menelponnya tak di angkat, aku pun berangkat ke kantor, kembali meneruskan rutinitasku jam 12 siang kembali ku coba menelponnya sampai 7 kali baru di angkat olehnya, aku bilang padanya kalau aku baru saja menelpon kantornya yang padahal aku tak melakukannya, kalau berita dari kantor tidak ada kerjaan di B dan tak ada agenda dengan LSM itu, berita apa yang ku dengar dari sana suara pun meninggi, lancang banget lo,, itu kata pertama darinya,, emang lo siapa,, emang lo pikir lo siapa,,  (aku orang yang bertahun-tahun bersamanya) ya lo gue bohongin, puas lo,, WHAT,,,, tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt,,,,

Aku terkejap, benar terkejap.. siapa sebenarnya orang di seberang sana, yang suara dan nomor telponnya tetap sama dengan perempuan yang bertahun mengisi kehidupanku, walau memang ini bukan sebuah kejutan yang baru, tetapi aku begitu tertusuk dengan pragmatisme dan ketidak perdulian kesetiaan terhadap pasangan, apa jadinya bila manusia menjadi seperti ini, tidak tahu di mana harus berhenti mengakui melakukan sebuah kesalahan, malah semakin masa bodoh, seolah hidup esok hari tidak penting lagi, dan belum selesai.

 Masih belum puas dirinya ternyata, dia posting foto dirinya bersama seorang lelaki bule dengan pose mesranya,, di halaman sosialnya,, entah motivasi apa yang terjadi dalam pikirannya dan di manakah teman-teman berpikirnya, begitu ceroboh dan kembali masa bodoh dalam waktu tidak lebih dari matahari bersinar, saya pasti berhadapan dengan orang yang terlalu berlebihan, tanpa perasaan,, dan apa yang terjadi, dia perempuan yang sudah bertahun- tahun bersama ku,, walau akhirnya di tahun ini selalu saja menghilang secara tiba-tiba, dan aku selalu mengetahuinya,, dan selalu saja bisa memaafkannya, dan aku benar-benar membenci diriku saya benar-benar harus membunuh diriku untuk menghindar dari semua ini.

Aku bersumpah pada diri ku bahwa ini adalah hal terakhir dan benar-benar terakhir dari semua kekecawaan yang berulang-ulang darinya, aku tidak akan memaafkan semua ini, aku bersumpah hubungan ini sudah selesai, dan tak ada lagi toleransi.  Esok sampai di Jakarta, dari liburan senang-senangnya, yang dalam imajinasinya adalah bekerja bertemu klien,, aku pun memaafkannya, dan aku pun melupakannya, mencintai sepenuh hati seperti tak pernah ada badai yang terjadi.

Akhirnya cerita tiada asalnya ini harus berakhir,, semoga cerita begini tidak pernah terjadi,,



FN 27
   

Jumat, 28 September 2012

Penjaga Toko Souvenir




       Sejuk sekali udara pagi yang kuhisap dipulau ini, pulau yang biasa disebut dengan pulau dewata ini , seluas mata memandang terdapat gambaran pemandangan yang sangat indah. Suasana pantai yang sangat alami dan hembuasan angin yang langsung membawaku dalam kesejukan. Senang sekali rasanya mendapat tugas kerja dipulau ini, walaupun aku lebih suka mengajar dijakarta tapi sudah menjadi tugas seorang guru untuk mengajar dimana saja maklum aku masih honorer baru juga lulus setengah tahun lalu, lagi pula ini permintaan temanku untuk menggantikanya mengajar disini karna ia sedang ada urusan. ya terima saja,lagipula ini hanya untuk dua bulan saja dan aku bisa kembali lagi kejakarta.
***
   Disaat kedua kakiku melangkah berjalan menuju pantai tiba tiba pandanganku tertuju kepada seorang wanita yang sedang menyandarkan bahunya di sebuah kursi yang lumayan panjang di depan sebuah toko souvenir. Aku terus memandanginya seperti pernah kulihat wanita itu , tapi aku lupa siapakah sebenarnya wanita yg sedang duduk didepan toko souvenir itu, aku terdiam dan terus memikirkanya.
Aha.. aku ingat ternyata dia adalah temanku dibangku SMA sewaktu itu kami memang tidak pernah sekelas tetapi sudah saling mengenal.
Kuhampiri dia dan diapun melihatku agak tajam seperti sedang mengingat ingat bahwa aku ini siapa. Dan ternyata benar kami memang sudah saling kenal.
“kamu cristy widyani kan siswi SMA 91 ?”
“iya.. hmm  lo siapa ya ?”
“gue mancung, lupa ya ?”
“oh iya si mancung..  hmm nama asli lo prastio kusuma kan ? siswa yang selalu dipanggil ke ruang BK itu, hehe”  jawabnya dengan sedikit tertawa.
Ketika SMA aku memang sering dipanggil oleh Ibu Guru ke ruang BK karna kebiasaan ku yang selalu telat padahal aku selalu sampai sekolah tepat waktu, tapi aku selalu mampir ke warung terlebih dahulu sekedar menghisap satu batang rokok sebelum ke kelas, maka dari itu aku sering sekali dipanggil.
“haha.. sudahlah itu kan dulu sekarang kan sudah berbeda” jawabku dengan agak malu ketika ia mengungkit masa laluku yg buruk itu.
“oia, ngomong ngomong lo lagi ngapain ty disini, ada janjian ya ?”
“tidak pras hanya sekedar mencari angin saja di dalam pengap sekali”
“hmm elo kerja toko souvenir ini apa sedang belanja ty ?”
“gue kerja di toko souvenir ini pras”
“lah, bukanya elo kuliah ty ,hmm kuliah sambil kerja ya ?”
“tidak pras” jawabnya lesu dan tidak  lama kemudian tiba tiba air matanya menetes
“eh kenapa ty, maaf gue salah nanya ya ?” tanyaku heran
“tidak kok pras, hmm gue belum cerita sama siapa siapa mungkin”
“cerita apa ty”
“iya awalnya gue kemari memang buat kuliah, tapi ketika awal semester 3 semua berubah”
dan ia kembali meneteskan air matanya lagi hingga matanya memerah, tidak lama kemudian ada seorang lelaki keluar dari toko souvenir itu entah pemilik atau hanya atasannya dan berteriak dengan nada kasar.
“cristy ! sedang apa kau diluar,didalam sedang sibuk bukanya kerja membantu yang lain malah duduk bersantai diluar , cepat masuk !”
“iya bli,aku segera kedalam”
ia mengambil secarik kertas dari sakunya dan berkata
“tulis nomer HP lo ya pras,nanti lipat dan letakan saja dibawah kaki kursi ini nanti akan aku ceritakan semuanya ”
kuturuti permintaanya seperti sedang terhipnotis olehnya, dan sedikit binggung tentang apa yang terjadi padanya, 4 tahun yang lalu ia meniggalkan Jakarta dan tinggal di bali untuk kuliah tetapi saat kutanya kuliah, dia jawab tidak. ya sudahlah nanti juga aku akan tahu karna ia sudah berjanji akan bercerita kepadaku, mending aku ketempat tujuan pertamaku yang sudah kurencanakan sejak masih dijakarta yaitu ke pantai kuta,pantai yang dipenuhi wisatawan asing itu.
***
    Matahari sudah terletak dimana hanya butuh sekitar 5 menit lagi sebelum ia tenggelam, dan aku pun bersiap pulang ke rumah kontrakanku yang kutempati disini, diperjalanan pulang kudapati seorang penjual bunga bunga  dan kubeli beberapa tangkai mawar untuk menghiasi kontrakanku yang masih sangat asing bagiku karna aku masih baru menempatinya. Tak lama kemudian HP ku berbunyi mungkin ini sms dari cristy dan ternyata benar,dia mengatakan “pras ini aku cristy ceritaku terlalu panjang untuk diceritakan disms, sebentar lagi toko tutup dan aku sudah bebas dari kerjaan jika kau mau menemui aku,aku ada di kursi panjang dekat toko ku ini kok” tanpa pikir panjang aku langsung pulang untuk sekedar mengganti pakaian, meletakan belanjaanku dan langsung menuju toko souvenir tempat cristy bekerja, aku berjalan dengan penuh pertanyaan besar dan sangat penesaran tentang apa yang menimpanya dan tak lupa kubawa setangkai mawar yang kuharap dapat menghiburnya. Kudapati Cristy sedang duduk sendirian sambil memainkan HP miliknya.
“hai cristy, sudah lama ya ?”
“eh pras, ngga kok ,gue pikir lo ga dateng pras abis sms gue ngga lo bales sih”
“hehe datang kok gue ty, buktinya gue ada disini hehe, iya lagi ngga ada pulsa nih”
“oia hmm tadi yang mau lo ceritain itu apa ty ?” tanyaku lagi masih penasaran
“oh iya maaf tadi terpotong karna bos ku keluar ”
“oh itu bos mu ty pantas saja sok ngatur gitu kalo Cuma pegawai biasa sudah kuhajar dia hahaha”
“hahaha bisa aja kamu pras, oia sebenernya ini masalah pribadiku dan baru kau lah yang aku ceritakan ,sebenarnya aku dulu memang kuliah tapi hanya 2 semester, karna perusahaan ayahku mengalami kerugian yang sangat besar sehingga mengakibatkan perusahaan Ayah, rumah kami dan harta benda kami disita oleh bank, Ayah tidak memberi tahu aku soal itu, tiba tiba saat uas namaku tidak terdaftar karna belum menyelesaikan registrasi, barulah aku tanyakan pada mereka dan mereka baru mau angkat bicara tentang yang terjadi sungguh sulit mempercayainya, sebenarnya mereka ingin mengembalikan aku kejakarta tapi mereka tidak memiliki uang sama sekali dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari, keluarga ayah disini pun begitu hanya pas pasan sehingga menetaplah aku disini bertahun tahun, untung aku disini tinggal bersama saudaraku, kalau tidak ada mereka mungkin sudah menjadi orang pinggiranlah aku ini”
sungguh malang nasib gadis ini padahal ia jauh jauh kepulau ini untuk menuntut ilmu sampai menjadi sarjana ,tapi hanya menjadi seorang pegawai toko souvenir.
“gue turut perihatin ty atas musibah yang menimpa keluarga lo, mungkin ini sudah takdir yang kita harus terima dan roda kehidupan yang terus berputar, ya terkadang kita berada di atas dan tiba tiba bisa langsung turun berada dibawah”
“iya pras tapi jujur gue kangen banget sama Ayah dan Ibu gue ,kerjaan gue gajinya minimalis banget pas pasan buat biayaan belanja makan, ya buat dukumpulin masih lama banget, oia elo sendiri pras bisa ada disini, lagi liburan ya ?”
“ngga kok gue lagi gantiin temen gue ngajar di sini”
“oh lo jadi guru ya ?hahaha”
“kenapa ty kaget banget dah kayanya ?”
“iya abis siswa yang paling bandel kaya lo bisa jadi guru pras hahaha”
“haha itu kan dulu sekarang ya sekarang, oia gue Cuma 2 bulan doang kok ty, hmm kalo lo emang bener bener mau balik ke Jakarta bareng gue aja nanti masalah dana gampang”
“ah serius pras, gausah lah nanti ngerepotin”
“gapapa kok mumpung gue ada rejeki lebih”
“serius pras ?”
“iya cristy widyani”
“terimakasih banyak ya pras”
“eh tapi ada syaratnya ty”
“apa pras syaratnya ?,udah seperti kuis saja ada syarat syarat segala”
 “ngga ribet kok cuma selama 2 bulan gue tugas disini lo musti temenin gue ya, biar ga kesepian gue ty hehehe”
“haha kirain apaan ,oke deh bos !”
“oia nih ada mawar buat permintaan maaf gue tadi siang karna udeh buat lo ngeluarin air mata lo”
“ah ada ada aja lo pras gue aja udah lupa kok”
“gapapa simpan aja buat lo, kan jarang jarang gue ngasih mawar ke elo ty,oia udah malem nih ,mau gue anter pulang ga ?”
“boleh boleh”
kuantar dia pulang kerumah bibinya tempat ia tinggal yang kebetulan tidak jauh juga dari kontrakanku jadi tidak kesepian lah aku disini dilingkungan tempat tinggal baru ku ini, senang sekali rasanya telah membantu menenangkan masalah hidupnya yang mungkin selama ini membebaninya dan terus mengganjal difikiranya .



O’iem dos santos 

Jakarta 25 September 2012

Selasa, 25 September 2012

Sebilah Simbol Ksatria



Jembatan bintang-bintang malam bagiku sekarang terasa lebih asing malam ini, lebih kelam dari malam yang biasanya. Meski mereka berdansa riang di atas kepalaku.
                “Bintang-bintang itu indah sekali” ucap Ibuku memandang langit di kejauhan.
                “Tidak lebih indah daripada saat kita duduk bersama Ayah” balasku lirih, “Seandainya para kompeni itu tidak menembak mati ayah di medan pertemp…”.
                “Sudah cukup! Ayahmu telah memilih jalannya untuk berjuang, tak usah kau ungkit kembali!” suara keras Ibu mengguncang seluruh tubuhku hingga terdiam. Suasana hening terasa menggelayuti kami berdua, tak ada yang berkata.
                hingga, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari kejauhan. Kulihat di atasnya duduk tubuh sesosok manusia yang diliputi kegelapan seakan menunduk, entah mungkin tengah terluka.
                “Astaga ada orang terluka!” teriakku.
                “Dimana?!”.
                “Itu!” segera kuambil langkah seribu menyambut tubuh lunglai yang akan ambruk menghujam rerumputan tanah.
“Astaga, kompeni!” kuambil sebilah golok dari sarung di pinggangku, kuarahkan di atas lehernya.
                “Apa yang kau lakukan?” terdengar suara Ibu berlari menyusulku.
                “Dia kompeni, bu!”.
                “Jangan kau bunuh dia! Kau adalah seorang ksatria, tak lebih buruk jika kau membunuhnya”.
                “Tapi bu!”.
                “Bawa dia ke dalam rumah”.
                Kutarik golok yang kuarahkan di lehernya.
                “Cepat bawa dia, apalagi yang kau tunggu!”.
                Beribu pikiran berkecamuk dalam kepalaku, amarah dan bau hawa ingin menuntut dendam terus memecut seluruh jiwa hingga saat sang surya menyelinap keluar menunjukkan wajahnya. Demi melampiaskan amarahku, kuambil sebilah golok. Bergerak mengayun membelah udara memecah setiap darah-darah yang malas untuk bergerak, hingga bercucuran keringat disertai tubuh yang mulai terasa segar karena gerakan-gerakan ilmu bela diri serta udara pagi yang berhembusan di padang ilalang.
                Sekilas kulihat dari balik pintu rumah. Dengan balutan perban luka di seluruh tubuhnya, ia melihatku, kompeni itu. Dengan segera gejolak amarahku mengalir kembali begitu deras. Ku acungkan dari kejauhan golok yang kugenggam ke arahnya. Dia berjalan tersaruk menuju ke arahku.
                “Bedebah! Berani kau!” kugemakan teriakan.
                Dengan segera dari balik rumah Ibuku berjalan dan menarik tubuh si Kompeni, membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Ya rumahku dan Ibuku.
                “Haruskah Ibu sampai berbaik hati merawat manusia hina itu!” geram seluruh tubuhku.
                Kupalingkan tubuhku berjalan pergi, entah ke mana.  Tubuh ini seakan bergerak sendiri tanpa ada perintah yang diberikan oleh otak untuk bergerak. Terus berjalan tanpa niat untuk pergi ke mana.
                Sesaat kegaduhan menyadarkanku dari lamunan, dengan rasa penasaran yang tinggi dan hawa bertarung yang meyakinkan aku bahwa di sana sedang terjadi perkelahian semakin membuat tubuhku bergerak dengan cepat menuju kegaduhan itu. Kulihat beberapa orang pribumi berpakaian seragam tentara kompeni sedang menendang seorang Bapak-bapak tua yang di sampingnya berserakan berbagai macam sayuran dan patahan-patahan kayu yang ku tahu itu adalah kayu penyangga kaki meja yang telah rusak di sana. Empat orang dapat kuhitung jumlah para pribumi itu.
                Dengan hawa bertarung yang sangat besar kucabut golokku. Ku berlari menyerang ke arah para pribumi itu, dengan sekuat tenaga seorang pribumi berhasil kutebas dadanya hingga tewas. Melihat teman mereka mati, salah seorang pribumi dan yang lainnya menembakkan senapannya ke arahku. Tapi tak berguna, aku dapat menghindari semua muntahan-muntahan bola besi dari senapan mereka. Kuberikan serangan balasan kepada mereka, dua orang telah terbujur kaku tapi satu orang berhasil melarikan diri walau dengan luka yang amat sangat parah.
                 Kusarungkan kembali golokku. Kulihat kerumunan orang-orang yang memperhatikanku, tak ada ucapan atau sorak sorai pahlawan yang terdengar. Hanya tatap mata nanar di mata mereka.
                “Pergilah kau! Kau hanya akan menambah kekacauan di sini” Bapak tua itu berbicra padaku sembari menutupi luka di keningnya dengan tangan.
                Dengan kekalutan amarah kembali ku berjalan pulang. Hingga sore harinya kulihat Ibu tengah duduk.
                “Sudah pergi ya kompeni itu? Sialan padahal belum kunikmati ketika kutebas lehernya” kulihat tangan Ibu tengah menggenggam sesuatu, “Keris Ayah!”.
                “Tuan Pellelaer yang memberikannya padaku” ucap Ibu.
                “Dia yang membunuh Ayah!”.
                “Entah, dia datang mencari kita untuk memberikan keris ini sebagai permintaan Ayahmu sebelum dieksekusi”.
                “Bajingan! Segera ku melompat membuka pintu, keluar.
                Tiba-tiba sebuah letusan senapan menerobos merobek bahu kananku.
                “Arkkkhhh!”.
                “Cepat bunuh dia!” teriak seorang kompeni yang duduk di atas kuda sembari mengarahkan senapan pistol yang moncongnya telah diselimuti asap yang mengembang ke angkasa. Puluhan pribumi berseragam kompeni berlari menghunus pedangnya.
                Kulihat Ibuku berdiri dibelakang melihatku hingga kaget. Segera kubangkit dan kucabut golokku. Berlari menterang sembari menahan sakitnya luka tembak pada bahu kanan. Pertempuran begitu sengit, ribuan kilatan cahaya pedang beradu disertai rentetan peluru datang menghujam tapi tak satupun yang kembali berhasil melukaiku. Ibuku hanya bisa melihat sembari bersembunyi dari balik pintu rumah, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
                Berpuluh-puluh yang telah aku bunuh, pertarungan pun tak kunjung selesai. Hingga akhirnya aku harus roboh akibat beberapa tembakkan yang bersarang di beberapa tempat di kakiku. Sekarang aku harus tak berdaya, tapi tak ada penyesalan yang aku rasakan karena aku kan mati dengan sebuah kebanggan.
                Seorang kompeni berdiri di hadapanku, mengacungkan senapan pistolnya ke arah kepalaku. Dia mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa yang terdengar asing bagiku, namun dapat kudengar dari pengucapnnya bahwa amarah meliputinya.
                “Hentikan!” sebuah teriakan dari kejauhan menggema sembari diiringi derap kuda yang terus dipacu.
“Jendral” ucap kompeni yang berada di hadapanku.
“Jangan kau bunuh dia”.
“Apa maumu?!” teriakku kencang.
“kenapa?” Tanya si Kompeni.
“Dia telah menyelamatkan hidupku”.
Dari kejauhan Ibuku berlari keluar rumah dan segera memelukku. “Apa-apa kau bajingan?!”.
“Maafkan aku?”.
“Bangsat masih berani kau meminta maaf padaku!” kalutku marah, “ Kau telah membunuh Ayahku dan sekarang kau meminta maaf. Bajingan kau!”.
“ Ayahmu telah menolongku. Dalam pertempuran seharusnya dia telah membunuhku, tapi dia malah berbicara dan menyerahkan hidupnya kepadaku”.
“Tidak mungkin!”.
“Ya, dia berbicara agar aku berhenti untuk menindas rakyatnya. Dia memohon untuk tidak ada lagi penindasan, pertumpahan darah, dan penjajahan. Dia menangis dihadapanku sembari berkata aku tidak berjuang di medan tempur, rakyat tetap menderita dan ketika aku berjuang di medan tempur, rakyat semakin menderita” Pellelaer bersujud di hadapanku, “Maafkan aku?”.
 “Jendral apa yang kau lakukan?”.
“Aku telah berteman dengan dia dan dari cerita dia, aku mengetahui keadaan rakyat” Pellelaer terus berbicara padaku, ” Sebelum dia dieksekusi dia memintaku untuk memberikan kerisnya kepada kalian. Sebilah simbol ksatria”.


Ridwan

Terlantar ?



“Hidup mahasiswa, hidup rakyat indoensia. Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia. Hidup mahasiswa, hidup rakyat indoensia.”
Itulah seruan yang seringkali dilakukan oleh para mahasiswa ketika sedang melakukan demonstrasi. Dengan almameternya yang berkonstruksi, mahasiswa begitu semangat berkoar-koar dalam demonstrasinya.
Dari kolong-kolong jembatan aku sering melihat para mahasiswa berdemonstrasi untuk memperjuangkan hak rakyat. Aku memahami dan memperhatikan kenapa mereka begitu semangatnya memperjuangkan hak-hak rakyat melalui aksi demonstrasinya. Pernah suatu saat ketika aku sedang berjalan, aku mndapatkan mahasiswa sedang beramai-ramai berkumpul di jalan. Pikirku mereka hanya berkumpul saja. Ternyata tidak. Sekumpulan mahasiswa tersebut membawa sebuah spanduk besar yang bertuliskan “WAHAI PEMERINTAH TOLONG PERHATIKAN PASAL 34 AYAT 1 UNDANG-UNDANG DASAR (UUD) ’45.” Sontak aku bertanya-tanya dengan tulisan yang memang sepertinya sengaja dibuat huruf besar semua.
”Itu kok tulisan di spanduknya huruf besar semua ya? Seperti tulisan sms kamu aja kalao marah ke aku yank.” Terdengar suara  seoarang wanita terhadap laki-laki yang berada disebelahku. Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Dan akhirnya aku paham sekarang kenapa tulisannya sengaja di buat huruf besar. Ternyata mahasiswa ini marah terhadap pemerintahan.
Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku apa isi pasal 34 ayat 1 itu. Apa maksudnya. Meski aku orangnya tak peduli terhadap demo-demo seperti ini karena menurutku berdemo hanya mengganggu aktivitas masyarakat saja. Itu pun kalau berdemo berlangsung secara anarkis. Namun tidak dengan demo yang satu ini. Hati dan pikiranku terasa penasaran sekali dengan tulisan yang tertimbun di spanduk itu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini. Ketika aku sedang berpikir tentang pasal 34 ayat 1, tiba-tiba saja mataku terarah ke spanduk yang lainnya. Di atas sehelai kain spanduk itu bertulis sebuah kalimat yang menggetarkan hatiku, isi kalimat itu ialah, “Pahamilah isi pasal 34 ayat 1 ini wahai pemerintah. Isinya: orang miskin dan orang-orang yang terlantar dipelihara oleh Negara ([asal 34 ayat 1).” Kali ini hurufnya ditulis dengan huruf kecil saja. Aku tak tau kenapa alasannya kalau sekarang.
Lanjutlah aku mempertanyakan isi pasal tersebut. Dalam hatiku berkata,”kalau memang benar pasal itu berisikan hal demikian, berarti selama ini aku harus meminta pertanggungjawaban kepada Negara yang dikuasai oleh pemerintah. Namun yang aku bingungkan kepada siapa pertanggungjawaban itu ditujukan. Ke pemerintahkah? Karena menurutku pemerintah punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya. Atau mungkin kepada para habib? Ah sepertinya itu tidak mungkin juga. Karena para habib di Indonesia pasti sibuk dengan dakwahnya yang kerap kali menutup jalan-jalan umum untuk melangsungkan acara dakwahnya. Pemerintahlah yang menurutku seharusnya bertanggungjawab. Sebab, kata “Negara” yang tertulis di pasal 34 ayat 1 itu maksudnya ialah untuk mereka yang mengurusi rumah tangga segala Negara. Mereka itu tentu saja pemerintah. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana caraku agar meminta pertanggungjawaban atas keterlantaranku? Ah sudahlah makin pusing saja aku memikirkan yang belum jelas dasar-dasarnya bagiku.
Syahdan, dari sekian banyak para mahasiswa yang berdemonstrasi, ada satu mahasiswa yang membuat pandangan mataku terus terpana pada mahasisa tersebut. Terlihat di sebelah sisi kiri dadanya terukir sebuah nama Noto Nogoro. Melihat nama tersebut aku sejenak teringat akan kemistikan nama Noto Negoro.
***
Aku pernah mendengar seorang Budayawan memfilosofikan nama yang penuh dengan kemistikan itu. Disebuah acara bakti social ia pernah mengatakan,“No-To-No-Go-Ro merupakan singkatan dari para pemimpin yang sudah dan yang akan memimpin bangsa Indonesia ini. “No” itu berarti Soekarno. “To” itu berarti Soeharto. Lalu “No” yang lainnya ialah Yudhoyono. Mereka kesemua itu yang masuk dalam hitungan no-to-no-go-ro yang akan membawa dampak yang cukup besar bagi bangsa Indonesia ini. Kabarnya, jika no-to-no-go-ro sudah terisi semua maka Negara Indonesia ini akan menjadi makmur.”
Belum jelas bagiku apakah statement itu hanya guyonan saja atau mungkin serius. Aku terus memikirkan teka-teki nama yang belum terpakai, yaitu “Go” dan “Ro”. Apakah “Go” dan “Ro” ini memang benar ada atau tidak. Atau mungkin bahkan Go dan Ro ini sedang dipingit. Entahlah. Mudah-mudahan Budayawan tersebut hanya main-main saja dalam mengeluarkan statement tersebut. Karena ini sama saja mengkultuskan sesuatu yang kurang berdasar asal-usulnya. 
***
Wajahnya yang penuh dengan keheroikan serta omongannya yang paling berkoar-koar, membuat mataku terus tertegun pada sosok laki-laki itu, Noto Nogoro. Panasnya matahari tak menghalanginya. Tangannya mengepal sambil menaik-turunkan seraya mengatakan, “Hidup mahasiswa, hidup rakyat indonesia. Lakukan reformasi. Berantas semua KKN.”
“Dar..der…dor,” suara senapan tiba-tiba berdentung. Sekelompok orang berpakaian aparat melepaskan tembakan. Tidak semua tentara membawa senapan. Bagi tentara yang tidak membawa pistol, mereka hanya memukul-mukuli para demonstran.
Secepat kilat aku langsung membereskan botol-botol minuman bekas. Lalu aku langsung memasukinya ke’ keranjang kehidupanku’. Lansung saja aku berlari mencari tempat yang aman. Tanpa pikir panjang, seperti mendapat wahyu saja aku langsung berlari ke bawah jembatan kali. Pikirku di bawah jembatan itu akan aman. Berdiamlah aku sejenak dibawah jembatan itu. Gemercik air memberikan suara yang sedikit meneduhkan keteganganku. Aku letakkan ‘keranjang kehidupanku’ di tempat yang tidak terkena air.
Tidak lama berselang ada suara seperti benda jatuh ke kali.
“Jebuuuur..,” seperti suara benda yang jatuh ke air. Mataku langsung menuju kearah suara benda yang jatuh ke air tersebut. Ternyata bukanlah benda yang jatuh, melainkan seorang manusia yang mencemplungkan diri ke kali yang sama denganku. Dengan langkah yang berat karena berjalan di bawah air, orang tersebut akhirnya sampai juga di tempat bawah jembatan kali. Sekitar jarak 5 meter dia tepat di depanku. Badannya yang membelakangiku membuat aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Apakah takut, gembira, sedih, atau bahkan mungkin kecewa.
Berjongkoklah orang tersebut didalam kubangan air kali. Semakin penasaran aku dengan orang itu. Apa yang sebenarnya ia lakukan di bawah jembatan kali itu. Apakah dia bertujuan yang sama denganku, yaitu mengumpat dari kericuhan demonstrasi tersebut. Ataukah dia hanya orang gila yang ingin mencari tempat perenungan.
Dengan langkah yang perlahan aku mencoba mendekatinya. Sekitar jarak 2 meter dari tubuhku orang ini tidak bergeming sedikitpun. Orang ini terus berjongkok. Setapak demi setapak aku dekati terus orang ini. Ketika aku akan ingin menepuk punggungnya, kepala orang ini dengan cepat kilat langsung menoleh ke arahku. Wajahnya takut, pucat pasi.
“Oh Tuhan ternyata orang ini yang tadi aku perhatikan saat unjuk rasa berlangsung. Dialah Noto Nogoro,” kataku dalam hati.
Aku saling bertatap-tatap muka bagaikan dua orang yang saling mengagumi satu sama lain.
“Sedang apa kau disini?” tanyaku
“Saya sedang mengumpat.”
“Mengumpat dari apa? Dan dari siapa?”
“Saya mengumpat dari kejaran para aparat.”
“Kenapa kau harus takut pada aparat? Padahal kau ini kan mahasiswa? Presiden saja takut kepada mahasiswa. Mahasiswa itu kan pintar.” tanyaku dengan polos.
Dia pun menjawab,“para aparat itu menggunakan senjata, pak. Sedangkan aku tidak punya senjata untuk melawan. Kalau seandainya aparat itu tidak memakai senjata aku jiga berani melawannya. Saya ini mahasiswa, orang yang berpikir intelektual, tidak sepatutnya membalasnya dengan kekerasan atau anarkhis juga. Bagi aparat yang melakukan penembakan serta pemukulan kepada mahasiswa, itu tandanya aparat tidak punya rasa kemanusiaan. Dan aparat tersebut juga telah melanggar hak asasi manusia. Padahal aparat dan mahasiswa itu sama-sama warga Negara Indonesia. Yang semestinya harus bersatu. Bukan malah saling  melawan satu sama lain. Ataupun memusuhi antara sesama warga Negara Indonesia. Musuh kita semua ini saat ini adalah kemiskinan, korupsi, dan kebodohan.”
Lalu aku langsung bertanya lebih jauh lagi. “Bukankah negara kita kaya? Kenapa kita harus melawan kemiskinan?”
“Dengarlah sepenggal bait puisi dari W.S Rendra yang berjudul ‘orang-orang miskin’ ini: Jangan bilang Negara ini kaya kalau masih ada rakyatnya yang memakan bangkai. Dan jangan bilang Negara ini kaya hanya karena gedung-gedung tinggi yang ada di ibu kota. Memang benar jika dikatakan Negara kita kaya jika dilihat dari sisi alamnya. Namun kekayaan alam akan tertimbun jika hati dan moral para penguasa negeri ini masih miskin. Alhasil, kekayaan alam Negara ini tidak akan bermanfaat sama sekali. Tidah berharga!” sahut mahasiswa itu.
Aku sebagai orang yang tidak begitu luas wawasannya, merasa sangat bangga sekali bisa bertemu dengan mahasiswa yang namanya penuh dengan kemistikan ini, Notonogoro.
“Deeer…Daar….Dooor,” lagi-lagi suara tembekan terdengar. Dengan cepat aku lekas menyelamatkan diri. Saat itu pula aku terpisah dengan mahasiswa jenius itu. Aku tak tahu bagaimana nasib Notonogoro kala itu. Apakah selamat atau tidak. Yang pasti aku sangat kagum dengan pemikirannya. Begitu lugasnya ia menjelaskan tentang kemanusiaan dan hak-hak manusia. Aku merasa ingin tahu soal banyak dari pengetahuannya.
Sepanjang perjalananku pulang ke rumah aku selalu terbayang kata-kata dari mahasiswa itu. Dari hasil percakapanku dengan Notonogoro itu aku jadi berpikir kenapa Negara ini tidak berkemanusiaan yang adil dan beradab? Kenapa hidupku menjadi terlantar di negeri ini?

Harsaid Yogo