Rabu, 09 Januari 2013

Cerita Dari Langit


Langit bercerita dalam tetesan hujan
mengapa kau acapkali mengabaikanya
ia memang tak dapat berbicara
tetapi ia dapat menyentuhmu
apakah kau tak berpikir ?
bagaimana ia menurunkan berjuta tetesan air
yang sangat bermanfaat untuk kehidupanmu
lalu kau abaikan begitu saja
apakah kau ingin jika ceritamu tak terjamah
marahkah engkau saat itu ?
merekapun seperti itu
walau tanpa bahasa
tetapi ia sedang membuatmu berfikir

Jakarta, 22. Desember. 2012
O’iem Dos Santos

Letusan Sebuah Terompet



Cuaca malam ini tak terlalu bagus untuk sebuah malam spesial, seperti malam ini. Hujan gerimis memenuhi seluruh langit kota, tapi tak terlalu besar sehingga upacara perayaan malam tahun baru ini terus berlangsung di tengah pusat kota. Jalan-jalan besar ditutup untuk mendukung sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemuka kota ini. Sebuah parade akbar demi menyambut datangnya tahun baru yang diselenggarakan dengan gegap gempita oleh seluruh masyarakat belahan dunia mana pun. Gubernur kota ini berharap dengan acara ini dapat mempersatukan seluruh masyarakat kota ini.
                Orang dari luar kota ini pun berbondong-bondong datang menghadiri perayaan akbar ini. Membuat seluruh jalanan menjadi macet, apalagi didukung oleh cuaca awan yang bergerimis. Tapi tak satu pun menciutkan acara ini untuk tetap berlangsung. Kembang api di mana-mana terus meledak bersahut-sahutan tiada henti, menandakan akan adanya sebuah pesta kembang api yang lebih besar menghujani langit kota yang bergerimis mendung oleh awan pekat.
                Di sisi lain kota, di sebuah pinggiran yang jauh dari keramaian. Tidak terlalu sepi di sana karena beberapa orang masyarakat seakan tidak datang ke parade besar di pusat kota sana. Mugkin karena hujan gerimis yang turun sehingga mereka hanya duduk-duduk santai, bercengkrama saja di teras-teras rumahnya.
                Tak jauh dari sana sebuah warung kopi kecil-kecilan milik Sukamto dan istrinya mencari nafkah dibuka hingga larut malam. Keduanya juga tidak ikut tergiur untuk merayakan malam spesial ini di pusat kota sana. Meski tidak ramai pembeli di sana. Usaha mereka ini baru dibuka sebulan yang lalu setelah pindah ke daerah ini. Bebreapa pembeli mungkin hanya Bapak-bapak yang tadi nongkrong bercengkrama di teras rumahnya, memesan dari balik pintu pagarnya dan menikmatinya di teras rumah mereka. Kopi, mie instan yang telah dimasak, bubur kacang hijau dan lain sebagainya seperti jualan yang dijajakan oleh warung kopi lainnya.
                Gerimis masih mengguyur kota ini, hingga datang seorang berambut panjang dengan jaket lusuhnya ke warung kopi milik Sukamto. Dia duduk dan memesan secangkir kopi hitam kepada Sukamto.  Dihidangkannya kopi itu di hadapan pria berjaket lusuh itu. Dari balik jaket lusunya pria itu mengeluarkan satu bungkus rokok dan sebuah korek kayu. Diambilnya sebatang rokok dan dinyalakannya rokoknya itu.
                “Waduh tahun baru malah hujan” Sukamto melempar senyum pada pria itu. Dibalaslah guyonan Sukamto dengan sebuah senyum kecut dari wajah pria itu sembari diteruskannya dengan menghisap rokok di tangannya.
                “Mas siapa orang itu?” bisik istri Sukamto sembari menarik tangan Sukamto masuk ke dalam rumah.
                “Huusss sembarangan kamu kalo ngomong, dia itu pelanggan. Nggak usah curiga begitu” balas Sukamto lirih sembari kembali keluar dari balik pintu rumah.
                Bunyi petasan dari tukang petasan tak jauh dari warung kopi milik Sukamto berbunyi. Entah apa yang dipikirkan tukang petasan itu, mungkin dipikirnya untuk menarik minat pembeli yang akan datang pada tempat ia berjualan. Sukamto berjalan keluar dari warungnya menghampiri tukang petasan itu dan melihat bagaimana warna petasan yang meledak di udara.
                Sementara itu istri Sukamto yang ketakutan akan pria di warung mereka masih mencuri-curi pandang ke arah pria itu dari balik pintu rumah. Ketakutan dan curiga masih menyambar-nyambar hatinya. ketika dia ingin kembali mencuri pandang pada pria itu, secara tak sengaja pria itu melihat pula wajahnya. Dengan seketika dipalingkannya wajahnya masuk ke dalam pintu rumah. Sekan ketakutan yang makin membesar membuatnya berlari keluar dari dari warung, pergi ke tempat Sukamto berada.
                “Mas aku takut sama pria itu” ucap istri Sukamto.
                “MasyaAllah Marni. Itukan hanya pembeli nggak usah ditakuti”.
                “Bukannya begitu lho mas, perasaan aku dia orang jahat”.
                “Nggak mungkin Bu Marni. Coba saya lihat” ucap tukang petasan sembari melongokkan wajahnya, melihat pria itu, “MasyaAllah mas serem banget”.
                “Huss ngawur aja nih kalian berdua. Masa manusia bener gitu ditakutin, emangnya setan?”.
                “Bukannya begitu lho mas….”.
                “Yasudahlah, daripada jadi ngomongin orang nggak jelas begini mending saya masuk saja. Nemenin orang itu” Sukamto bergegas masuk kembali ke dalam warungnya dan duduk. Sejenak kemudian istri Sukamto masuk dengan berjalan agak berlari.
                Cuaca yang tidak begitu bagus membuat perasaan seseorang kadang tak menentu. Tak usahlah terlalu curiga pada seseorang, mungkin wajahnya memang serem tapi dalamnya kan nggak ada orang yang tahu. Begitulah yang terjadi di dalam pikiran Sukamto yang terus diberondong bayangan dari ucapan teman dan istrinya tadi tentang pria berjaket lusuh di hadapannya.
                Dilihatnya pria itu oleh Sukamto dengan teliti. Pria itu membuka beberapa bungkus kacang yang kemudian ia jejalkan ke dalam mulutnya. Sekilas dari balik rambutnya yang panjang, seolah Sukamto pernah melihat wajahnya entah di mana namun ia lupa. Semakin ia menelitinya, semakin tak asing pula wajah itu. Namun tetap ia lupa akan wajah itu.
                “Mas kopinya sudah habis, mau tambah lagi?” ucap Sukamto pada pria itu menawarkan. Pria itu hanya menyodorkan gelas kopinya yang telah habis kepada Sukamto tanpa berbicara sedikit pun.
                Secara tak sengaja Sukamto melihat sebuah benda hitam dari balik jaket lusuh pria itu. Astaga, pikir Sukamto kaget. Setelah ia menghidangkan kopi hitam ke pria itu Sukamto segera masuk terburu-buru ke dalam rumahnya dan menarik tangan istrinya.
                “MasyaAllah, bu…”.
                “Kenapa pak?”.
                “Pria itu, bu…”.
                “Ya pria itu kenapa pak?”.
                “Pria itu punya beceng bu”.
                “MasyaAllah pak, dia mau merampok kita pak?”.
                “Tunggu nggak mungkin bu, dia mau merampok kita. Kitakan hanya pengusaha warung kopi kecil-kecil mana ada uangnya”.
                “Tapi pak…”.
                “Sudah Ibu tenang saja. Semoga Allah melindungi kita bu”.
                “Iya pak”.
                Sukamto kembali duduk di warungnya, keringat dingin terasa mengalir deras di dahinya. Sebuah sergapan ketakutan seakan mewarnai seluruh suasana malam di warungnya, membuat udara begitu kotor bercampur kepulan asap rokok yang mengerubungi atmosfer warung disertai semerbak kopi hitam yang mengalir di seluruh pernafasan mereka. Oksigen seakan berburu masuk ke dalam relung paru-paru Sukamto.
                “Kamto, Kamto rupa-rupanya kau sudah lupa padaku ya” pria itu berucap dengan nada agak meremehkan.       
                “Kamu siapa?”.
                “Hahaha masih juga tak ingat aku ya?” pria itu menyibakkan rambutnya, kini seluruh wajahnya terlihat dengan jelas tak tertutupi sehelai rambut pun miliknya.
                “Kardi!”.
                “Hahaha nah sekarang baru ingat kau rupanya denganku”.
                “Mas” ucap ketakutan dari istri Sukamto terdengar.
                “Masuk Ni!” perntah Sukamto. Istri Sukamto segera masuk ke dalam rumah.
                “Mau apa kau datang ke sini?”.
                “Masih lupa juga hutangmu padaku!”.
                “Hutang apa?”.
                “Kau ingat malam sembilanbelas tahun yang lalu, tepat di malam yang sama seperti malam ini?”.
                “Apa maksudmu?”.
                “Janganlah kau berpura-pura. Apakah kau ingat senapan yang kau bidik ke arah laki-laki berjas hitam malam itu”. Keringat dingin mulai mengucur begitu deras dari dahi Sukamto. “Laki-laki yang ditugasi untuk kita bunuh dan kau malah pergi…”.
                “Hentikan! Kau tahu sekarang aku sudah tak berurusan dengan pekerjaan itu lagi! Dulu kita melakukannya atas tuntutan pemerintah, tapi…” Sukmanto berdiri.
                “Gara-gara kau bertindak pengecut dan lari dari tugas. Aku harus terus melarikan diriku, diburu oleh pihak pemerintah!” pria itu mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan persis menodongkan pistolnya pada wajah Sukmanto, “Keluargaku mati satu persatu dibunuh oleh pihak pemerintah yang melakukan tindakkan refresif terhadap kita, orang-orang yang membunuh kecoa-kecoa kecil atas suruhan Jendral, atas nama pemerintahan yang dulu. Dan gara-gara kau identitasku terbongkar. Seandainya kau tak lari seperti pengecut!”.
                “Kau tahu bukan, aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku akan menikah”.
                “Bangsat banyak alasan!”.
                Malam itu tepat di pusat kota, pesta kembang api begitu ramai menenggelamkan kepedihan-kepedihan luka-luka lama yang menjadi dosa-dosa kita sebagai manusia. Kegembiraan begitu melimpah ruah tak henti-henti disorak-sorakkan demi harapan-harapan baru di tahun mendatang yang akan segera datang dan mengubur harapan-harapan tahun-tahun lalu yang sebagian besar tidak tercapai oleh kita. Bunyi-bunyi teropet dan letusan-letusan kembang api tahun baru seakan menyamarkan sebuah letusan peluru yang dengan tepat melubangi dahi Sukamto.
               
                 
                Ridwan

Fiksi



Saya benar-benar buntu. Buntu. Buntu. Apa yang saya tulis tak lagi menjadi bahan fiksi yang unik. Dulu, ketika HB. Jassin dan kawan-kawan masih hidup, hingga dilanjutkan oleh kritikus generasi Sapardi dan Korrie, cerita fiksi adalah cerita yang hanya dalam imajinasi namun berfungsi untuk melukiskan dan menyamarkan kenyataan hingga halus dan bisa dinikmati.
Tetapi sekarang? Saya keki. Jengkel. Semua bahan fiksi yang akan, sedang, dan telah saya tulis, telah ada menjadi kenyataan yang jauh lebih jahat dan mengerikan. Sumpah. Lantas, pekerjaan saya apa lagi kalau khayalan saya di dahului dunia nyata?
Beberapa bulan lalu, saya ingin menulis tentang seorang ibu yang membakar anaknya karena tak mampu menghidupi keluarganya. Keluarganya belasan tahun menghilang, agar kesan fiksinya lebih kuat. Tak lupa, sosok suami yang turut menghilang dihadirkan dalam cerita ini.
Setelah lelah membuat jalinan cerita, saya menonton televisi sambil menyeruput kopi hangat. Harum sekali. Saya lalu duduk di sofa empuk. Untuk referensi, saya coba-coba melihat berita, siapa tahu ada yang bisa saya tambahkan kedalam cerita. Televisi malam-malam begini kalau tidak film lama ya berita pagi yang hampir basi.
Eh, tak tahunya... tokoh-tokoh dalam cerpen saya menjadi objek berita malam itu! Lengkap dengan laporan langsung dan suami yang memang menghilang serta keluarganya yang tak jelas rimbanya. Kenapa pas benar, ya?
Saya sepakat, bahwa cerita fiksi harus memiliki jarak fiksi dengan dunia nyata. Saya sadar betul. Meski hanya nama yang berbeda, tetapi saya tetap jengkel, saya harus mencari ide lain agar kesan kreatif saya tetap bertahan.
Saya, malam itu juga, akhirnya menemukan cerita tentang seorang pengarang feminis yang mengadakan bedah buku di kota. Kota Ku terkenal dengan penduduknya yang memegang teguh religiusitas dan toleransi.
Banjir dan kemampetan jalan raya oleh sampah-sampah menjadi masalah utama kota. Disamping, seperti pada umumnya kota besar, urbanisasi menghasilkan berton-ton masalah dan musibah yang tak kunjung selesai.
Apa lagi, ya? Ia mengadakan acara ini atas desakan komunitas para sastrawan agak kiri sedikit yang ingin menambah wawasan. Juga, mereka yakin acara ini diadakan di lingkungan terbatas. Nah, di tengah cerita, sekelompok telik sandi beberapa ormas mencium gelagat ini. mereka anti feminis. Ssst, mereka nafsunya besar juga pada wanita.
Masalahnya, materi buku yang di bedah dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka, seperti, gravitasi itu kebawah, dan laki-laki itu unik, serta perempuan itu ganas. Mulailah mereka merencanakan sesuatu.
Penggerebekan. Tepat di tengah acara. Maka jadilah penggerebekan itu mengacaukan acara yang tengah berlangsung, pembicara berusaha menetralkan, tetapi yang ormas-ormas itu inginkan, acara berhenti dan pembicara hengkang ke negara asalnya yang sangat liberal. Neo liberalis.
Tiga hari setelah saya tulis cerita ini, dan yakin sekali akan di muat di koran Kota Ku, mata saya mencolot hampir jatuh. “SEORANG PENGARANG FEMINIS DI GEREBEK MASSA DI TEMPAT BEDAH BUKU”
Awalnya, saya mengira itu judul cerpen saya yang saya kirim minggu lalu. Tetapi, ternyata itu judul berita utama. Buntu! Saya menyerapah. Entah kenapa lagi-lagi dunia nyata mendahului saya. Apa-apaan sih dunia ini? tidak punya pekerjaan selain mengganggu cerita-cerita saya.
Saya kesal. Akhirnya saya membuat cerita tanpa berkhayal sama sekali. Maksudnya, pura-pura tak pernah tahu dunia nyata. Semoga kali ini saya berhasil membuat jarak fiksi yang begitu nyata. Bahasa adalah simbol kenyataan, baik. Dan kini mari merenung-renung tentang jalan ceritanya.
“pada suatu hari,” saya memulainya. Cukup fiksi.
Dulu, ada seorang bupati yang memenangkan pemilihan di sebuah kota kecil dekat laut. Ia memenangkan pemilihan itu karena wakil yang menjadi pasangannya, adalah pemain ludruk terkenal. Semua bisa dibuat terpingkal-pingkal olehnya. Ia lucu sekali.
Singkat cerita, mereka berdua banyak membuat terobosan-terobosan dalam pembangunan. Namun, dasar laki-laki. Di tengah jalan, libido sang bupati menuntut gadis perawan termolek dari rakyat yang dipimpinnya dipersembahkan kepadanya. Bagaimana dengan sang wakil?
Rupanya, pemain ludruk beruntung ini mencium gelagat tak baik sejak awal, maklum. Ia ahli sandiwara. Ahli membaca skenario dan penerapannya di dunia peran. Ia mengundurkan diri, yang tentu saja di sambut kekagetan berbagai pihak. Mengejutkan! Mulailah ia membeberkan satu demi satu skandal, meski secara tersirat. Sang bupati, sebagaimana lazaimnya pejabat negeri itu, tetap cuek dan tak tersentuh.
Kembali tentang bupati, ia kesampaian menikahi gadis termolek di kotanya, meski keluarga sang gadis setengah hati. Umur sang bupati hampir padam, tapi masih saja menyala-nyala libidonya. Pada gadis pula. Itu kan jatah jejaka kotanya, kritik aktivis perempuan yang mengomentari kejadian ini di sebuah acara televisi.
Entah kenapa, seperti orang kekenyangan saja, bupati nyentrik ini menceraikan istrinya di usia perkawinan yang baru empat hari!
Aha, cerita saya kali ini cukup fiksi. Yang sanggup mengalahkannya hanya lakon-lakon wayang seperti Bima Bungkus, Gatotkaca Sraya, atau sekalian Wahyu Makutharama. Ya, saya yakin benar kali ini.
Mungkin, cerita kuda Troya yang ternyata non-fiksi juga belum tentu punya skenario serumit dan seaneh ini, meskipun jika penguasa kota saya tahu ada karangan seperti ini yang dimuat, siap-siap saja ganti nomor telepon.
Eh, dasar pena saya dikutuk Yang Maha Kuasa. Seminggu setelahnya, di D-U-N-I-A N-Y-A-T-A YANG SAYA BENCI, infotainmen ramai-ramai memberitakan tentang bupati dari kota di dekat laut, yang habis ditinggal oleh wakilnya karena perbedaan prinsip dan skandal yang macam-macam, menikah dengan gadis usia delapan belas tahun.
Belum cukup, yang paling melukai perasaan saya sebagai pengarang yang mengagung-agungkan kefiksian cerita saya kali ini-dengan harapan masuk koran-empat hari kemudian dia menceraikan istrinya. Yang paling menghancurkan logika saya, ketika di wawancara dalam sebuah jumpa pers, ia dengan wajah penuh senyum mengatakan demikian:
“mencintai wanita itu seperti mengganti baju, kalau tak suka, ya ganti lagi...”
Gol. Gawang saya robek parah. Hati dan logika saya ditembus bola misterius bernama kegagalan menciptakan jarak fiksi antara cerpen saya dengan kenyataan. Kalau begini, imajinasi saya ternyata menjadi logis, dan cerpen saya menjadi seperti berita di koran. Apalah maksudnya ini!
Saya sih, senang-senang saja mengenakan wanita seperti mengenakan baju. Jangan dibayangkan, ya. Masalahnya, wanita mana yang mau dianggap demikian? Memang mengasyikkan, tapi resikonya, bos!
Saya frustasi, tuan. Saya merapuh. Pekerjaan saya sebagai pengarang terancam mengalami kebuntuan. Apa saja yang menjadi keyakinan saya mengenai kefiksian sedang diuji. Tetapi saya harus melakukan sesuatu agar karier saya di koran-koran tak mampus.
Dapat duit dari mana, coba?
Saya memutuskan untuk konsultasi pada sastrawan terkemuka negeri ini, namun tak dikenal, sebab karyanya banyak dinikmati orang tetapi tidak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah. Nilainya tinggi, luhur. Tetapi matematika dan linguistik jauh lebih luhur dalam sistem nilai dan norma saat ini.
“Jadilah wartawan, teman...” Katanya tenang. Ia banyak mengalami asam garam kenyataaan. Rujak.
“Saya pengarang, mas, tidak seprinsip!” Saya mencoba idealis.
Dia ini saya anggap teman sekaligus guru pribadi yang bisa saya temui tanpa harus menuliskan di daftar pustaka.
“Buktinya, tulisanmu identik dengan berita di koran,”
“Bukan itu...”
Ia menyela, “Buat apa kamu susah-susah membuat cerita, yang mengandung nilai moral, kalau di masyarakat fiksi tak memiliki jarak lagi dengan dunia nyata....”
Asap rokoknya mengepul tinggi-tinggi, sementara rokok saya hambar. Ditelan frustasi.
“Sebenarnya fiksi itu apa sih, mas...” Saya merenung.
“Ya, tidak nyata, gampangnya, ngimpi, gitu”
“Terus, yang saya buat selama ini apa, mas? Nyata terus”
“Kamu harus ngerti, teman. Kenapa pengarang-pengarang luhur jaman orde-orde itu mampet bikin karya lagi. Mereka sadar, mendekati kiamat, Tuhan menciptakan makhluk baru dari dunia konsep di dunia nyata bernama Fiksi” Ia merebahkan badannya lebih nyaman pada kursi kayu tempat kami diskusi.
“Ah, mas, saya sedang konsul malah dikasih puisi”
“Lho, aku lagi nyimpulkan ini. Menjelaskan yang kamu alami. Fiksi ini dinyatakan Tuhan, sehingga kita, para pengarang sebagai pemilik awal fiksi awalnya keheranan juga”
“Terus, hubungannya apa?”
Dari mulutnya memang bau ciu. Tetapi omongan sastrawan besar kita ini ada benarnya juga. fiksi kini tak ada lagi, semuanya menjadi mungkin ada dan kemungkinannya lebih besar, jauh lebih besar dari sebelumnya untuk ada di dunia nyata. Entah kenapa.
Mungkin pemerintah kita adalah korban kebijakan jaman dulu, yang mewajibkan kita rajin membaca fiksi, sehingga mereka terpengaruh cerita-cerita itu.
“Ya, gitu lah. Sudahlah, kamu jadi wartawan saja, terus kamu beritakan hal yang aneh-aneh itu menggunakan kemampuan bahasamu yang meliuk-liuk”
“Ye, nanti sama dengan berita gosip, yang meliuk-liuk bahasanya, lagipula saya tetap ingin jadi pengarang!”
“kalau begitu,” tandasnya, “Kau tulis saja yang pasti fiksi,”
“Apa itu?”
“Menulis konsep tentang masyarakat ideal... atau masyarakat madani... atau sekelompok pengarang yang tinggal di satu desa... atau kita berdua,”
“Lantas?” Saya mengabaikan pendapatnya bahwa kami berdua adalah fiksi.
“Masalahmu, teman, ada pada ketidakmampuanmu menciptakan jarak fiksi antara karangan cerpenmu dengan berita di tivi”
Tuan-tuan tahu? Sepulangnya dari obrolan yang sebetulnya masih panjang itu, saya memutuskan untuk berhenti menulis fiksi, dan menjadi peneliti saja. Tentang berapa jumlah cerita fiksi yang telah menjadi kenyataan.
Kenapa tidak menjadi wartawan? Saya trauma. Trauma membuat cerita, takut dunia nyata yang saya laporkan berbalik menjadi fiksi seperti ketika saya menjadi pengarang cerita fiksi.



Saya Amar Ar-Risalah, mahasiswa JBSI UNJ. Saat ini aktif di Ikatan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia sebagai wakil sekjen. Saya bertempat tinggal di Depok, di Kelurahan Jatijajar rt. 03/08, jl. Kelurahan, kec. Tapos. Hubungi saya di 02151349019. Juga, di akun FB Amar Ar-Risalah.

Reaksi



Kepastoran gempar, dan dilanda huru-hara. Bagaimana tidak? Penelitian seorang kardinal agung membuktikan dalam Injil bahwa: ada seorang Nabi perempuan pada kisah-kisah tersembunyi dan itu menjadi nama bagi laki-laki karena kesalahan terjemah! Hari-hari yang tenang dalam puri kepausan menjadi sibuk, ada yang mempersiapkan persidangan, ada yang mampet di ruang diskusi untuk memutuskan: yang salah itu Kardinalnya atau tukang terjemahnya, karena Injil tak mungkin salah.
Yang jadi masalah, telah membatu keyakinan umum bahwa Nabi adalah kata ganti bagi laki-laki pilihan Tuhan yang juga Laki-laki untuk menyebarkan berita gembira dan nubuat. Sejak Adam hingga Jesus Kristus, bahkan Muhammad, semuanya berjenis kelamin laki-laki dan digambarkan beristri banyak. Hanya seorang perempuan yang nyaris menjadi Nabi, dan sepertinya ia salah ditempatkan dalam silsilah, karena nyatanya yang menjadi Nabi adalah anaknya.
“Koplak!” tepuk Kardinal Dua di dahinya sendiri. Ia tak habis pikir. Metode hermeneutika macam apa, filologi macam apa yang mengeluarkan fakta-yang dibantah habis-habisan-seperti itu?sejak ia sekolah kepastoran hingga lulus katekisasi dan menjadi pengawas katekisasi, lalu diangkat menjadi ahli katekisasi belum pernah ia temui seorang Nabipun yang perempuan, atau keperempuan-perempuanan.
“Itu bencong namanya!” Dengusnya kembali. Sosok wanita dalam kitab itu, paling mula adalah Eva, yang betul-betul memiliki rasa ingin tahu yang besar dan siapa tahu: dengan memakan buah pengetahuan, keturunannya kelak dapat menjalani hidup lebih baik. Tidak kena banjir lima tahunan. Tidak kena macet berjam-jam, dan kata orang islam, dari azan ke azan.
Adam hanya tergoda, hanya tergoda! Terangnya suatu kali di kelas. Yang menggodanya Eva, yang menggoda Eva adalah iblis, yang memaksa Iblis adalah Takdir. Masalahnya lagi, Tuhan seperti membiarkan dirinya posesif terhadap kehendak wanita.
Adam itu lelaki. Iblis juga. Tuhan ikut-ikutan demikian. Jadilah Eva dikungkung kehendak laki-laki dalam surga. Malang nian, ia dituduh menyesatkan Adam dengan memaksanya memuaskan rasa ingin tahu di Pohon Pemuas Rasa Ingin Tahu-Pohon Pengetahuan.
Kardinal itu kembali menepuk-nepuk jidatnya.
Kegemparan ini sampai juga ke telinga majelis ulama. Maka, mereka ramai-ramai mengadakan isbat dan memutuskan banyak fatwa-fatwa: pertama, bahwa sifat keperempuan-perempuanan dan perempuan haram dinisbatkan kepada Allah, Ar-Rahim. Ini di dasarkan pada perempuan yang lemah lembut dan keibuan. Masak iya Tuhan keibuan?
Tuhan dalam salah satu tafsir digambarkan berkata ganti laki-laki, meski tak berfisik laki-laki. Entah kenapa. Ilmu kalam namanya, dan dibantu dengan ilmu nahwu. Mempelajari pembahasaan Tuhan dalam kitab suci. Mengganti Tuhan dan menyederhanakannya menjadi kata-kata.
Bahasa manusia memang terlalu sederhana untuk melukiskan kenyataan. Hanya terdiri dari kumpulan bunyi-bunyi, dan bunyi-bunyi ini masih disederhanakan lagi menjadi aksara yang seringkali gagal menerjemahkan bunyi dengan sempurna dan akurat.
Kedua, bahwa sifat keperempuan-perempuanan dan perempuan tak mungkin melekat pada diri seorang Nabi. Asal catatan saja, untuk membuat pasal dua ini, mereka harus membolak-balik kitab-kitab karya Ghazali dan ahli tafsir salaf. Takut salah. Ya, gengsi lah, ulama kok salah. Pun dengar-dengar urusan wanita juga diurusi ulama laki-laki disana.
Ketiga,-ini yang paling utama-tak ada Nabi perempuan dalam agama! Karena Nabi itu mutlak laki-laki, untuk menyempurnakan hukum-hukum tentang perang, yang hanya di kuasai laki-laki perwira. Untuk menyempurnakan hukum-hukum tata negara dan menjadi teladan bagi kepala negara. Agar jangan sampai, ada kepala negara perempuan yang dianggap serupa dengan Nabi.
Perempuan mungkin tak bisa menjadi Nabi, karena harus sembunyi di balik cadar lebar berlumur parfum sederhana. Nabi harus berkhutbah dan memberikan penerangan setiap hari, setiap detik, dan setiap saat. Tanpa cadar.
Atau juga, ia harus menjawab tantangan untuk menerima utusan dan hujatan dari berbagai kaum dan berbagi waktu dengan memasak bagi keluarganya, dan mencuci baju bagi anak-anaknya. Menjemurnya. Memandikan bayi. Menampi gandum.
Kembali pada puri kepausan yang gempar, disana sedang dipersiapkan aula untuk persidangan Kardinal. Lagi-lagi, persidangan Kardinal. Atas fatwanya, bahwa Nabi perempuan terbukti ada dalam injil. Seorang Nabi Perempuan.
Pers ramai-ramai mendatangi Puri di Vatikan Agung dan kantor-kantor majelis ulama. Beragam harian dan stasiun televisi lalu memanfaatkan keadaan. Ada yang mempertontonkan sejarah keduapuluhlima Nabi dan Rasul.
Ada juga yang membuat dialog-dialog, baik seagama maupun antar agama. Untuk menyelesaikan persoalan negeri ini, katanya. Entah apa hubungannya. Beragam pakar diundang. Ada ulama terkenal, ada ulama terkemuka, ada ulama ahli, dan ada dosen-dosen agama. Pakar-pakar komunikasi politik juga diundang.
Pengacara-pengacara sibuk mengumpulkan dan mengkaji fakta-fakta administratif penelitian Kardinal, dan ini cuma jadi berita samping. Yang menjadi headline, demonstrasi besar-besaran muncul di berbagai kota besar.
Berteriak-teriak. Mengutuk-ngutuk kardinal untuk mati. Dikecam sebagai hal yang tidak pantas, menghina Tuhan, menghina Nabi, dan utamanya: menghina hati masyarakat yang kadung yakin seyakin-yakinnya seluruh Nabi adalah laki-laki. Mutlak laki-laki dan milik laki-laki.
Aksi-aksi memenuhi jalan raya. Di pusat kota Roma, terjadi kerusuhan akibat polisi menyemprotkan meriam air kepada demonstran, dan dibalas kembali dengan bom molotov. Juga ada kembang api yang dilontarkan ke tanah.
Di koran-koran, gambar-gambar depan penuh jajaran tank dan pagar betis demonstran. Di televisi, karena dapat dilakukan siaran langsung, demonstran berteriak sekeras-kerasnya: Bakar!
Yang unik, baik polisi, tentara, demonstran, dan kamerawan, semuanya laki-laki. Biasa, yang polisi berumur diatas tiga puluh, yang tentara lebih muda beberapa tahun. Panglima dan kepalanya lebih tua, diatas empatpuluh. Kamerawannya dibawah empat puluh, karena pengalamannya meliput di berbagai negara menghabiskan usianya.
Yang termuda, tentu saja, sekaligus satu-satunya perempuan dalam demonstrasi ini, sang reporter dan pembaca berita. Dibawah tigapuluh. Dengan suara yang tetap anggun, ia memberitakan pergumulan para laki-laki akibat fakta ada Nabi perempuan yang dibuktikan oleh kardinal laki-laki pula.
Ia menjadi reporter televisi tempat ia bekerja saat ini karena wajahnya yang anggun, dan gaya bicaranya yang luwes. Ditunjang pula dengan pengetahuannya di bidang politik dan sosial yang mumpuni, besar harapan ia mendongkrak rating yang kembang kempis diterkam sinetron yang menceritakan hubungan lelaki dengan perempuan yang dirusak seorang perempuan yang menarik hati lelaki itu, lalu perempuan satunya marah dan lelaki itu menciut di mata kedua perempuan dalam cerita itu.
Atas alasan keamanan, kota ditutup selama beberapa hari, sampai dengan sidang dilaksanakan dan menghasilkan keputusan yang menentramkan hati masyarakat. Barikade dan blokir dipasang dimana-mana. Sampah tak sempat dibersihkan.
Hari persidangan akhirnya tiba. Setumpuk besar kitab-kitab masa lampau digelar sebagai saksi ahli. Barang bukti, adalah dokumen-dokumen penelitian. Hadir juga Paus, yang berpura-pura tenang tetapi bermata tajam. Tentu saja, khawatir azab apa yang bakal nuzul ke kotanya.
Kardinal didatangkan sebagai tersangka, namun mata yang hadir di ruang itu sudah menganggapnya terhukum di mata Tuhan.
Sidang dibuka.
“Saudara Kardinal-ehm-maksud saya, Alexandris, tertuduh, melakukan penistaan agama dan penyimpangan dengan mengeluarkan dan menyebarluaskan penelitian yang membuktikan adanya Nabi Perempuan dalam injil. Terdakwa terbukti salah menurut konvensi yang tercantum dalam tata aturan kepausan, kode etik kekardinalan, dan hukum-hukum baik tersirat maupun tersurat dalam alkitab!” Jaksa memberikan tuntutan.
Giliran saksi ahli bicara, “Dalam hukum ketuhanan Alkitab, Tuhan digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki sifat laki-laki. Ia berkelahi dengan Ayyub. Ia menyelamatkan Umat Musa dari Firaun. Ia mendagingkan Jesus”
Televisi yang menyiarkannya terus-menerus secara langsung tidak memberikan ruang untuk iklan sama sekali. Ini sidang maha penting.
“Silakan saudara Tertuduh-atau yang mewakilkan-untuk mengajukan pembelaan!” Hakim memberi kesempatan.
“Saudara Jaksa, Hakim, dan Saksi yang terhormat dan selalu dalam berkat Tuhan, Tuhan Maha penyayang. Saya menyambut baik adanya persidangan ini, dan klien saya, terbukti telah beritikad baik untuk hadir ke ruang sidang yang agung ini, dalam puri kepausan. Tak lupa, Paus yang saya sayangi, selaku kuasa tertinggi di alam semesta keberagamaan manusia, turut kami hormati” Pengacara Kardinal diam sejenak. Ia tahu, semua yang ada dalam ruang sidang adalah laki-laki dan tak kenal ampun kecuali ada sesuatu yang mampu membungkam mereka.
“Tetapi,” lanjutnya.
“persidangan ini cacat dan timpang!”
Hadirin dan aparatur sidang kikuk dan agak heboh, apanya yang timpang? Jelas-jelas si Kardinal melanggar hukum!
“Pelaku telah ada. Demikian dengan bukti. Pun aparatur sidang telah lengkap bersama panitera. Saya ingin kepastian. Siapa korban dalam persidangan ini? dan
jika ada, hadirkan kemari! Saya mengajukan pending untuk menghadirkan korban dari penelitian si Kardinal!”
Tok! Palu besar menghajar setiap yang hadir di ruang sidang. Korban! Siapa korbannya! Apakah kalangan kepastoran dan paus di lingkungan Puri? Ya, bisa jadi, sebab merekalah yang pertama kali terhina dalam persoalan Nabi Perempuan ini.
Masalahnya, mereka tak terkena serangan fisik sedikitpun. Bahkan, penelitian sang Kardinal sama sekali tidak mencantumkan Kardinal lain dan Paus sebagai variabel penelitian atau faktor dan media. Bahkan juga sebagai peubah. Apanya yang korban. Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan adanya Nabi Perempuan, bukan keperempuan-perempuanan tokoh-tokoh agama yang kita hormati. Kenapa mereka merasa jadi korban?
Ambil kemungkinan lain, pikir si hakim dan panitera sidang. Di luar sana, ratusan ribu demonstran berkumpul. Tetapi masalahnya, apakah mereka juga diserang secara fisik? Lagi-lagi penelitian ini hanya menyinggung hati mereka.
Pasal untuk penyinggungan perasaan orang hanya berisi ganjaran larangan berbicara di depan umum selama beberapa bulan. Tetapi ini tak dipandang cukup memuaskan hati publik. Mengatakan seorang Nabi perempuan adalah hinaan bagi masyarakat.
Juga, kebanyakan demonstran justru terluka karena bentrok dan penghajaran oleh polisi yang mengamankan kota. Luka-luka yang timbul ini malah nyata dan bisa dinilai secara konkret, ada darahnya. Justru mereka menjadi korban polisi jika begini. Yang dituntut polisi, bukan kardinal.
Hakim akhirnya mencoba kemungkinan terakhir, yang menjadi korban adalah: Tuhan dan Nabi yang sudah mati ribuan tahun lalu. Nah, bagaimana cara menghadirkan mereka alam persidangan?
Entah bagaimana caranya, Hakim yang putus asa ini, atas restu Paus, memasang salib besar di ruang sidang sebagai wakil dari korban. Ya, wakil dari korban yang dinilai akan tersakiti atas hasil penelitian si kardinal.
Dalam persidangan, terjadi debat alot antara saksi ahli dengan hakim.
“Kini Saudara Korban-Tuhan dan Nabi-Nabi-telah hadir dalam persidangan, mari kita buka skorsing!”
Tok! Palu kembali menjadi penunjuk watu untuk memulai senyum simpul pengacara yang menahan tawa dengan dipajangnya salib sebagai wakil dari korban yang katanya, Tuhan itu sendiri. Percakapan dimulai kepada saksi ahli.
“Saudara saksi hafal ayat alkitab?”
“tak ada hubungannya”
“Saudara saksi tahu ada berapa Nabi dan jenis kelaminnya?”
“Ratusan, dan semuanya laki-laki!”
“Saudara saksi, apa dalil-dalil kelelakian Nabi ada yang bisa membantahnya?”
“Sepengetahuan saya, tidak ada”
“Saudara saksi, apa dalil-dalil alkitabiah menyatakan dan menyiratkan, ada Nabi Perempuan?”
“Sepengetahuan saya, tidak ada”
Singkat cerita, waktu berjalan dan Kardinal dipaksa terbukti bersalah.
“Saudara pengacara, bagaimana penjelasan anda?’
“Yang dikemukakan tertuduh dalam penelitiannya, benar adalah Nabi Perempuan. Tetapi harap dipahami secara tata bahasa dan hermeneutika, bahwa Nabi Perempuan tak mesti seorang perempuan”
“Saudara tertuduh terbukti bersalah, kini silakan mengajukan pembelaan”
“Saya menyatakan, hasil penelitiannya sah dimata ilmu pengetahuan dan agama, karena beberapa hal yang saya kemukakan dalam bab pembahasan dan landasan teori yang juga saya buat dengan cermat” Katanya.
“Tetapi tak pernah ada Nabi berjenis kelamin perempuan, saudara Korban telah menyatakan dalam kitab-Nya bahwa semua Nabi berjenis kelamin laki-laki dan turun di tengah laki-laki, dan Jesus Kristus mewarisi sifat Tuhan, maka ia turun sebagai laki-laki!”
Salib diatas meja tentu saja diam. Sebagai benda mati, ia mahfum. Perdebatan ini bukan urusannya. Masalah ia dianggap wakil korban-Tuhan-ia tak ambil pusing.
“Saya menyatakan tetap pada pendirian!” seru Kardinal.
“Tentu ada Nabi Perempuan,” sambungnya, “Nabi bagi para perempuan!”


ar-risalah

Damaskus Satu Ketika



Malam tiba, pertempuran untuk sementara dihentikan. mengikuti turunnya matahari yang melelahkan panca indra. Siang tadi, belasan tentara yang mati. Ya, pertempuran menderu dengan keras. Peluru-peluru tak lagi mengenal tuan atau lawan. Selain tentara, puluhan orang sipil mati terinjak-injak menghindari roket dan kejaran anjing-anjing yang dilepaskan tentara pemerintah Suriah.
Semua tentara yang mati dikumpulkan, dijejerkan di pinggir tenda utama pasukan pemerintah. Bendera besar dan sebuah pigura bergambar Bashar tergantung di kain dinding. Satu jenasah berlumur darah. Satunya kehilangan tangan dan kaki. Satunya beku, darahnya habis tertelan roket yang ia lemparkan sendiri.
Ditutupi kain putih.
Sebagian menyiapkan kantong jenasah merah. Ambulan meraung-raung mencari orang sipil, tetapi yang ia dapatkan hanya jenasah tentara. Yang sipil dibawa keluarganya, atau membusuk tanpa dikenali lagi.
Di tengah reruntuhan kota, seorang kolonel menembak seorang militan siang tadi. Menembus liang matanya. Peluru berdentingan, jatuh ke balik reruntuhan batuan. Tangan sang pejuang, tanpa disadari oleh kolonel, memegang sebatang bunga putih kecil padang pasir, yang rencananya ia akan berikan kepada ibunya: tanda ia siap menerima perang dan kematian tanpa ragu-ragu.
Dan peluru itu menemukan sebilah pisau yang diliputi darah bekas luka seorang anak muda.
Didekatnya, senapan kecil sang militan terjatuh dan berbaring. Menyimpan sebuah peluru lain yang belum sempat ditembakkan.
Malam bertambah hening, perang dengan khidmat dan tenang menelusup ke setiap butir pasir dan debu. Menyusup jauh kedalam malam.
“Malam tiba” Peluru memecah keheningan.
“Seharian para pengungsi kehilangan jalan, jalan yang tersisa ditutupi barikade” Sahut Pisau sekenanya.
“Aku belum tahu, kenapa aku ditembakkan” Keluh Peluru. Terdengar suara tangis diselingi jerit sayup-sayup meruah di udara.
Di kejauhan sana, seorang ayah menemukan anaknya tertimpa reruntuhan rumah yang diledakkan siang tadi. Orang-orang Bashar mendeteksi, rumah itu markas oposisi.
“Bashar masih ingin hidup lebih lama” Senapan sang militan membuka mata. Menemukan kesadaran.
“Sebagaimana yang lain, ia menggunakan kita untuk memanjangkan umurnya” sambung Senapan.
“Kita tidak tahu apa-apa” tutup peluru.
Sementara itu, pagi kembali tiba. Terbitnya lebih merah, ketika sekelompok militan lain menemukan jasad temannya tadi, yang ditembak sang kolonel tadi siang. Darahnya merah. Memerahkan mata mereka, yang setengah tergetar mencoba mengangkat tubuh itu. Tubuh temannya sendiri, yang sangat mereka kenal sedari kecil. Dan bunga putih kecil padang pasir itu, yang masih digenggam sang jenasah, bunga yang sama yang mereka berikan kepada ibu-ibu mereka di pengungsian beberapa hari yang lalu
****
“Allahu Akbar! Surga semakin dekat!” Belum sempat ia membawa jasad temannya, sebuah panser memasuki jalan. Dari sudut 15, bekas rumah seorang nenek tua.
Para militan bersiap, mereka tiarap di balik dinding-dinding yang sudah hancur. Mengambil posisi bertahan, karena mereka bukan militan garis depan. Mereka hanya berjaga tanpa mengenakan rompi pengaman, atau senapan kaliber besar.
Bau perang semakin kuat. Bau darah. Bau peluru tajam yang hampir ditembakkan. Tiba-tiba, bercampur bau kerinduan pada masa sebelum perang, muncul di udara.
“Perang akan kembali dimulai” Bisik senapan, yang masih memperhatikan keadaan.
“Peluru di dalam senjata tak tahu apa-apa, mereka ditembakkan begitu saja” Pisau menutup wajahnya. Entah kenapa.
Senjata diletuskan kedua belah pihak, keadaan berkecamuk dan terjadi tembak-menembak yang lumayan besar. Peluru para militan tak mampu menembus baja panser, tetapi sebuah granat menggelinding tepat kearah mereka. Granat, yang mengakhiri konsep-konsep yang diperbincangkan para militan hampir setiap hari.
****
“Dua hari, teman. Dua hari yang lalu ia mati. Tuanku memancarkan wangi, tidak seperti mayat-mayat lainnya” ujar Senapan.
“Itu aroma yang biasa muncul hanya ketika darah, mesiu, dan debu jalanan bercampur di kota ini” jawab Pisau. Tetapi Pisau sempat melihat bunga putih, yang koyak dilebur granat.
“Kapan perang ini berhenti?” sambung Senapan.
“Ketika hanya ada satu islam”
“Yang mana yang menang, perkiraanmu?”
“Entahlah, yang mati mempertahankan diri dan yang menyerang, tak bisa kubedakan. Tidak seperti kita, ditempa dengan fungsi yang berbeda-beda. Aku dihunus, kau diletuskan. Mereka yang bekerja” Pisau menerawang sejenak. Ia merindukan tangan yang menghunusnya bukan untuk perang.
“Rasa darahnya sama. Meski aku baru menembus satu kepala. Bukankah perang ini menuntut kepatuhan semata, lantas kenapa tidak ada yang mematuhi Bashar?”
“Tuhan memerintahkan kita untuk mematuhi-Nya”
“Dia adalah pemimpin negeri ini. kau digerakkan oleh pemberontak”
“Begitulah, Tuhan telah menciptakan manusia yang menumpahkan darah”
“Kita tidak tahu apa-apa” Senapan ikut merenung.
“Dulu sekali, aku adalah sebilah pedang kepunyaan Imam Ali. Betapa gemuruhnya, ketika seratusribu pedang lain tunduk pada perintahku. Sasaranku satu: membuat Muawiyah Ibn Abi Soufyan, yang kala itu menjadi wali daerah ini, tunduk. Ia mengaku khilafah”
Ia mengingat-ingat peristiwa seribu empat ratus tahun yang silam. Pertempuran Shiffin, sembilan puluh ribu lawan delapan puluh ribu. Pertempuran dahsyat terjadi antara dua teman. Ammar Ibn Yasir tewas. Perang berhenti ketika Amru Ibn Ash melakukan muslihat, mengikatkan al-qur’an pada ujung tombak-tombak dan berseru: mari kembali para Kitab Allah!
Tentu saja, sluruh tentara Ali, yang islam, goncang kepatuhannya pada sang Imam.
Mari kembali pada Kitab Allah!
Dan enampuluh ribu diantara mereka berdua mati.
Tetapi, tuntutan mereka satu: bela darah atas Utsman, yang dibunuh tanpa tahu apa-apa mengenai kesudahan perisitiwa sepeninggalnya. Mengenai perang, yang menimpa Khalif setelahnya.
“Dua sahabat Rasul yang agung pun berperang. Bukankah kesudahannya salah satu diantara mereka mati?”. Ya. Ali, akhirnya dibunuh seorang khawarij, yang merasa Sang Khalif tak becus menyelesaikan kasus pembunuhan Utsman.
“Ali tidak tahu apa-apa tentang masa ini. begitu pula Muawiyah”
“Pisau,” sambung peluru.
“Dulu aku adalah tameng yang digunakan Muawiyah. Belum pernah sekalipun aku diliputi darah orang muslim, kecuali saat Muawiyah mesti tergores duri kecil di pinggiran bukit dekat Damaskus”
“Saksikanlah: bukankah mereka berdua tidak pernah melukai siapa-siapa?” Pisau mengingat-ingat masa lalu. Tepat seribu empat ratus tahun yang lalu. Ketika perang bukan untuk melukai, tetapi untuk mencari kebenaran. Perang hanya antara prajurit dan prajurit. Pedang dan pedang. Dan semuanya mempertahankan kebenaran.
Kebenaran.
Kebenaran!
Tiba-tiba, jenasah sang militan bangkit, di hari keempat. Tubuh mati itu pelan-pelan berdiri, membelakangi pisau, peluru, dan senapan. Kebangkitan agung, tepat ketika para militan menghadang iringan kendaraan militer. Ia terlihat bercahaya, mengenakan kafiyeh dan jubah kekuningan. Gading. Menghunus sebilah pedang, yang sangat dikenal Pisau.
Ikat kepalanya berkibaran di udara.
Tubuhnya harum sekali, seperti aroma bunga-bunga sahara. Tetapi, ketika tubuh sang militan menoleh, dan wajahnya terlihat sempurna, wajah yang sangat dikenal Pisau dan Peluru mengguratkan kewibawaan:
“Imam Ali?” Kata peluru.
“Ya, ia Imam Ali!”
“Jangan kejar mana yang lari! Jangan lakukan perampasan!” tiba-tiba, ia berseru. teriaknya tergema membahana. Imam ali mendadak disertai kemunculan ghaib puluhan ribu orang lain dibelakangnya. Pisau dan yang lain hanya bisa terpana. Peristiwa ghaib apa yang tengah terjadi dihadapan mereka?
Itu Ahnaf Ibn Qays. Panglima besar Tamim.
Itu Asytar An-Nakhi. Pewaris Khalid Ibn Walid.
Itu Malik Ibn Asytar.
Itu Ammar Ibn Yasir! Yang hanya akan dibunuh oleh para pendurhaka!
Kuda-kuda mereka mencetuskan debu, namun wajah-wajah mereka tidak mencerminkan ketakutan atau kejenuhan. Imam Ali dengan tenang, tetap berjalan kaki. Membiarkan debu-debu jalanan melekati kakinya. Ratusan tentara pemerintah Bashar dan para militan yang memang akan saling serang dan telah tiba disana, terkejut sekaligus terpana, ada ribuan orang datang secara ghaib dari kematian, dan itu adalah para sahabat nabi! mereka keheranan. Kenapa bisa para Shahabi agung ini berkumpul, dari kematian mereka?
“Jangan kalian kira, kami mati. Kami dari sisi Allah, Tuhan Sunni dan Syiah” Ammar Ibn Yasir berkata dengan tenang. Panahnya, kini lahir sebagai pistol yang menembuskan peluru ke mata sang militan. Ia seolah tahu, keheranan akibat kebangkitan mereka yang ghaib dan mengejutkan.
“Perang ini bukan urusan kalian, bukan?” Kata Imam Ali.
“Bashar hanya ingin mempertahankan kekuasaannya. Orang-orang Farisi disana, hanya menginginkan tersebarnya keyakinan mereka kepadaku, tidak lebih”
“Tubban laka’ Bashar. Ia menjual dirinya seharga gunung di Golan! Ia menyebabkan banyak kehancuran!”
“Asytar, hadapi tentara Bashar. Kau, Ahnaf, hadapi para militan! Kita bersihkan dulu kota ini!”
Tiba-tiba, orang-orang sipil yang bisa mengenali mereka berkumpul dan mengikuti langkah tentara pimpinan Imam Ali, menghentikan gelombang para pengungsi. Mereka seperti menemukan harapan yang baru.
Mereka menemukan Imam mereka, ya, Sunni dan Syiah, akhirnya menemukan Imam Ali yang sesungguhnya, bersama-sama para shahabiyin lainnya dan ingin menghentikan perang.
****
Tepat ketika senja hampir tiba, pertempuran antara para sahabat nabi ini dengan pasukan Bashar dan para militan berhenti. Tetapi, tak ada yang terbunuh atau terluka. Semuanya menjadi bunga padang pasir kecil berwarna putih ketika tertembus pedang para shahabiyin itu.
Tepat, ketika pedang orang-orang ghaib itu menyentuh kulit para tentara dan militan, ada getaran misterius yang mengingatkan mereka kepada sesuatu.
Mengingatkan mereka pada bunga putih kecil, yang pernah mereka tanam di masa kecil mereka, jauh di dalam hati.
Sangat-sangat jauh di dalam hati..
Bunga putih ukhrawi, yang ada di hati setiap mukmin. Kemunculan mereka, dan sabetan pedang yang lembut, menumbuhkan kembali bunga-bunga putih padang pasir. Yang ramah. Yang bermadu. Yang bergoyang pelan diterpa angin sahara.
Ya, Damaskus dan sekitarnya kini dipenuhi bunga putih kecil. Seperti ladang bunga tempat para gembala bermain bersama domba dan untanya. Bunga putih, yang mendaifkan wujud jasmiyah para tentara, militan, dan kolonel.
Imam Ali yang agung lalu berhenti, di sebuah jalan besar. Asap masih mengepul di sekitarnya. Namun dipenuhi bunga-bunga putih, yang menggambarkan keriangan.
Ia memetik satu bunga putih itu, dari pinggir jalan. Ia lalu menciumnya dalam-dalam, seperti menemukan sesuatu yang mungil namun ia rindukan.
“Pertempuran sudah berhenti! Sunni, Syiah, hanya sekelompok orang yang mencari kebenaran, namun dijadikan alat pembenaran oleh mereka yang sesat!”
“Tak ada perang kecuali Perang, tak ada cinta kecuali Cinta! Kota ini adalah kota tempat para raja-raja Umayyah dilahirkan dan berkuasa. Kota ini juga tempat Umar, kekasihku, mendapatkan kehormatannya. Juga Utsman Ibn Affan, Muawiyah, Shalahuddin!”
“Tak ada tepat buat darah mengalir di kota ini! tak ada darah kecuali Darah!” Imam Ali lantang berpidato. Yang hadir setengah menangis, bisa melihat wajah junjungannya ini.
“Manusia! Ayahmu satu. Sedangkan ia dari tanah: di tanah kita berperang, di tanah pula kita mati”
Angin menggerak-gerakkan bunga-bunga putih kecil. Harumnya mewarnai kota Damaskus. Tiba-tiba, Imam Ali seperti diliputi cahaya, dan ia membuka kafiyehnya:
“Akulah Bashar Al-Asad!”
Yang hadir terkejut, lalu memandang Imam Ali yang baru saja berkata secara mencengangkan itu.
“Aku juga syuhada yang mati digilas tentara Bashar!” sambungnya.
“Aku adalah tentara, yang mati ditembak para militan!”
“Aku adalah pasir dan debu-debu kota Damaskus, aku juga gedung yang hancur diterpa ledakan. Aku adalah Ali, Muawiyah, Ammar, Asytar, Ahnaf. Aku adalah orang-orang sipil yang tak tahu apa-apa”
“Aku adalah gunung-gunung yang menyaksikan pertempuran, selama ribuan tahun di dataran ini. aku adalah Golan. Aku adalah Syiria. Aku adalah Syam. Akulah yang kalian perebutkan!”
“pertempuran ini, sesungguhnya terjadi dalam pikiran kalian saja, tanah ini tetap dengan tenang berdiri. Dataran Tinggi Golan yang bijaksana tetap ada di tempatnya!”
“Maka, jangan berpikir tentang pertempuran! Sunni, syiah, aku Imam Ali telah mati. Lalu kalian mau mempertahankan apa kecuali tiada cinta kecuali Cinta? Pada masaku, perang hanya untuk menegakkan perjanjian damai antara Utusan Allah, manusia, dan juga antara masyarakat”
“Tiada cinta kecuali Cinta, tiada damai kecuali Damai! Bashar, para militan, pisau, peluru, senapan, bendera, darah, adalah satu kesatuan, semuanya dari bumi, dan tak pantas diantara anak cucu bumi saling membenturkan diri”
“Wahai Putra Air Langit, Bani Ma’isamaa! Hujan awal musim semi akan segera turun, menghapus jejak darah!”
Tubuh itu, seorang militan yang bangkit lagi menjadi Imam Ali, yang kini menahbiskan dirinya adalah saksi segalanya, memandang satu-satu sahabiyin yang bangkit mengikutinya.
Ia membayangkan masa kecil yang indah bersama mereka di Makkah. Ia membayangkan penyiksaan yang datang bertubi-tubi dari para penentang ketika sama-sama mempertahankan keyakinan. Ketika belum ada prasangka diantara mereka tentang siapa yang salah, dan siapa yang lebih salah.
Tetapi ini: darah keyakinan yang sama, mesti jatuh seperti gerimis ketika salah seorang dari mereka ingin mempertahankan umurnya lebih lama.
Mendadak, Imam Ali, diiringi ribuan tentara para shahabiyin mengangkat tangan kelangit dan terdengar suara dzikir yang membahana, memenuhi gurun dan lembah, memenuhi kota-kota, dan memenuhi segala ruang yang menjadi medan pertempuran. Memanggil-manggil nama Tuhan. Memanggil-manggil rahmat yang lama terhenti. Memanggil-manggil yang maha Penyayang.
Pisau, Peluru, dan Senapan hanya bisa diam. Mereka tetap hanya benda mati, yang dipengaruhi kehendak pemiliknya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, mereka hanya saling menggumam dalam hati. Tentang perang. Tentang jalannya perang. Tentang Imam Ali yang tiba-tiba muncul, dan memberikan harapan baru bagi tegaknya kedamaian di Suriah, Iran, Iraq, Afghanistan, Sudan, Indonesia, dan segenap kantong-kantong perang lainnya yang terpendam namun menjadi bisul yang menyakitkan hati setiap orang.
Mereka akhirnya berhenti menggumam. Mereka memilih dengan syahdu mengikuti suara dzikir yang terbang di udara seperti kupu-kupu, dan satu-satu menghinggapi bunga-bunga putih kecil yang tumbuh memenuhi kota.
Seluruh kota, yang diselimuti bunga-bunga putih kecil, kini juga dipenuhi kupu-kupu dzikir para shabiyin itu, dipimpin Imam Ali. Seperti musim semi sehabis kemarau panjang yang diciptakan Bashar.
Bunga-bunga putih kecil, yang berasal dari para militan dan tentara, mekar dengan sempurna, dan menyambut matahari dengan lebih terbuka. Lalu ikut pula berdzikir, hingga dzikir itu kini aromanya seperti bunga putih kecil padang pasir.
Dan kupu-kupu terbang diantaranya, terus keatas, hingga jauh, jauh menuju ketinggian, tempat Tuhan betul-betul berada.
Dzikir mereka diikuti segenap orang-orang sipil yang hadir, dan dari menara putih Damaskus, menara sebuah masjid tua tempat di ibukota tempat Bashar mengatur jalannya perang. mendadak sebuah cahaya terang menyala lembut, lalu orang-orang berteriak:
“Isa Al-Masih Ibn Maryam, Rasulullah telah nuzul kembali!”


ar-risalah

Renung



Aroma malam yang terus mengunduh gemintang di langit sana setiap detiknya semakin menunjukkan gelapnya kabut malam yang datang bersama tiupan gelombang angin. Menerbangkan dedauanan kering dan bunga-bunga yang mengkerucut kuncupnya, tak berani menantang malam. Lampu-lampu jalanan seakan berperang dengan lampu-lampu taman mengadu terangnya cahaya yang mereka pancarkan. Di tiang lampu taman seseorang tengah duduk menengadah langit dengan aroma rokok kretek yang begitu menyengat dari mulutnya. Ia menyadandarkan tubuhnya di tiang itu sembari duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen dengan balutan cat berwarna hijau.
                Dilihatnya sekeliling taman ini seakan sepi, biasanya orang-orang asyik berduaan berkasih-kasih di taman ini. Namun sekarang begitu sepi, hanya ada kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan tepat di hadapan orang itu. Diseruputnya kopi hitam yang semenjak tadi menemani sebatang rokok yang menyempil di antara kedua jarinya. Semakin nikmatlah suasana sepinya malam ini, terasa hingga relung paru-paru dan terecap hingga batang tenggorokkan.
                “Bang boleh pinjem korek gak?” sebuah suara anak kecil mengagetkan orang itu.
                “Hah, mau ngerokok dek?”.
                “Iya Bang” anak itu tersenyum.
                “Kecil-kecil udah ngerokok. Nggak boleh!”.
                “Yahhh Bang”.
                “Ngapain kamu masih kecil udah ngerokok?”.
                “Abisnya dari tadi saya ngeliat Abang ngerokok sendirian aja asyik sih. Siapa tahu kan kayak Abang, ngerokok bisa ngatasin kesepian”.
                “Waduh, sok tahu nih anak. Kata siapa ngerokok bisa ngobatin kesepian?”.
                “Dari mata Abang”.
                “Eh jangan sok tau. Udah malem ngapain anak kecil kayak kamu masih di luar?”.
                “Nggak tahu nih Bang, tadi disuruh sama Ibu nyari orang yang lagi duduk sendirian di taman”.
                “Hah, terus kenapa ke sini?”.
                “Ya abis yang duduk sendirian di sinikan cuma Abang”.
                Sejenak mata yang menghitam legam dari wajah orang itu seakan tampak begitu kebingungan dengan kehadiran seorang anak kecil di sampingnya. Aroma udara malam yang begitu pekat seakan hilang perlahan-lahan sepinya dari kulit orang itu. Dinginnya angin yang menerbangkan dedauanan kering seakan telah menghilang keberadaannya. Semua lampu jalanan dan lampu taman telah mati, kecuali lampu taman yang ada di antara mereka berdua. Suara-suara bising kendaraan yang lalu lalalng di jalalan sana pun lenyap seketika.
                “Eh namamu siapa?”.
                “Iwan, Bang. Kelas 2 SD Bang” anak itu tersenyum kembali.
                “Lah belom juga nanya lagi udah dua kali jawab aja?”.
                “Hahahaha abis udah ketauan pasti pertanyaan selanjutnya apa Bang” anak kecil itu menggaruk-garuk kepalanya.
                “O iya tadikan kamu bilang kalua kamu ke sini disuruh Ibu, emang Ibu kamu siapa kok tahu saya?”.
                “Nah itu dia om saya lupa nanya sama Ibu saya soal itu. Apa mau saya balik lagi nanya ke Ibu saya om?”.
                “Nggak usah, nggak. Ntar malah bikin cape doang kamunya….”.
                “Tapi sih yang jelas, yang saya udah ucapin tadi Bang. Saya disuruh kemari buat nyari orang yang duduk sendirian di taman terus disuruh nemenin dia Bang”.
                “Aduhhh makin nggak ngerti aja nih otak” orang itu menggaruk-garuk kepalanya, tak begitu keras garukkan yang ia lakukan tapi untuk sekedar menyentuh rambutnya yang panjang tentu sangat terasa.
                “Tapi Abang sadar nggak”.
                “Sadar apa Dek?”.
                “Abang nggak kelihatan kesepian lagi” anak kecil itu bangkit dari tempat duduk di samping orang itu dan berlari sembari tertawa begitu riang.
                “Hey Dek, tunggu mau ke mana?”.
                “Mau pulang Bang, udah disuruh pulang sama Ibu” anak itu menghilang di kejauhan malam.
                Sebuah senyuman merekah dari balik wajah orang itu. Lampu-lampu jalanan dan lampu taman yang tadi mati kini menyala kembali. Aroma malam kembali terasa disertai angin malam yang begitu dingin. Kendaraan yang lalu lalang mulai kembali membuat bising suasana.
                Orang itu berdiri, menyeruput kopi dari gelasnya hingga habis dan menghisap rokoknya yang tinggal satu hisapan. Dibuangnya gelas kopi dan puntungan ke dalam tempat sampah.
                “Esok tahun baru ya? Aku lupa bahwa ada yang harus kukerjakan”. 


Ridwan

Sajak Dari Suara Kecil


Dari suara yang mungkin tak terdengar
bagi mereka yang menganggap mereka besar
sehingga sebelah telinga saja tak mau terbuka
mungkin aku memang kecil
namun aku memiliki suara
bukankan kita sedang melewati jalan yang sama
mengapa kalian membuat jarak untuk koloni kalian sendiri ?
bukankah telah dijelaskan dibawah cakar sang Garuda
apakah virus yang bernama kesombongan
telah menggerogoti sebagian otak kalian
bukankan kita sama-sama terbuat dari tanah
lantas apa yang membuat kita seolah seperti manusia dan dewa
jika kalian merasa seperti dewa
apakah seorang dewa tak mampu mendengar suara manusia
dan tak menganggap mereka yang tidak menyembahnya ?


Boim Tembok
Jakarta, 24 Desember. 2012