Selasa, 11 Juni 2013

Suara


“Sudah bertahun-tahun seperti ada suara yang entah datang dari mana, selalu menggangguku”.
“Benarkah? Seperti apa suara itu?”.
“Suara itu terdengar seperti suara perempuan yang selalu datang setiap hari dan pada jam yang sama? Dia memanggil-manggil namaku, dan selalu menyuruhku membuka mulut. Lantas ketika membuka mulut, seperti ada yang ia jejalkan”.
“Apa yang ia jejalkan?”.
“Aku tidak tahu, tapi aku dapat merasakannya. Teksturnya sedikit berair dan terasa asin di lidah?”.
“Mungkinkah itu racun?”.
“Aku tidak tahu”.
“Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Apakah setelah ia menjejalkan sesuatu ke dalam mulutmu, kau merasa.....”.
“Tidak, tidak aku bahkan tidak merasakan sakit. Karena setelah ia selesai menjejalkan dan pergi, aku segera memuntahkannya kembali”.
“Ahhh syukurlah, berarti kau akan baik-baik saja”.
“Ya, aku rasa. Tapi kali ini aku harus melawannya. Aku sudah muak untuk terus menuruti perintahnya”.
“Memangnya bagaimana jika kau tak mau menuruti perintahnya?”.
“Dia akan meledak memarahiku tanpa ampun, dan terus memerintahku untuk tetap membuka mulut”.
“Kejam sekali dia?”.
“Memang. Dan sekarang aku harus melawannya meski dia akan memarahiku, tapi akan tetap kulawan. Aku tak ingin mati diracun olehnya!”.
Terdengar suara pintu diketuk lantas terdengar sebuah suara yang begitu halus dari balik sana, “Ed, ayo makan dulu”.
“Sssttt apakah kau mendengarnya?!”.
“Mendengar apa? Aku tak mendengar apa pun?”.
“Diamlah, suara itu datang lagi! Aku tahu kau pasti dapat mendengarnya!”.
“Buka mulutmu Ed” suara bunyi sendok yang menyendok isi dalam mangkuk plastik terdengar.
“Aku tak akan membuka mulutku!”.
“Apa maksudmu Ed?! Bukalah mulutmu, aku akan menyuapimu”.
“Tak akan!”.
“Ed?!”.
“Aku tak akan bisa kau racuni semudah itu!”.
“Racun?! Apa maksudmu dengan racun?! Ini bubur Ed, bukan racun!”.
“Hey penyihir! Aku tak sudi kau bohongi!”.
“Edi! Kenapa kau menyebutku penyihir?! Sudah, sudah tak usah berbicara hal-hal aneh, ayo makan buburmu nak”.
“Nak?! Dasar penyihir, berani betul kau memanggiku nak?! Pergi kau!”.
“Astaga Edi!”.
“Pergi kau! Aku tahu kau penyihir! Penyihir yang hanya berani muncul melalui suara saja! Pergi kau Bedebah!”.
“Edi apa-apaan kau?! Berani kurang ajar pada ibumu sendiri!”.
“Ibu?! Hah?! Berani sekali kau mengaku menjadi ibuku, jika berani muncullah di hadapanku. Jangan hanya bersembunyi di balik suara!”.
“Astaga Edi... “ terdengar suara tangisan dari suara itu.
“Jangan menangis kau! Kau kira dengan menangis dapat meluluhkan hatiku! Sungguh licik, kau penyihir!”.
“Sungguh Ed, aku tak tahu apa yang kau mau hiks.... Mngkin saat ayahmu pulang, kau akan sadar hiks....”  suara sendok yang memantul karena mangkuk plastik terbentur sebuah benda terdengar, diiringi dengan bunyi pintu tertutup yang begitu kencang.
“Apakah kau dengar suara tadi?”.
“Ya, aku mendengarnya”.
“Kau tahu apa yang ia coba lakukan padaku?”.
“Ya, aku mengetahuinya”.
“Aku sudah muak dengan Penyihir itu, dan sekarang ia telah pergi. Aku sudah terbebas hahahaha..... Aku tak akan mudah kau tipu! Dasar penyihir! Hahahaha......”.
“Aku kasihan pada dirimu”.
“Hah? Kasihan padaku? Kenapaq kau kasihan padaku kawan?”.
“Tadi ia menangis”.
“Itu hanya trik untuk mengelabuiku saja kawan hahahahaha. Dan aku tak akan tertipu!”.
“Tadi ia mengatakan ia ibumu bukan?”.
“Itu juga hanya trik”.
“Pernahkah kau melihat wujudnya? Bagaimana wajahnya?”.
“Sudah kubilang dia itu hanya berani menemuiku dalam bentuk suara saja”.
“Pernahkah kau merasakan kulit tangannya ketika ia menyuapimu?”.
“Hei apa-apaan kau?! Kenapa kau membelanya? apakah kau telah bersekongkol dengan penyihir itu?!”.
“Bodoh”.
“Apa maksudmu mengatakan aku bodoh?! Hah?!”.
“Apakah kau tahu aku ini apa?”.
“Heh? Kau manusia sama sepertiku. Ada-ada saja kau ini”.
“Pernahkah kau melihat wujudku?”.
“Aa apa maksudmu?”.
“Pernahkah kau tahu benda apa yang tengah kau duduki? Benda apa saja yang ada di sampingmu? Benda di belakangmu? Di hadapanmu?”.
“aaa.....”.
“Aku ini bukan manusia. Pun aku sudah yakin kau tak akan tahu benda apa saja itu”.
“Brengsek!”.
“Jujurlah!”.
“.........”.
“Kau pasti tak akan bisa menjawabnya. Aku hanya sebuah konsep imajiner pikiranmu. Aku kau ciptakan untuk menemanimu dalam kesepianmu. Dalam kegelapanmu”.
“Apa yang kau bicarakan?!”.
“Bukankah kau telah buta, apa kau lupa?”.



Ridwan

Lahir di Tembok

“Kami lahir di tembok, makan di tembok hidup di tembok.keluarga kami tinggal di tembok. Manakala tembok bergetar, disitulah kami tahu pemilik tembok murka dan mengejar untuk membunuh kami, karena kami berisik.
Kami adalah cicak, yang melekat di tembok.  Tak pernah ingin mengenal pemilik tembok, kami hanya memakan nyamuk. Lalat. Laba-laba. Kecoak. Kadang-kadang manusia.
Kami memiliki kemampuan menumbuhkan ekor yang terputus.
Kami hanya akan muncul ketika malam tak ada bulan, karena cahaya bulan tidak memancing datangnya serangga. Manusia? Manusia akan tertarik dengan cahaya televisi dan komputer. Mereka akan berhinggapan dan bisa kami mangsa.
Sejujurnya, kami ingin mengenal mereka. Hanya mengenal. Bukan untuk berbicara atau berdiskusi tentang kepalsuan? Atau tentang politik? Kami hanya ingin mengenal tentang mereka. Mereka yang punggungnya enggan sedikitpun bersandar pada tembok. Atau sekadar meraba.
Ya, kami cicak-cicak, yang bukan apa-apa bila dilihat sekelebat. Kami cicak-cicak  hanya secuil noda yang tercipta karena adanya  Tembok, kami hanya seperti debu yang  tersesat  di tengah peradaban dunia.
 Kami hanya  setetes air hujan yang jatuh dari genting. Kami tidak akan bisa sederajat dengan kalian-manusia-. Tapi berilah kami sedikit waktu untuk sekedar mengenal mereka, atau sekedar melihat mereka berbicara bersandar pada Tembok.  Sehingga kami tidak terus merasakan bahwa di dunia ini hanya ada kami- para cicak-cicak-.
Tersapu.
Terbakar.
Ekornya putus.
Dikejar kucing.
Lari.
Terinjak manusia.
Siapa kami?
Manusia. Kami bukan manusia.
Kami cicak di tembok.
Kami bersumpah, akan mengembalikan cicak menjadi manusia seperti mereka.
Tidak! Manusia yang mampu melekat di tembok, dan bukannya mengotori tembok!
Hingga pada satu ketika manusia merencanakan pemusnahan. Genosida. Seminar-seminar diadakan. Propaganda.
“cicak-cicak ini tidak melakukan apa-apa demi keindahan tembok. Sampah! Mereka hanya hinggap, menempel, dan bergurau. Main catur. Setel musik. Hardrock. Membicarakan cewek. Basmi!”
“basmiiiii!” seru tentara-tentara manusia. Hingar bingar, popor senjata dihentakkan.
Cicak!
kami tak ingin kalah dari manusia. Kami memiliki senjata. Pulpen. Kertas.
Ah, tidak, printer. Kami punya printer. Senjata mematikan.
Kami akan mengeprint semuanya. Cerpen. Puisi. Novel. Pantun. Diari. Semua. Peradaban.
Cicak cak cak cak cak cak cak berdecak terus menerus dalam telinga manusia. Cak cak berdecakan dimana-mana adanya. Cicak cak cak cak cak cak cak di dinding menggelindingkan kekuasaan. Menulis dan berdecak. Cicak cicak cicak akan mengganggu tidurmu.
Siapkan semuanya untuk menghadapi kami hingga punah. Tak akan bisa!
Seribu banding sepuluh. Sepuluh ribu banding sepuluh, tetapi tak satupun diantara manusia mampu berdecak dan melekat di tembok seperti kami.
Kami akan tetap ada di tembok, bukan dalam ruang berpendingin yang membekukan pikiran, bukan juga di kantin yang panas dan pengap. Perangilah kami.
Pada hari pertempuran, kami berhadapan muka. Pistol dan printer. Peluru terletus, segera menjelma menjadi aksara dan melekat di kertas.



 Ar-Risalah

Puisi Boim

Sajak Dari Suara Kecil

Dari suara yang tak terdengar
bagi mereka yang menganggap mereka besar
sehingga sebelah telinga saja tak mau terbuka

Aku memang kecil
namun aku memiliki suara

Bukankan kita sedang melewati jalan yang sama?
tetapi mengapa kalian membuat batas untuk koloni kalian sendiri?

Bukankah telah jelas di bawah cakar sang Garuda
apakah virus telah menggerogoti sebagian otak kalian

Bukankan kita sama-sama terbuat dari tanah
lantas apa yang membuat kita seolah seperti manusia dan dewa?

Jika kalian merasa seperti dewa
apakah seorang dewa tak mampu mendengar suara manusia
dan tak menganggap mereka yang tidak menyembahnya ?



Boim Dos Santos
Rawamangun, 24.12.2012










Kepada Hari Ini(19 Maret, petang)
 untuk S.S , F.S , dan T.H 

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat orang bocah bermain tanpa batas
mereka bermain dengan sebuah cita-cita
bersuara dengan lantang
dan berharap bukan hanya angin yang mendengar

hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat bocah itu pun harus terpisah
ketika arah memanggil salah satu dari mereka
tanpa putus asa
mereka kembali bermain bersama cita-cita

hari terlewat tanpa bisa tertebak
tiga bocah itu telah termakan banyak waktu
hingga pada suatu saat
arah kembali memisahkan mereka
cita-cita yang selama ini setia 
tak tampak mengiringi perpisahan mereka

hari terlewat tanpa bisa tertebak
seorang bocah kembali tampak bersama cita-cita
bermain seorang diri 
sambil menunggu arah
yang tak tahu kapan kan mengembalikannya
kepada tiga kawannya

dan kembali bercerita
tentang cita-cita


Jakarta, 19.03.13
Boim Dos Santos






Suatu Kali Aku Bermimpi

Suatu kali aku bermimpi
agar hidup disebuah kerajaan
dimana aku tidak perlu menjadi Brahmana ataupun Sudra
dimana setiap pandang terlihat sama
dimana tuan dan dan para hamba sayaha mengenakan destar
tempat yang manusianya berpandang pada sekian Senja
namun tetap tenang tanpa membahas sedikit corak jingga
tiba tiba seorang bocah masuk dan bertanya
: bagaimana tuan dapat bermimpi sekian jauh ?

tenyanta mimpi hanyalah mimpi
aku tenggelam dalam pembisuan tanpa kata

lalu bocah itu tertawa seraya berkata
: dunia mimpi tuan adalah surge
namun duniaku ini adalah sandiwara
dimana aku mampu menjadi Brahmana tanpa teori
dan bisa juga menjadi Sudra walaupun dengan naskah naskah suci
sungguh aneh bila aku sempat memikirkan untuk menjadi Ksatria
tetapi sungguh impianku adalah menjadi Ksatria
tapi ternyata ia tak menjanjikanku sebuah istana di panggung ini
sekiranya tuan telah kembali radi mimpi indah tuan
jadilah Ksatria walau untuk diri tuan sendiri
dan lupakanlah kata kataku
yang mungkin adalah ucapan sang pencundang
yang telah tenggelam dalam dunia sandiwara ini


Boim Dos Santos
Jakarta, 08.02.13





Ruangan Dongeng

Aku hadiri sebuah ruangan
di mana terdapat dua kepala yang tertunduk
barangkali sudah bersiap untuk terlepas
Aku lihat sebuah pemimpin disana
ia berkicau dengan indah mengenai asas asas
menjunjung tinggi tuntutan sebuah kitab

Namun kicauan hanya sebatas kicauan itu saja
aku melihat ada sesuatu yang hilang
entah kesadaran atau sengaja tidak mereka sadarkan

Dua kepala itu hanya bisa tertunduk
mendengar juru selamat bayarannya

Juru selamat itu berpidato lantang
demi sebuah kepala yang memberi mereka asupan untuk hidup

Mereka memulai dengan rayuan  untuk memikat sang pemimpin
mereka keluarkan intrik dan muslihat untuk merebut satu hati yang tersedia
mereka merong-rong dengan mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas terlihat
bercerita dengan dongeng dongen yang mereka baru karang tadi malam

Sang pemimpin pun hanya bisa mendengar
padahal kedua bola mata masih terpasang dengan sempurna

Apakah ruangan ini pantas untuk hal seperti ini?
apakah dengan dongeng kepala siapapun dapat terlepas dari badannya
seandainya sang pemimpin membuka lebar lebar matanya dengan jeli
apakah dongeng itu masih bisa terucap sampai akhir

Aku tinggalkan ruangan penuh kebutaan itu
dan berharap jika kepalaku kelak yang dipertaruhnkan
Tuhanlah yang menjadi pemimpin di dalamnya


Boim Dos Santos
Jonggol, 10.02.13

Tersesat di sebuah Kota

Pernah aku pergi menuju sebuah kota
kota yang menjadi impian bagi orang-orang desa
mereka bilang di sanalah tempat apa yang ku cari

Kubuka sepasang mata yang masih agak terkantuk ini
ternyata benar apa yang meraka katakan tentang kota
tempat yang ada dalam dongeng para penyair
tempat yang dahulu hanya sebatas hayalan
tempat yang indah untuk menuai sebuah cerita dikala terlelap

Kumulai ceritaku pada saat matahari mengintip dari timur
benar, tampak sekelilingku seperti surga pada dongeng-dongeng itu
namun lama-kelamaan aku separti memasuki rimba
yang perlahan semakin menyesatkanku

Akupun dapat keluar, tapi selanjutnya lautan terhampar di depanku
lalu ombak seakan menyeretku semakin ke dalam semakin menenggelamkankan
namun aku masih dapat tetap keluar dari kedalaman

Mengapa menjadi seperti ini?
ini bukanlah yang hendak ku cari
ini adalah kota yang membuat banyak pasang mata terkecoh
terdaya oleh hamparan latarbelakang surge

Sekiranya aku ada di dalam sebuah toko berpelayan Tuhan
mungkin kembali adalah satu-satunya pesanan
sebelum tiba pada akhir
yang akan menjadikan aku seperti kayu
yang terjilat oleh kobaran api.


Boim Dos Santos
Jakarta, 29.01.2013




Amanat Bayi akan Takdir

Seorang bayi bicara tentang cita-cita
ia bersuara lantang agar sekeliling mereka tahu
hingga beberapa langkah dibuatnya abai dalam waktu
Tiap malam bayi itu merengek
mencoba mengoyak takdir dan peta nasib
hingga malam meyelumutinya
larut dan tenggelam dalam temaram
Namun bayi itu pun sadar.
ia hanya seorang bayi, yang tak mampu berbuat apa-apa
isak tangisnya tak mampu memadamkan api pada lilin
jeritanya tak mampu membangunkan sang ayah yang tengah terlelap
serta hentakan kakinya
tak mampu menghilangkan tetesan embun yang terciprat pada lututnya
Bayi itu pun berteriak keras,
dan berhenti
hingga kematiannya datang
dari kelahiranya yang tidak sempurna.



Boim Dos Santos
Jakarta, 23.04.13

Bandit


                Udara hutan yang lembab di musim penghujan tak sejengkalpun membiarkan tanah bahkan dedaunan ingin mengering. Kabut yang turun di kaki gunung, rintiknya terus jatuh menggantikan hujan ketika ia tak datang. Dingin di ujung kulit tak pernah melepaskan rasanya dari sekujur tubuh.
                Di balik pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan liar, seseorang berlari tergesa. Seluruh tubuh yang basah akibat kabut yang turun dan tanah yang becek, tak membuatnya sejenak berpikir untuk berhenti berlari. Meski nafasnya sudah tersenggal-senggal tak karuan keluar bersama uap dingin dari mulutnya.
                Dua orang penjaga di depan sebuah rumah bilik tepat di tengah hutan, dilewatinya begitu saja. Ia membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan keras. Seisi rumah yang penuh dengan orang-orang sekejap menjadi senyap, mereka berpatung dari kegiatannya semula. Menatap ke arah pintu rumah.
                “Hei, Pandit! Apa yang kau lakukan?!” ucap seseorang yang tengah duduk di tengah ruangan. Badannya begitu kekar dan besar, di bawah hidungnya menggantung kumis tebal yang menyambung hingga jenggot tepat di dagunya.
                “Ma maaf Bos hah....hah...hah” Ucap orang itu masih berdiri di pintu dengan nafas yang tak teratur.
                “Ada apa?” tangan kanan orang yang duduk di tengah ruangan itu menggenggam satu gelas bambu besar berisi tuak yang lantas diminumnya.
                “Aku melihat ada orang sedang berjalan menuju ke sini Bos” nafasnya kembali teratur setelah mengambil nafas panjang dari hidungnya.
                “Ha?! Siapa dia?”.
                “Tidak tahu Bos, tapi tidak salah lagi apabila dia seorang pendekar”.
                “Hei hei hei, masuklah dahulu Pandit. Duduklah kau di sampingku”.
                “Baik Bos” Pandit berjalan perlahan menuju kursi tepat di sebelah bosnya yang dari tadi sedang duduk, lantas ia pun duduk.
                “Ceritakan padaku, siapa pendekar itu?”.
                “Tidak tahu Bos”.
                “Hah?! Kau tidak tahu?” keningnya mengkerut tepat di hadapan wajah Pandit, “hai teman-teman, dengarlah cerita si Pandit. Dia bilang ada seorang pendekar berjalan sendirian menuju ke sini hahahaha....”.
                “Mau cari mampus dia Bos!” celetuk seseorang di balik meja sudut ruangan.
                “Hahahahaha.....” terdengar seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa.
                “Ta tapi ciri-cirinya aku tahu Bos”.
                “Tunggu!” teriak Bos yang segera menghentikan gelak tawa seisi ruangan, “seperti apa ciri-cirinya, hei Pandit?”.
                “Dia memakai topeng, Bos”.
                “Hah topeng?! Huahahahaha seorang pendekar pemalu rupanya” kembali gelak tawa terdengar di setiap sudut rumah.
                “Dia memang betul-betul memakai topeng Bos!”.
                “Lantas kenapa dia memakai topeng? Burukkah wajahnya? Hingga malu lantas memakai topeng? Hahahaha....” sungguh seisi rumah itu penuh dengan tawa yang menderai, hingga dua orang yang tadi bertugas berjaga di depan pintu depan ikut masuk dan tertawa bersama.
                “Seperti apa topeng yang ia pakai, Dit?” kembali Bos bertanya kepada Pandit.
                “Dia memakai topeng tengkorak”.
                “Hah?! Topeng tengkorak?!”.
                “Ya betul Bos”.
                “Hmmmm...” dielus-elus jenggot panjangnya, “apakah dia menyeret peti mati di belakang tubuhnya?”.
                “Tepat Bos”.
                Terlihat wajah Bos tiba-tiba dihinggapi suasana pucat, “bagaimana dengan pakaian yang ia kenakana?”.
                “Compang... camping dan basah Bos”.
                “Astaga!” tiba-tiba tubuh kekar dan besarnya berdiri dari kursi. Suasana ruangan yang tadi diwarnai oleh gelak tawa kini berganti menjadi hening.
                “Kau melihat dia di mana?”.
                “Tak jauh dari pos pengawasanku Bos”.
                Setiap orang yang berjumlah enampuluhlima itu matanya terus memandang tubuh Bosnya, mengikuti setiap gerak tubuhnya yang sembari tadi terus berjalan bolak-balik. Resah. Dia pun masuk ke dalam ruangan miliknya dan tak lama keluar kembali dengan membawa sebilah parang di tangannya.
                “Ada apa Bos? Kenapa kau mengambil parang?” tanya seorang anak buahnya.
                “Tak tahukah kalian, siapa pendekar yang dimaksud oleh si Pandit?”.
                “Tak tahu Bos”.
                “Goblok! Dia pendekar ketua raja pengemis!”.
                “Lantas apa yang Bos takutkan? Kita ini bandit yang paling ditakuti seantero daratan. Menghadapi seorang pendekar pengemis saja pastilah hal yang mudah untuk kita!”.
                “Goblok! Dia adalah orang tersakti dalam dunia persilatan saat ini. apakah kalian tidak tahu?! Kita beramai-ramai di sini pun pasti tak akan mampu untuk menghadapinya walau dia hanya sendiri”.
                “Apa maksudmu Bos?! Kau merasa lemah di hadapannya?!”.
                “Bangsat! Berani-beraninya kau meremehkanku?!” parang di tanagn Bos bandit meluncur dengan deras merobek leher anak buahnya yang dengan lancang meremehkannya.
                Seluruh anak buahnya tiba-tiba terdiam tak mampu untuk berkata apapun jua.
                “Persiapkanlah persenjataan kalian. Beberapa orang ambil barang-baranng dan harta rampasan kita. Secepatnya kita pergi dari tempat ini!”.
                “Bos! Kenapa kita harus melarikan diri, padahal belum tentu dia dapat membunuh kita semua?! Aku tak rela bila harus menjadi pengecut!” sebuah lecutan muncul dari mulut salah seorang di antara meraka.
                “Ya betul, betul! Kami bandit tak rela apabila harus membuang harga diri kami, hanya karena satu pendekar tidak jelas!” tambah yang lainnya”.
                “Bangsat kalian! Berani betul kalian membantah perintahku!” Bos bandit itu mengacungkan parangnya ke arah anak buahnya.
                Suasanan di dalam rumah mendadak begitu panas. Anak buah Bos bandit yang tidak sependapat dengan keputusan pemimpin mereka, mencabut parang dari sarungnya masing-masing dan membalas acungan parang Bos mereka.
                “Bedebah kalian!” dengan tatapan yang begitu tajam, Bos bandit itu melompat ke arah anak buahnya menyerang.
                Pertempuran yang begitu sengit terjadi di dalam rumah itu. Darah-darah dari luka tebasan bermuncratan kesana-kemari membasahi lantai rumah yang terbuat dari kayu. Perabotan-perabotan seperti meja dan kursi serta lemari berhamburan kemana-mana, luluh lantah. Banyak anak buahnya yang telah ia bunuh namun, tak sedikit pula luka tebasan yang ia terima dalam pertarungan ini. hingga akhirnya Bos bandit berdiri sendiri di tengah mayat-mayat seluruh anak buahnya. Darah terus menetes dari luka-lukanya.

Samar-samar penglihatannya, ia melihat sesosok tubuh berdiri di pintu rumah. Orang itu mengenakan topeng tengkorak, di genggaman tangan tali tambang terikat pada sebuah peti mati tak jauh berada, dan pakaian yang dikenakan begitu compang-camping dan basah. Sebelum tubuhnya jatuh menghempas lantai.

Ridwan

Si Anak Baru Dalam Sastra


1
                Begitu kecil perbandingan kita temukan pecinta sastra di kalangan masyarakat saat ini, ketidakberpengaruhan angkatan sastrawan baru yang tidak begitu besar pengaruhnya seperti angkatan-angkatan sebelumnya dalam aspek kemasyarakatan menunjang apabila masyarakat kini lebih condong untuk lebih memilih mengetahui dan membaca satra populer maupun bacaan-bacaan yang erat hubungannya dengan bacaan remaja dan komedi-komedi dibandingkan dengan sastra-sastra yang dapat kita nilai sebagai sastra agung. Perbandingan kecil tersebut sejalan lurus pada kalangan mahasiswa khususnya jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kecilnya minat-minat dan kecintaan pada kalangan mahasiswa terhadap sastra. Sebagian besar yang benar-benar berminat dan mencintai sastra dapat kita hitung dan orang-orang tersebut sebagian besar terkumpul pada organisasi-organisasi maupun komunitas-komunitas sastra di kampus dan kecil lainnya sebagai perseorangan yang tidak masuk ke dalam organsasi atau komunitas, dapat dihitung dengan jari.
                Pada permulaan mahasiswa tahun pertama bergiat sastra, kita dapat menyebut mereka sebagai ‘si anak baru’ karena pada tahap inilah langkah pertama mereka di kesusastraan dijejakkan. Berbagai perkenalan seiring kegiatan bersastra mereka pastilah begitu erat dengan peranan senior mereka di tempat mereka bergiat, tanpa seorang yang dituakan pastilah jalan mereka dalam bergiat sastra akan terbentur kesana kemari tanpa arahan yang jelas. Namun kadang arahan yang diberikan kepada mereka inilah bagai pisau bermata dua. Di satu sisi membantu mereka dalam mengembangkan tingkat keilmuan mereka tapi di sisi lain mereka seakan terikat oleh pola gaya pikir senior-senior mereka.
                Kesalahan inilah yang sebenarnya sangat berbahaya bagi mereka yang masih belum memiliki jalan sendiri. Arahan-arahan yang diberikan, mereka lakukan tanpa memiliki kesadaran yang begitu jernih dari pemikiran mereka sendiri, akibatnya mereka hanya menjadi sebuah replika dari pola pikir senior-seniornya dan bahkan organisasi atau komunitasnya.Dapat dikatakan, sebenarnya hanya dihasilkan satu pemikir dan yang lainnya hanyalah orang-orang pengekor saja. walaupun pemikiran pemikir tersebut begitu cemerlang, namun dari segi kualitas pencetak para pemikir terlihat begitu monoton dan bahkan hampir tanpa inovasi-inovasi pola pikir lainnya. Padahal dengan banyaknya ragam pola pemikiran dapat memperkaya persepsi-persepsi segi keilmuan.
2
                Dalam berkarya sudah barang pasti ‘si anak baru’ seakan ditunjukkan bagaimana mereka semestinya membuat sebuah karya. Pada tahap awal mereka akan dikenalkan pada tokoh-tokoh sastrawan terkemuka atau bahkan penokohan sastrawan pembimbing organisasi tersebut, lalu mereka pun diperkenalkan pada karya-karya para sastrawan tersebut. Sayangnya ketika ‘si anak baru’ untuk pertama kalinya menghasilkan sebuah karya sastra baik puisi, prosa, dan lainnya, si senior yang tingkat keilmuannya berada di atas ‘si anak baru’ langsung mengernyitkan keningnya begitu saja sembari melontarkan kritikan-kritikan yang seharusnya kritikan tersebut hanya cocok untuk orang-orang setingkatnya. Akibatnya sebuah palu godam terpelanting jatuh dan langsung menghantam mental ‘si anak baru’.
                Di sinilah sebuah rambu merah semestinya kita hidupkan. Terlalu besar harapan yang diberikan si senior pada ‘si anak baru’, mereka mengenalkan sastra sebagaimana para sastrawan dalam karya-karyanya yang begitu agung dan berharap bahwa ‘si anak baru’ dalam karya pertamanya sederajat ataupun hanya memiliki tingkat di bawah sedikit dibandingkan karya para sastrawan tapi yang mereka temukan justru keadaan sebaliknya. Seharusnya mereka sadar akan adanya bentangan sebuah jembatan besi besar yang bernama ‘proses’, proses yang pula dilalui para sastrawan besar yang membuat karya-karya mereka dapat dinilai begitu agung dan proses inilah yang membesarkan nama mereka karena keagungan karya-karyanya. Begitupula yang dibutuhkan oleh ‘si anak baru’, mereka begitu memerlukan proses keilmuan atau pun jam terbang dalam berkarya, meresapi ‘sepinya’ masing-masing, dan perenungan hingga sampai pada tahap pemuasan harapan si senior. Keinstanan adalah hal yang sangat mutlak untuk dihindari.
                Namun jangan pula ketika proses itu sedang berjalan si senior melepaskan pantauannya terhadap ‘si anak baru’ begitu saja, akibat jika mereka melalaikan pantauannya akan timbul berbagai macam alasan yang pada akhirnya membuat mandek proses kreatifitas ‘si anak baru’. salah satu alasan yang begitu bagus dan sering didengar adalah bahwa untuk menghasilkan karya tidak bisa dilakukan dengan cara pemaksaan. Alasan ini begitu berbahaya dampaknya, ‘si anak baru’ karya-karya mereka merunut dari jam terbang hanya akan memperseret proses kreatif dan tidak pula akan menjamin mutu karya-karya mereka yang tanpa dilandasi pengalaman-pengalaman proses kreatif berkarya.
3
                Sadar maupun tidak sadar kadangkala si senior menancapkan sebuah pakem pada ‘si anak baru’ yang mengekang mereka. Pakem bahwa di organisasi atau komunitas itulah hanya satu-satunya tempat untuk belajar tentang kesusastraan dan di tempat itulah sebenarnya guru bagi mereka yang benar.
                Sudah selayaknya si senior pula memberikan tentang apa itu sebenarnya sastra, bagaimana setiap lengkung dalam kesusastraan merupakan setiap detil lenggok segi kehidupan yang dekat dengan masyarakat luas. Bukankah dalam berkegiatan sastra, segala tempat baik yang dapat dirasakan oleh fisik maupun psikis adalah tempat belajar dan segala makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati adalah guru dalam bergiat sastra yang sebenarnya. Sebagaimana cakrawala mesti dibuka agar kebutaan tidak meliputi.
4
                Sebuah pemikiran yang pasti akan muncul dalam benak ‘si anak baru’ ketika bergiat dalam sastra adalah timbulnya hasrat yang begitu kuat untuk bereksperimen dalam kesusastraan. Bagaimana mereka ingin mendobrak dengan suatu hal yang baru, dalam bentuk-bentuk puisi, prosa, dan lainnya. Di sinilah peran si senior sangat dibutuhkan peranannya, bagaimana mereka meluruskan tapi tidak mengekang kebebasan berekspresi. Memberikan landasan-landasan dan pengetahuan-pengetahuan keilmuan sastra agar kecerobohan ‘si anak baru’ tidak merusak keagungan sastra yang sesungguh-sungguhnya. Karena biasanya landasan dalam setiap eksperimen ‘si anak baru’ tak pernah memiliki pondasi-pondasi tunuh yang begitu kuat dan tidak dipikirkan secara jauh lebih matang.
                Kegiatan eksperimen ini pula kadang terjadi karena kesalah tafsiran ‘si anak baru’ terhadap pengetahuan-pengetahuan kesusastraan yang diberikan oleh si senior serta dosen-dosen pembimbing organisasi atau komunitasnya, dan yang kadang pula terjadi akibat ‘si anak baru’ tersebut menyukai seorang sastrawan dan mencoba untuk mengikuti gaya-gaya kreatif si sastrawan tanpa terlebih dahulu tahu akan landasan-landasan karya si sastrawan tersebut. Permisalkan, ‘si anak baru’ menyukai Sutardji Calzhoum Bachri. Dia membuat puisi-puisi mantera tanpa tahu akan kredo Sutardji sendiri, akibatnya karya-karya ‘si anak baru’ hanya menjadi pepesan karya yang ‘kering’. Sama pula halnya dengan akrobat kata pada puisi yang kini merambah prosa.
5
                Efek hasil karya dari eksperimen ‘si anak baru’ ketika dikritik oleh si senior yang mengernyitkan dahinya, pada akhirnya si senior dengan sebuah nada keras mengecam tindak pembuatan karya ‘si anak baru’ dengan pola pemikiran mereka yang sudah semestinya berbeda dengan ‘si anak baru’. mereka akhirnya menancapkan pakem, permisalkan: berhenti untuk menulis dan mulai untuk membaca. Padahal pada tahap awal perangsangan agar ‘si anak baru’ rajin untuk berkarya, mereka lebih suka berkutat pada imaji-imaji yang dituangkan dalam karya yang membebaskan ekspresi-ekspresi mereka sendiri.
                                Ketika mereka sudah kehabisan ide itulah mereka akan mulai membuka buku dan mulai membaca untuk mencari referensi-referensi baru dalam karya mereka sekaligus meningkatkan keilmuan mereka. Dan apabila pakem di atas langsung ditancapkan pada diri ‘si anak baru’ kegiatan mereka dalam berkarya seperti terkungkung dalam lingkaran bagaimana hasil bacaan mereka, karya-karya mereka terkekang tanpa ekspresi-ekspresi yang begitu saja keluar secara spontanitas.
                Ada baiknya pemantauan proses berkarya mereka, selain untuk meredam eksperimen tapi tidak pula mengikat kebebasan berekspresi mereka. Biarkan mereka tumbuh sebagaimana mereka dalam menuangkan ide-ide yang ekspresionis.
Membiarkan mereka berkarya tanpa harus terikat dan disandingkan dengan karya-karya sastra yang agung para sastrawan ternama merupakan tahapan proses sebelum mereka benar-benar memiliki karya sastra yang agung.
6
                Sebenarnya tulisan ini tidak pula untuk menjatuhkan atau mencemooh serta tidak pula bermaksud untuk menggurui antara dua subyek terkait dan tidak pula membawa organisasi atau komunitas tertentu, hanya untuk memberitahukan akan pengalaman yang terjadi. Meski tidak pula semua subyek-subyek pada umumnya organisasi atau komunitas mengalami, baik secara sadar maupun tidak sadar. Tapi ada baiknya jika pengkoreksian antar dua subyek yang tertera mengkoreksi pribadinya masing-masing, sehingga apa yang dipaparkan di atas tidak terjadi.


Oleh: Ridwan

                

BAPAK DI RUMAH BARU DAN SEMANGKOK MIE KUAH


Aku beruntung. Bagaimana bisa beruntung? Apakah aku tidak terkena hukuman dari istriku karena tempo hari aku kepergok menyetubuhi istri tetanggaku sendiri? Tidak, tapi pernyataan di atas perlu dicatat juga sebenarnya. Aku tidak sepenuhnya bersalah karena telah menyetubuhi dia. Dialah yang datang padaku dengan pakaian yang membuat semuanya berdiri. Dan wajarlah jika kejadian selanjutnya dapat diprediksi dengan sempurna. Kembali lagi ke kalimat pertama dan kedua. Aku beruntung karena Anwar menceritakan padaku cerita yang menurutku sangat asing. Seasing Anwar yang datang pada waktu itu dengan pakaian compang-camping; baju koko, celana komprang. Tapi itu tidak menjadi masalah besar. Yang menjadi masalahnya adalah Anwar menceritakan padaku cerita ini. Dan kesepakatan baru, kawan, aku menggunakan tokoh di dalam cerita ini menggunakan kata ganti “aku”, yang dimana itu adalah Anwar sendiri yang mengalaminya. Aku hanya mendengar dan mengulang kembali ceritanya.

Terkadang, butuh waktu barang setahun atau bahkan lebih untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di sekitarmu. Aku yang pada saat itu baru pindah dari Cipulir, harus dihadapkan pada pemandangan yang sangat asing, tetapi tidak aneh, hanya asing. Aku pindah dari Cipulir ke Tangerang, Ciputat, tepatnya. Aku pindah karena rumahku selalu menjadi langganan banjir dan akan tetap selalu begitu. Kau mungkin akan berkata, banjir sudah menjadi kawan buat warga ibukota, tapi tidak buatku. Banjir selalu menjadi musuh nomor wahid walaupun aku sudah tinggal di sana sejak umurku menginjak dua puluh tahun. Dokumen-dokumen kantor yang penting selalu hanyut, puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang sudah kukerjakan selama masa mudaku dulu juga ikut terbawa arus, serta banyak barang-barang yang lain yang tak bisa kuceritakan semuanya di sini. Maka pada hari Minggu bulan April kemarin, aku memutuskan pindah ke Tangerang. Di sana ada rumah yang di sewa oleh seseorang dengan kumis dan jenggot. Lantas, aku tidak menyewa rumah itu, langsung aku beli kemudian hari.
Sebenarnya tidak susah untuk menyesuaikan diri di habitat yang baru. Kau hanya perlu beramah tamah, ikut gotong royong, salat berjamaah di musala atau masjid, ikut siskamling, atau sekadar main samgong sambil minum kopi hitam. Cara-cara tersebut bisa saja membuatmu langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan asing. Itu semua sudah kulakukan dan akan berhasil jika saja bapak dan ibuku tidak ikut pindah ke rumahku yang sekarang ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerima mereka sebagai bagian dari penghuni rumah, walaupun aku sangat tidak ingin mereka tinggal lebih lama lagi.
“Cuma sebentar, nak, Bapak dan Ibu kepingin lihat rumah barumu ini, lho, wong uang yang dipakai kamu juga ada sebagian punya bapak, kan?” kata ibu.
Ibu memang pandai merayu dan aku menyukai itu. Tapi bapakku, dia orang yang kaku,  sangat kaku, dalam artian, semua yang keluar dari mulutnya pasti selalu kalimat yang mempunyai makna memerintah atau mengomeli. Maklum, dulu bapak bekerja di militer pada zaman orde baru. Dan bapak sering pergi ke daerah-daerah terpencil, katanya untuk menciduk atau menangkap pemberontak dan pengkhianat negara. Tapi itu dulu sekali, jauh ketika umurku masih enam atau tujuh tahun. Bapak pensiun dari pekerjaan yang katanya membanggakan itu pada umur 55 tahun. Ia dipensiunkan dengan catatan; sebagai informan atau agen intelegensi yang setiap harinya selalu menyebut nama lima orang dan besoknya lima orang itu hilang entah kemana. Ia juga berperan pada penumpasan preman-preman atau penjahat-penjahat kelas teri sampai ke sarang-sarangnya.
“Mau kuciduk kau kalau tidak ingin tinggal dengan kami!? Apa yang kau lakukan sendirian di rumah ini? Mau mengadakan rapat untuk meng-kudeta pemerintah? Atau mau bikin agama baru? Awas kau!”
Ia bilang begitu ketika pertama kali mereka datang dan aku mengeluh. Aku mengeluh bukan karena tidak ingin tinggal dengan mereka. Aku hanya ingin mendapatkan waktu sendiri karena pada saat itu aku sedang dilanda musibah; motor kantorku hilang, mana tidak diasuransikan, belum lagi utang kepada teman-teman kantor karena kalah dalam judi bola. Siapa yang tidak ingin mengeluh ketika ada permasalahan datang dan tiba-tiba muncul lagi permasalahan baru? Barangkali kau mungkin akan berpikir begini, mengeluh bukanlah solusi yang baik. Itu memang benar. Tapi, mengeluh itu juga bisa menjadi ajang pelampiasan karena itulah yang bapakku ajarkan. Ia selalu mengeluh ketika ada yang sepemikiran atau yang tidak sepemikiran dengannya. Ia pernah mengeluh hanya karena bakso yang dibelinya tidak diberi tetelan.
“Kalau seperti ini, mana mantap, dasar amatir!”
Keluhan       atau lebih tepatnya makian       itu membuat pedagang bakso langsung menetapkan harga selangit karena tidak senang dan memang, bapak selalu membeli bakso pada jumlah porsi yang sangat besar. Bapak juga sering mengeluh ketika dipijat oleh tukang pijat keliling dan tidak ada bunyi-bunyian ketika pemijat itu melakukan tugasnya.
“Kalau seperti ini, mana bisa sembuh, dasar amatir!” katanya.
Bapak memang pandai dalam keluh-mengeluh. Dan kepandaiannya itu tertular langsung kepadaku. Itulah sebab mengapa aku selalu melampiaskan semuanya dalam keluhan dan keluhan. Bapak memang selalu menjadi tonggak dimana aku mengemukakan alasan.

Sudah dua bulan orang tuaku menginap di rumahku yang baru. Semua memang berjalan seperti biasa. Bapak setiap pagi selalu mengawali harinya dengan minum kopi lalu berlari-lari, joging istilahnya. Padahal aku tahu, yang ia lakukan adalah mencuci matanya ketika melewati pedagang sayur yang banyak ibu-ibu mangkal di situ. Ibu sudah pulang ke Yogyakarta tiga hari yang lalu. Ia pulang karena ada urusan keluarga. Maaf, aku lupa memberitahu itu pada awal kalimat. Tapi yang pasti, sekarang aku seperti terkungkung di dalam kandang bersama gorila. Dan gorila itu adalah bapakku sendiri. Setiap hari aku diharuskan bangun pagi, menyiapkan sarapan untukku dan dia. Sedangkan dia hanya melakukan aktivitas pribadinya.

“Jadi kau merasa rumah barumu itu seperti kandang.” tanyaku kepada Anwar.
“Ya, seperti itulah, Mud. Coba kau bayangkan, kau membeli rumah baru untuk menghindari berbagai macam permasalahan, tapi yang kau temukan di rumah itu justru permasalahan yang baru dan lebih muskil?” kata Anwar.
“Ya sudah, coba kau lanjutkan.”

Rumah baruku tak ubah-ubahnya seperti rumah yang dulu ada di Cipulir. Hanya saja bukan banjir yang datang, tetapi bapakku itu. Pernah suatu hari aku dibikin kesal bapak hanya karena aku membaca buku Karl Marx. Padahal buku itu adalah buku teman yang sengaja kubaca dan akan kubedah beberapa hari kedepan.
“Kau mau jadi komunis, mau jadi pengikut bedebah Jerman itu?” kata bapak dengan nada dikeras-keraskan.
Aku tidak menjawab, sebab kata bapak, menjawab pertanyaan itu justru akan merumitkan dan meperpanjang permasalahan. Dan aku tidak ingin masalah yang sepele ini menjadi lebih panjang hanya karena buku itu. Aku lebih baik diam. Dengan napas berat karena sudah terbiasa dibilang komunis atau segala macam apa, aku langsung menutup buku itu dan pergi keluar. Mungkin di luar sana terdapat banyak obat penenang yang bisa menenangkanku dari masalah baru ini.
“Mau kemana kau? Sudah malam ini! Mau bikin rapat untuk demo besok ya? Awas kau!!!” suara bapak terdengar dari dalam.
Mungkin ada yang salah dengan bapak. Mungkin pekerjaannya dulu masih melekat di badan, jiwa, dan hatinya. Dan bahkan sampai mati, ia akan terus menghantuiku kalau aku keluar malam-malam dan membaca buku Karl Marx kalau sedang tidak ada kerjaan . Jangan sampai seperti itulah! Aku tidak jadi keluar bukan karena bapak berteriak begitu. Aku bisa saja keluar dan membuka rapat besar-besaran untuk meng-kudeta orang yang sekarang menetap di rumahku ini: bapak. Dan aku bisa saja menyewa penembak jitu jika bapak sedang sendirian di tempat yang sepi atau ramai dan mayatnya akan didiamkan begitu saja. Sama seperti yang ia lakukan ketika ia masih muda dulu, barangkali. Aku pergi menuju kamar dan aku masih mendengar teriakan dari bapak.

“Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin diam terus kan?” tanyaku kepada Anwar.
“Aku tidak berbuat apa-apa memang. Tapi lama kelamaan, aku benar-benar dibikin kesal. Dan kau akan mendengarnya sebentar lagi.” kata Anwar.

Sudah hampir setengah tahun bapak tinggal. Sekarang ia sudah menjadi penguasa di rumah baruku. Ia selalu membuat undang-undang tersirat yang mengharuskan semua yang ada di dalam kendalinya, harus mematuhi undang-undang itu. Bulan pertama dan bulan kedua sampai bulan ketiga, aku masih bisa menerima dan memaklumi bapak dengan tingkah dan polanya. Tapi sekarang, lebih baik bertindak daripada mampus. Ini lebih dari sekadar bencana banjir ketika aku tinggal di rumahku yang lama. Ini seperti zaman orde baru dimana kau tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pihak atas. Dan pihak teratas di rumahku sekarang adalah bapak.
Malam hari ketika aku hendak memasak mie instan, bapak berteriak meminta agar aku memasakinya mie pula. Dengan jengkel dan dongkol, aku melakukan itu semua. Sekelibat, aku mempunyai ide yang jenius (mungkin sangat jenius); aku mencampurkan lendir ingus, ludah dan air kencing ke dalam panci yang sedang mendidih dan siap untuk dimasukkan mie. Bapak mungkin akan mual-mual dan masuk rumah sakit. Lalu ia akan dirawat inap dan rumahku akan  bebas darinya selama beberapa hari ke depan. Ya, ide yang bagus. Tapi mengapa ide itu baru muncul selama ini? Terserah!
“Mana punyaku, lama sekali kau!” teriak bapak dari ruang keluarga. Ia sedang menonton acara kesukaannya: Debat calon gubernur pra pilkada.
Dua atau tiga langkah aku berjalan dari dapur menuju tempat bapak. Ia memasang muka persis seperti pembawa acara yang ada di televisi itu; sangat serius. Aku membawa dua mangkok berukuran sama yang keduanya dihidangkan mie dan kuahnya. Anjing, mata bapak menyalang sangat terang. Ia seperti sudah dilanda rasa lapar bertahun-tahun. Seperti prajurit perang yang menang dan minta dihidangkan sebotol anggur karena sudah kelelahan. Tapi, bapak bukanlah prajurit perang. Ia dulu hanya agen intel dari instansi pemerintah yang kerjanya hanya itu-itu saja. Dan aku juga tidak peduli dengan masa lalunya. Mau dulu jadi intel, pengusaha pelacuran, pedagang asongan, atau bahkan pengemis yang sering mangkal di tempat yang sama. Itu semua tidak penting. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar bapak bisa keluar dari rumahku ini tanpa harus mengusirnya. Dan itu akan terjadi sebentar lagi.
“Mana punyaku?” tanya bapak.
Aku menunjuk mangkok berwarna merah yang didalamnya terdapat mie dan kuah campuran ludah, lendir ingus, keringat beserta air kencingku. Bapak terlihat santai. Aku juga terlihat santai. Temanku bilang, jangan tertawa terlebih dahulu jika ingin mengerjai orang. Apalagi kalau parah jebakannya. Jangan tertawa atau jebakanmu bakal ketahuan. Dan aku melakukan itu dengan benar. Tampaknya bapak akan memakan mie kuah itu sebentar lagi.
“Kau tahu, aku meminta mie yang tanpa kuah di dalamnya. Seperti yang ibumu dulu buat.” kata bapak.
“Maksud bapak mie goreng?”
“Iya, dasar amatir!!!”
“Tapi bapak tidak bilang seperti itu. Bapak hanya bilang minta dimasaki mie dan mie yang tersisa hanya mie kuah. Mie gorengnya sudah kumasak buatku sendiri.” kataku mencoba untuk meyakinkan argumen. Argumen yang akan menjadi jebakan untuk bapak jika ia akan memakan mie kuah itu.
Bapak terdiam cukup lama. Ia memandang kedua mangkok yang ada di depannya. Mangkok yang berwarna merah punyanya, berisi mie kuah. Dan mangkok yang satunya, yang berwarna putih berisi mie tanpa kuah atau mie goreng istilah lainnya. Yang berwarna putih itu punyaku.
Bapak menyambar mangkok yang berwarna putih dan anjing, aku tak sempat mencegahnya. Aku tidak bisa memakan mie kuah itu. Kuahnya sudah kucampurkan dengan lendir ingus, keringat, ludah dan air kencing. Walaupun warna kuahnya sama seperti warna layaknya kuah mie biasa, tapi aku tahu, mie kuah itu adalah jebakan dan tak mungkin aku memakannya bersama bapak. Bapak sangat lahap dan aku belum berani bicara jujur. Jujur? Goblok! Buat apa bicara jujur tentang jebakan yang aku buat itu?
“Mau kau makan tidak itu mienya?” tanya bapak. Mie goreng yang ada di dalam mangkoknya akan segera tandas. Tinggal dua atau tiga suap lagi kurasa akan habis.
“Kalau bapak masih lapar benar, yang itu bapak makan saja, nanti aku gampang.” kataku.
Secercah harapan kembali muncul. Bapak sepertinya belum kenyang benar. Memang, mie instan tidaklah seperti nasi dan lauk pauk. Kau tidak akan kenyang jika hanya memakannya satu kali saja. Mie dan nasi sama-sama mengandung karbohidrat. Dan kau tidak akan merasa cukup jika hanya mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang sangat terbatas. Apalagi jika perutmu sedang dalam keroncongan teramat parah. Dan itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh bapakku. Aku tahu, ia akan langsung menyambar mie kuah itu tanpa memedulikan apa yang ada di dalamnya. Aku rela mengorbankan mie goreng sebagai makan malamku.  Yang penting bapakku memakan mie kuah itu.
“Ya sudah, aku makan ya! Kau tidak menyesal kan?” tanya bapak.
Aku tidak menjawab karena tak tahan dengan apa yang akan segera terjadi. Apakah ia akan mampus dengan cara overdosis? Atau ia akan mual-mual dan muntah-muntah ketika akan menyeruput kuahnya? Hueek!!! Aku langsung memalingkan muka ke layar televisi yang sedang menyala. Orang-orang di dalamnya  seperti sedang berdebat masalah pencalonan kepala daerah. Aku sempat menggerakan bola mataku ke arah bapak yang tengah mengaduk mie kuahnya. Mangkok yang pertama benar-benar tandas. Dan ia masih sangat lapar.
Segera, ia mulai melilitkan mie itu ke garpunya lalu memasukan ke dalam mulutnya. Ya, ia akan keluar dari rumah ini sebentar lagi. Aku menyeringai dalam diam.

“Jadi bapakmu benar-benar melakukannya?” tanyaku setelah Anwar selesai dengan ceritanya.
“Iya.” Anwar menjawab singkat.
“Sekarang bapakmu sedang berada di rumah sakit, kalau begitu?”
“Tidak. Ia sedang berada di rumahku sekarang. Ia tidak mampus ketika ia memakan dan menghabiskan mie kuahnya waktu itu. Aku juga heran benar, mengapa ia begitu kuat. Yang jelas, sekarang ia malah bertambah sehat pasca menyantap mie kuah jebakan itu.” kata Anwar.
“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Anwar langsung pergi menuju pintu keluar tanpa pamit, tanpa menghabiskan secangkir kopi yang sudah kusiapkan dan semangkok mie kuah yang istriku telah hidangkan. Ia berjalan dengan pakaiannya yang asing. Tapi cerita ini tidak akan menjadi asing lagi. Aku akan menemuinya segera setelah aku menyantap mie kuah buatan istriku yang sebelumnya diperuntukkan Anwar. Tapi ia sudah pergi dan aku merasa sangat lapar setelah mendengar cerita dari Anwar itu. Mie kuah yang ada di depanku sungguh menggoda. Tidak seperti mie kuah buatan Anwar yang dicampuri jebakan yang macam-macam. Istriku memang tidak pandai memasak. Tapi aku yakin, kalau urusan perut sedang mengamuk, istri yang tak pandai memasak pun, masakannya akan selalu dibilang mantap, walaupun hanya sekadar mie kuah. (###)

Reza Deni Saputra