Rabu, 09 Januari 2013

Reaksi



Kepastoran gempar, dan dilanda huru-hara. Bagaimana tidak? Penelitian seorang kardinal agung membuktikan dalam Injil bahwa: ada seorang Nabi perempuan pada kisah-kisah tersembunyi dan itu menjadi nama bagi laki-laki karena kesalahan terjemah! Hari-hari yang tenang dalam puri kepausan menjadi sibuk, ada yang mempersiapkan persidangan, ada yang mampet di ruang diskusi untuk memutuskan: yang salah itu Kardinalnya atau tukang terjemahnya, karena Injil tak mungkin salah.
Yang jadi masalah, telah membatu keyakinan umum bahwa Nabi adalah kata ganti bagi laki-laki pilihan Tuhan yang juga Laki-laki untuk menyebarkan berita gembira dan nubuat. Sejak Adam hingga Jesus Kristus, bahkan Muhammad, semuanya berjenis kelamin laki-laki dan digambarkan beristri banyak. Hanya seorang perempuan yang nyaris menjadi Nabi, dan sepertinya ia salah ditempatkan dalam silsilah, karena nyatanya yang menjadi Nabi adalah anaknya.
“Koplak!” tepuk Kardinal Dua di dahinya sendiri. Ia tak habis pikir. Metode hermeneutika macam apa, filologi macam apa yang mengeluarkan fakta-yang dibantah habis-habisan-seperti itu?sejak ia sekolah kepastoran hingga lulus katekisasi dan menjadi pengawas katekisasi, lalu diangkat menjadi ahli katekisasi belum pernah ia temui seorang Nabipun yang perempuan, atau keperempuan-perempuanan.
“Itu bencong namanya!” Dengusnya kembali. Sosok wanita dalam kitab itu, paling mula adalah Eva, yang betul-betul memiliki rasa ingin tahu yang besar dan siapa tahu: dengan memakan buah pengetahuan, keturunannya kelak dapat menjalani hidup lebih baik. Tidak kena banjir lima tahunan. Tidak kena macet berjam-jam, dan kata orang islam, dari azan ke azan.
Adam hanya tergoda, hanya tergoda! Terangnya suatu kali di kelas. Yang menggodanya Eva, yang menggoda Eva adalah iblis, yang memaksa Iblis adalah Takdir. Masalahnya lagi, Tuhan seperti membiarkan dirinya posesif terhadap kehendak wanita.
Adam itu lelaki. Iblis juga. Tuhan ikut-ikutan demikian. Jadilah Eva dikungkung kehendak laki-laki dalam surga. Malang nian, ia dituduh menyesatkan Adam dengan memaksanya memuaskan rasa ingin tahu di Pohon Pemuas Rasa Ingin Tahu-Pohon Pengetahuan.
Kardinal itu kembali menepuk-nepuk jidatnya.
Kegemparan ini sampai juga ke telinga majelis ulama. Maka, mereka ramai-ramai mengadakan isbat dan memutuskan banyak fatwa-fatwa: pertama, bahwa sifat keperempuan-perempuanan dan perempuan haram dinisbatkan kepada Allah, Ar-Rahim. Ini di dasarkan pada perempuan yang lemah lembut dan keibuan. Masak iya Tuhan keibuan?
Tuhan dalam salah satu tafsir digambarkan berkata ganti laki-laki, meski tak berfisik laki-laki. Entah kenapa. Ilmu kalam namanya, dan dibantu dengan ilmu nahwu. Mempelajari pembahasaan Tuhan dalam kitab suci. Mengganti Tuhan dan menyederhanakannya menjadi kata-kata.
Bahasa manusia memang terlalu sederhana untuk melukiskan kenyataan. Hanya terdiri dari kumpulan bunyi-bunyi, dan bunyi-bunyi ini masih disederhanakan lagi menjadi aksara yang seringkali gagal menerjemahkan bunyi dengan sempurna dan akurat.
Kedua, bahwa sifat keperempuan-perempuanan dan perempuan tak mungkin melekat pada diri seorang Nabi. Asal catatan saja, untuk membuat pasal dua ini, mereka harus membolak-balik kitab-kitab karya Ghazali dan ahli tafsir salaf. Takut salah. Ya, gengsi lah, ulama kok salah. Pun dengar-dengar urusan wanita juga diurusi ulama laki-laki disana.
Ketiga,-ini yang paling utama-tak ada Nabi perempuan dalam agama! Karena Nabi itu mutlak laki-laki, untuk menyempurnakan hukum-hukum tentang perang, yang hanya di kuasai laki-laki perwira. Untuk menyempurnakan hukum-hukum tata negara dan menjadi teladan bagi kepala negara. Agar jangan sampai, ada kepala negara perempuan yang dianggap serupa dengan Nabi.
Perempuan mungkin tak bisa menjadi Nabi, karena harus sembunyi di balik cadar lebar berlumur parfum sederhana. Nabi harus berkhutbah dan memberikan penerangan setiap hari, setiap detik, dan setiap saat. Tanpa cadar.
Atau juga, ia harus menjawab tantangan untuk menerima utusan dan hujatan dari berbagai kaum dan berbagi waktu dengan memasak bagi keluarganya, dan mencuci baju bagi anak-anaknya. Menjemurnya. Memandikan bayi. Menampi gandum.
Kembali pada puri kepausan yang gempar, disana sedang dipersiapkan aula untuk persidangan Kardinal. Lagi-lagi, persidangan Kardinal. Atas fatwanya, bahwa Nabi perempuan terbukti ada dalam injil. Seorang Nabi Perempuan.
Pers ramai-ramai mendatangi Puri di Vatikan Agung dan kantor-kantor majelis ulama. Beragam harian dan stasiun televisi lalu memanfaatkan keadaan. Ada yang mempertontonkan sejarah keduapuluhlima Nabi dan Rasul.
Ada juga yang membuat dialog-dialog, baik seagama maupun antar agama. Untuk menyelesaikan persoalan negeri ini, katanya. Entah apa hubungannya. Beragam pakar diundang. Ada ulama terkenal, ada ulama terkemuka, ada ulama ahli, dan ada dosen-dosen agama. Pakar-pakar komunikasi politik juga diundang.
Pengacara-pengacara sibuk mengumpulkan dan mengkaji fakta-fakta administratif penelitian Kardinal, dan ini cuma jadi berita samping. Yang menjadi headline, demonstrasi besar-besaran muncul di berbagai kota besar.
Berteriak-teriak. Mengutuk-ngutuk kardinal untuk mati. Dikecam sebagai hal yang tidak pantas, menghina Tuhan, menghina Nabi, dan utamanya: menghina hati masyarakat yang kadung yakin seyakin-yakinnya seluruh Nabi adalah laki-laki. Mutlak laki-laki dan milik laki-laki.
Aksi-aksi memenuhi jalan raya. Di pusat kota Roma, terjadi kerusuhan akibat polisi menyemprotkan meriam air kepada demonstran, dan dibalas kembali dengan bom molotov. Juga ada kembang api yang dilontarkan ke tanah.
Di koran-koran, gambar-gambar depan penuh jajaran tank dan pagar betis demonstran. Di televisi, karena dapat dilakukan siaran langsung, demonstran berteriak sekeras-kerasnya: Bakar!
Yang unik, baik polisi, tentara, demonstran, dan kamerawan, semuanya laki-laki. Biasa, yang polisi berumur diatas tiga puluh, yang tentara lebih muda beberapa tahun. Panglima dan kepalanya lebih tua, diatas empatpuluh. Kamerawannya dibawah empat puluh, karena pengalamannya meliput di berbagai negara menghabiskan usianya.
Yang termuda, tentu saja, sekaligus satu-satunya perempuan dalam demonstrasi ini, sang reporter dan pembaca berita. Dibawah tigapuluh. Dengan suara yang tetap anggun, ia memberitakan pergumulan para laki-laki akibat fakta ada Nabi perempuan yang dibuktikan oleh kardinal laki-laki pula.
Ia menjadi reporter televisi tempat ia bekerja saat ini karena wajahnya yang anggun, dan gaya bicaranya yang luwes. Ditunjang pula dengan pengetahuannya di bidang politik dan sosial yang mumpuni, besar harapan ia mendongkrak rating yang kembang kempis diterkam sinetron yang menceritakan hubungan lelaki dengan perempuan yang dirusak seorang perempuan yang menarik hati lelaki itu, lalu perempuan satunya marah dan lelaki itu menciut di mata kedua perempuan dalam cerita itu.
Atas alasan keamanan, kota ditutup selama beberapa hari, sampai dengan sidang dilaksanakan dan menghasilkan keputusan yang menentramkan hati masyarakat. Barikade dan blokir dipasang dimana-mana. Sampah tak sempat dibersihkan.
Hari persidangan akhirnya tiba. Setumpuk besar kitab-kitab masa lampau digelar sebagai saksi ahli. Barang bukti, adalah dokumen-dokumen penelitian. Hadir juga Paus, yang berpura-pura tenang tetapi bermata tajam. Tentu saja, khawatir azab apa yang bakal nuzul ke kotanya.
Kardinal didatangkan sebagai tersangka, namun mata yang hadir di ruang itu sudah menganggapnya terhukum di mata Tuhan.
Sidang dibuka.
“Saudara Kardinal-ehm-maksud saya, Alexandris, tertuduh, melakukan penistaan agama dan penyimpangan dengan mengeluarkan dan menyebarluaskan penelitian yang membuktikan adanya Nabi Perempuan dalam injil. Terdakwa terbukti salah menurut konvensi yang tercantum dalam tata aturan kepausan, kode etik kekardinalan, dan hukum-hukum baik tersirat maupun tersurat dalam alkitab!” Jaksa memberikan tuntutan.
Giliran saksi ahli bicara, “Dalam hukum ketuhanan Alkitab, Tuhan digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki sifat laki-laki. Ia berkelahi dengan Ayyub. Ia menyelamatkan Umat Musa dari Firaun. Ia mendagingkan Jesus”
Televisi yang menyiarkannya terus-menerus secara langsung tidak memberikan ruang untuk iklan sama sekali. Ini sidang maha penting.
“Silakan saudara Tertuduh-atau yang mewakilkan-untuk mengajukan pembelaan!” Hakim memberi kesempatan.
“Saudara Jaksa, Hakim, dan Saksi yang terhormat dan selalu dalam berkat Tuhan, Tuhan Maha penyayang. Saya menyambut baik adanya persidangan ini, dan klien saya, terbukti telah beritikad baik untuk hadir ke ruang sidang yang agung ini, dalam puri kepausan. Tak lupa, Paus yang saya sayangi, selaku kuasa tertinggi di alam semesta keberagamaan manusia, turut kami hormati” Pengacara Kardinal diam sejenak. Ia tahu, semua yang ada dalam ruang sidang adalah laki-laki dan tak kenal ampun kecuali ada sesuatu yang mampu membungkam mereka.
“Tetapi,” lanjutnya.
“persidangan ini cacat dan timpang!”
Hadirin dan aparatur sidang kikuk dan agak heboh, apanya yang timpang? Jelas-jelas si Kardinal melanggar hukum!
“Pelaku telah ada. Demikian dengan bukti. Pun aparatur sidang telah lengkap bersama panitera. Saya ingin kepastian. Siapa korban dalam persidangan ini? dan
jika ada, hadirkan kemari! Saya mengajukan pending untuk menghadirkan korban dari penelitian si Kardinal!”
Tok! Palu besar menghajar setiap yang hadir di ruang sidang. Korban! Siapa korbannya! Apakah kalangan kepastoran dan paus di lingkungan Puri? Ya, bisa jadi, sebab merekalah yang pertama kali terhina dalam persoalan Nabi Perempuan ini.
Masalahnya, mereka tak terkena serangan fisik sedikitpun. Bahkan, penelitian sang Kardinal sama sekali tidak mencantumkan Kardinal lain dan Paus sebagai variabel penelitian atau faktor dan media. Bahkan juga sebagai peubah. Apanya yang korban. Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan adanya Nabi Perempuan, bukan keperempuan-perempuanan tokoh-tokoh agama yang kita hormati. Kenapa mereka merasa jadi korban?
Ambil kemungkinan lain, pikir si hakim dan panitera sidang. Di luar sana, ratusan ribu demonstran berkumpul. Tetapi masalahnya, apakah mereka juga diserang secara fisik? Lagi-lagi penelitian ini hanya menyinggung hati mereka.
Pasal untuk penyinggungan perasaan orang hanya berisi ganjaran larangan berbicara di depan umum selama beberapa bulan. Tetapi ini tak dipandang cukup memuaskan hati publik. Mengatakan seorang Nabi perempuan adalah hinaan bagi masyarakat.
Juga, kebanyakan demonstran justru terluka karena bentrok dan penghajaran oleh polisi yang mengamankan kota. Luka-luka yang timbul ini malah nyata dan bisa dinilai secara konkret, ada darahnya. Justru mereka menjadi korban polisi jika begini. Yang dituntut polisi, bukan kardinal.
Hakim akhirnya mencoba kemungkinan terakhir, yang menjadi korban adalah: Tuhan dan Nabi yang sudah mati ribuan tahun lalu. Nah, bagaimana cara menghadirkan mereka alam persidangan?
Entah bagaimana caranya, Hakim yang putus asa ini, atas restu Paus, memasang salib besar di ruang sidang sebagai wakil dari korban. Ya, wakil dari korban yang dinilai akan tersakiti atas hasil penelitian si kardinal.
Dalam persidangan, terjadi debat alot antara saksi ahli dengan hakim.
“Kini Saudara Korban-Tuhan dan Nabi-Nabi-telah hadir dalam persidangan, mari kita buka skorsing!”
Tok! Palu kembali menjadi penunjuk watu untuk memulai senyum simpul pengacara yang menahan tawa dengan dipajangnya salib sebagai wakil dari korban yang katanya, Tuhan itu sendiri. Percakapan dimulai kepada saksi ahli.
“Saudara saksi hafal ayat alkitab?”
“tak ada hubungannya”
“Saudara saksi tahu ada berapa Nabi dan jenis kelaminnya?”
“Ratusan, dan semuanya laki-laki!”
“Saudara saksi, apa dalil-dalil kelelakian Nabi ada yang bisa membantahnya?”
“Sepengetahuan saya, tidak ada”
“Saudara saksi, apa dalil-dalil alkitabiah menyatakan dan menyiratkan, ada Nabi Perempuan?”
“Sepengetahuan saya, tidak ada”
Singkat cerita, waktu berjalan dan Kardinal dipaksa terbukti bersalah.
“Saudara pengacara, bagaimana penjelasan anda?’
“Yang dikemukakan tertuduh dalam penelitiannya, benar adalah Nabi Perempuan. Tetapi harap dipahami secara tata bahasa dan hermeneutika, bahwa Nabi Perempuan tak mesti seorang perempuan”
“Saudara tertuduh terbukti bersalah, kini silakan mengajukan pembelaan”
“Saya menyatakan, hasil penelitiannya sah dimata ilmu pengetahuan dan agama, karena beberapa hal yang saya kemukakan dalam bab pembahasan dan landasan teori yang juga saya buat dengan cermat” Katanya.
“Tetapi tak pernah ada Nabi berjenis kelamin perempuan, saudara Korban telah menyatakan dalam kitab-Nya bahwa semua Nabi berjenis kelamin laki-laki dan turun di tengah laki-laki, dan Jesus Kristus mewarisi sifat Tuhan, maka ia turun sebagai laki-laki!”
Salib diatas meja tentu saja diam. Sebagai benda mati, ia mahfum. Perdebatan ini bukan urusannya. Masalah ia dianggap wakil korban-Tuhan-ia tak ambil pusing.
“Saya menyatakan tetap pada pendirian!” seru Kardinal.
“Tentu ada Nabi Perempuan,” sambungnya, “Nabi bagi para perempuan!”


ar-risalah

Damaskus Satu Ketika



Malam tiba, pertempuran untuk sementara dihentikan. mengikuti turunnya matahari yang melelahkan panca indra. Siang tadi, belasan tentara yang mati. Ya, pertempuran menderu dengan keras. Peluru-peluru tak lagi mengenal tuan atau lawan. Selain tentara, puluhan orang sipil mati terinjak-injak menghindari roket dan kejaran anjing-anjing yang dilepaskan tentara pemerintah Suriah.
Semua tentara yang mati dikumpulkan, dijejerkan di pinggir tenda utama pasukan pemerintah. Bendera besar dan sebuah pigura bergambar Bashar tergantung di kain dinding. Satu jenasah berlumur darah. Satunya kehilangan tangan dan kaki. Satunya beku, darahnya habis tertelan roket yang ia lemparkan sendiri.
Ditutupi kain putih.
Sebagian menyiapkan kantong jenasah merah. Ambulan meraung-raung mencari orang sipil, tetapi yang ia dapatkan hanya jenasah tentara. Yang sipil dibawa keluarganya, atau membusuk tanpa dikenali lagi.
Di tengah reruntuhan kota, seorang kolonel menembak seorang militan siang tadi. Menembus liang matanya. Peluru berdentingan, jatuh ke balik reruntuhan batuan. Tangan sang pejuang, tanpa disadari oleh kolonel, memegang sebatang bunga putih kecil padang pasir, yang rencananya ia akan berikan kepada ibunya: tanda ia siap menerima perang dan kematian tanpa ragu-ragu.
Dan peluru itu menemukan sebilah pisau yang diliputi darah bekas luka seorang anak muda.
Didekatnya, senapan kecil sang militan terjatuh dan berbaring. Menyimpan sebuah peluru lain yang belum sempat ditembakkan.
Malam bertambah hening, perang dengan khidmat dan tenang menelusup ke setiap butir pasir dan debu. Menyusup jauh kedalam malam.
“Malam tiba” Peluru memecah keheningan.
“Seharian para pengungsi kehilangan jalan, jalan yang tersisa ditutupi barikade” Sahut Pisau sekenanya.
“Aku belum tahu, kenapa aku ditembakkan” Keluh Peluru. Terdengar suara tangis diselingi jerit sayup-sayup meruah di udara.
Di kejauhan sana, seorang ayah menemukan anaknya tertimpa reruntuhan rumah yang diledakkan siang tadi. Orang-orang Bashar mendeteksi, rumah itu markas oposisi.
“Bashar masih ingin hidup lebih lama” Senapan sang militan membuka mata. Menemukan kesadaran.
“Sebagaimana yang lain, ia menggunakan kita untuk memanjangkan umurnya” sambung Senapan.
“Kita tidak tahu apa-apa” tutup peluru.
Sementara itu, pagi kembali tiba. Terbitnya lebih merah, ketika sekelompok militan lain menemukan jasad temannya tadi, yang ditembak sang kolonel tadi siang. Darahnya merah. Memerahkan mata mereka, yang setengah tergetar mencoba mengangkat tubuh itu. Tubuh temannya sendiri, yang sangat mereka kenal sedari kecil. Dan bunga putih kecil padang pasir itu, yang masih digenggam sang jenasah, bunga yang sama yang mereka berikan kepada ibu-ibu mereka di pengungsian beberapa hari yang lalu
****
“Allahu Akbar! Surga semakin dekat!” Belum sempat ia membawa jasad temannya, sebuah panser memasuki jalan. Dari sudut 15, bekas rumah seorang nenek tua.
Para militan bersiap, mereka tiarap di balik dinding-dinding yang sudah hancur. Mengambil posisi bertahan, karena mereka bukan militan garis depan. Mereka hanya berjaga tanpa mengenakan rompi pengaman, atau senapan kaliber besar.
Bau perang semakin kuat. Bau darah. Bau peluru tajam yang hampir ditembakkan. Tiba-tiba, bercampur bau kerinduan pada masa sebelum perang, muncul di udara.
“Perang akan kembali dimulai” Bisik senapan, yang masih memperhatikan keadaan.
“Peluru di dalam senjata tak tahu apa-apa, mereka ditembakkan begitu saja” Pisau menutup wajahnya. Entah kenapa.
Senjata diletuskan kedua belah pihak, keadaan berkecamuk dan terjadi tembak-menembak yang lumayan besar. Peluru para militan tak mampu menembus baja panser, tetapi sebuah granat menggelinding tepat kearah mereka. Granat, yang mengakhiri konsep-konsep yang diperbincangkan para militan hampir setiap hari.
****
“Dua hari, teman. Dua hari yang lalu ia mati. Tuanku memancarkan wangi, tidak seperti mayat-mayat lainnya” ujar Senapan.
“Itu aroma yang biasa muncul hanya ketika darah, mesiu, dan debu jalanan bercampur di kota ini” jawab Pisau. Tetapi Pisau sempat melihat bunga putih, yang koyak dilebur granat.
“Kapan perang ini berhenti?” sambung Senapan.
“Ketika hanya ada satu islam”
“Yang mana yang menang, perkiraanmu?”
“Entahlah, yang mati mempertahankan diri dan yang menyerang, tak bisa kubedakan. Tidak seperti kita, ditempa dengan fungsi yang berbeda-beda. Aku dihunus, kau diletuskan. Mereka yang bekerja” Pisau menerawang sejenak. Ia merindukan tangan yang menghunusnya bukan untuk perang.
“Rasa darahnya sama. Meski aku baru menembus satu kepala. Bukankah perang ini menuntut kepatuhan semata, lantas kenapa tidak ada yang mematuhi Bashar?”
“Tuhan memerintahkan kita untuk mematuhi-Nya”
“Dia adalah pemimpin negeri ini. kau digerakkan oleh pemberontak”
“Begitulah, Tuhan telah menciptakan manusia yang menumpahkan darah”
“Kita tidak tahu apa-apa” Senapan ikut merenung.
“Dulu sekali, aku adalah sebilah pedang kepunyaan Imam Ali. Betapa gemuruhnya, ketika seratusribu pedang lain tunduk pada perintahku. Sasaranku satu: membuat Muawiyah Ibn Abi Soufyan, yang kala itu menjadi wali daerah ini, tunduk. Ia mengaku khilafah”
Ia mengingat-ingat peristiwa seribu empat ratus tahun yang silam. Pertempuran Shiffin, sembilan puluh ribu lawan delapan puluh ribu. Pertempuran dahsyat terjadi antara dua teman. Ammar Ibn Yasir tewas. Perang berhenti ketika Amru Ibn Ash melakukan muslihat, mengikatkan al-qur’an pada ujung tombak-tombak dan berseru: mari kembali para Kitab Allah!
Tentu saja, sluruh tentara Ali, yang islam, goncang kepatuhannya pada sang Imam.
Mari kembali pada Kitab Allah!
Dan enampuluh ribu diantara mereka berdua mati.
Tetapi, tuntutan mereka satu: bela darah atas Utsman, yang dibunuh tanpa tahu apa-apa mengenai kesudahan perisitiwa sepeninggalnya. Mengenai perang, yang menimpa Khalif setelahnya.
“Dua sahabat Rasul yang agung pun berperang. Bukankah kesudahannya salah satu diantara mereka mati?”. Ya. Ali, akhirnya dibunuh seorang khawarij, yang merasa Sang Khalif tak becus menyelesaikan kasus pembunuhan Utsman.
“Ali tidak tahu apa-apa tentang masa ini. begitu pula Muawiyah”
“Pisau,” sambung peluru.
“Dulu aku adalah tameng yang digunakan Muawiyah. Belum pernah sekalipun aku diliputi darah orang muslim, kecuali saat Muawiyah mesti tergores duri kecil di pinggiran bukit dekat Damaskus”
“Saksikanlah: bukankah mereka berdua tidak pernah melukai siapa-siapa?” Pisau mengingat-ingat masa lalu. Tepat seribu empat ratus tahun yang lalu. Ketika perang bukan untuk melukai, tetapi untuk mencari kebenaran. Perang hanya antara prajurit dan prajurit. Pedang dan pedang. Dan semuanya mempertahankan kebenaran.
Kebenaran.
Kebenaran!
Tiba-tiba, jenasah sang militan bangkit, di hari keempat. Tubuh mati itu pelan-pelan berdiri, membelakangi pisau, peluru, dan senapan. Kebangkitan agung, tepat ketika para militan menghadang iringan kendaraan militer. Ia terlihat bercahaya, mengenakan kafiyeh dan jubah kekuningan. Gading. Menghunus sebilah pedang, yang sangat dikenal Pisau.
Ikat kepalanya berkibaran di udara.
Tubuhnya harum sekali, seperti aroma bunga-bunga sahara. Tetapi, ketika tubuh sang militan menoleh, dan wajahnya terlihat sempurna, wajah yang sangat dikenal Pisau dan Peluru mengguratkan kewibawaan:
“Imam Ali?” Kata peluru.
“Ya, ia Imam Ali!”
“Jangan kejar mana yang lari! Jangan lakukan perampasan!” tiba-tiba, ia berseru. teriaknya tergema membahana. Imam ali mendadak disertai kemunculan ghaib puluhan ribu orang lain dibelakangnya. Pisau dan yang lain hanya bisa terpana. Peristiwa ghaib apa yang tengah terjadi dihadapan mereka?
Itu Ahnaf Ibn Qays. Panglima besar Tamim.
Itu Asytar An-Nakhi. Pewaris Khalid Ibn Walid.
Itu Malik Ibn Asytar.
Itu Ammar Ibn Yasir! Yang hanya akan dibunuh oleh para pendurhaka!
Kuda-kuda mereka mencetuskan debu, namun wajah-wajah mereka tidak mencerminkan ketakutan atau kejenuhan. Imam Ali dengan tenang, tetap berjalan kaki. Membiarkan debu-debu jalanan melekati kakinya. Ratusan tentara pemerintah Bashar dan para militan yang memang akan saling serang dan telah tiba disana, terkejut sekaligus terpana, ada ribuan orang datang secara ghaib dari kematian, dan itu adalah para sahabat nabi! mereka keheranan. Kenapa bisa para Shahabi agung ini berkumpul, dari kematian mereka?
“Jangan kalian kira, kami mati. Kami dari sisi Allah, Tuhan Sunni dan Syiah” Ammar Ibn Yasir berkata dengan tenang. Panahnya, kini lahir sebagai pistol yang menembuskan peluru ke mata sang militan. Ia seolah tahu, keheranan akibat kebangkitan mereka yang ghaib dan mengejutkan.
“Perang ini bukan urusan kalian, bukan?” Kata Imam Ali.
“Bashar hanya ingin mempertahankan kekuasaannya. Orang-orang Farisi disana, hanya menginginkan tersebarnya keyakinan mereka kepadaku, tidak lebih”
“Tubban laka’ Bashar. Ia menjual dirinya seharga gunung di Golan! Ia menyebabkan banyak kehancuran!”
“Asytar, hadapi tentara Bashar. Kau, Ahnaf, hadapi para militan! Kita bersihkan dulu kota ini!”
Tiba-tiba, orang-orang sipil yang bisa mengenali mereka berkumpul dan mengikuti langkah tentara pimpinan Imam Ali, menghentikan gelombang para pengungsi. Mereka seperti menemukan harapan yang baru.
Mereka menemukan Imam mereka, ya, Sunni dan Syiah, akhirnya menemukan Imam Ali yang sesungguhnya, bersama-sama para shahabiyin lainnya dan ingin menghentikan perang.
****
Tepat ketika senja hampir tiba, pertempuran antara para sahabat nabi ini dengan pasukan Bashar dan para militan berhenti. Tetapi, tak ada yang terbunuh atau terluka. Semuanya menjadi bunga padang pasir kecil berwarna putih ketika tertembus pedang para shahabiyin itu.
Tepat, ketika pedang orang-orang ghaib itu menyentuh kulit para tentara dan militan, ada getaran misterius yang mengingatkan mereka kepada sesuatu.
Mengingatkan mereka pada bunga putih kecil, yang pernah mereka tanam di masa kecil mereka, jauh di dalam hati.
Sangat-sangat jauh di dalam hati..
Bunga putih ukhrawi, yang ada di hati setiap mukmin. Kemunculan mereka, dan sabetan pedang yang lembut, menumbuhkan kembali bunga-bunga putih padang pasir. Yang ramah. Yang bermadu. Yang bergoyang pelan diterpa angin sahara.
Ya, Damaskus dan sekitarnya kini dipenuhi bunga putih kecil. Seperti ladang bunga tempat para gembala bermain bersama domba dan untanya. Bunga putih, yang mendaifkan wujud jasmiyah para tentara, militan, dan kolonel.
Imam Ali yang agung lalu berhenti, di sebuah jalan besar. Asap masih mengepul di sekitarnya. Namun dipenuhi bunga-bunga putih, yang menggambarkan keriangan.
Ia memetik satu bunga putih itu, dari pinggir jalan. Ia lalu menciumnya dalam-dalam, seperti menemukan sesuatu yang mungil namun ia rindukan.
“Pertempuran sudah berhenti! Sunni, Syiah, hanya sekelompok orang yang mencari kebenaran, namun dijadikan alat pembenaran oleh mereka yang sesat!”
“Tak ada perang kecuali Perang, tak ada cinta kecuali Cinta! Kota ini adalah kota tempat para raja-raja Umayyah dilahirkan dan berkuasa. Kota ini juga tempat Umar, kekasihku, mendapatkan kehormatannya. Juga Utsman Ibn Affan, Muawiyah, Shalahuddin!”
“Tak ada tepat buat darah mengalir di kota ini! tak ada darah kecuali Darah!” Imam Ali lantang berpidato. Yang hadir setengah menangis, bisa melihat wajah junjungannya ini.
“Manusia! Ayahmu satu. Sedangkan ia dari tanah: di tanah kita berperang, di tanah pula kita mati”
Angin menggerak-gerakkan bunga-bunga putih kecil. Harumnya mewarnai kota Damaskus. Tiba-tiba, Imam Ali seperti diliputi cahaya, dan ia membuka kafiyehnya:
“Akulah Bashar Al-Asad!”
Yang hadir terkejut, lalu memandang Imam Ali yang baru saja berkata secara mencengangkan itu.
“Aku juga syuhada yang mati digilas tentara Bashar!” sambungnya.
“Aku adalah tentara, yang mati ditembak para militan!”
“Aku adalah pasir dan debu-debu kota Damaskus, aku juga gedung yang hancur diterpa ledakan. Aku adalah Ali, Muawiyah, Ammar, Asytar, Ahnaf. Aku adalah orang-orang sipil yang tak tahu apa-apa”
“Aku adalah gunung-gunung yang menyaksikan pertempuran, selama ribuan tahun di dataran ini. aku adalah Golan. Aku adalah Syiria. Aku adalah Syam. Akulah yang kalian perebutkan!”
“pertempuran ini, sesungguhnya terjadi dalam pikiran kalian saja, tanah ini tetap dengan tenang berdiri. Dataran Tinggi Golan yang bijaksana tetap ada di tempatnya!”
“Maka, jangan berpikir tentang pertempuran! Sunni, syiah, aku Imam Ali telah mati. Lalu kalian mau mempertahankan apa kecuali tiada cinta kecuali Cinta? Pada masaku, perang hanya untuk menegakkan perjanjian damai antara Utusan Allah, manusia, dan juga antara masyarakat”
“Tiada cinta kecuali Cinta, tiada damai kecuali Damai! Bashar, para militan, pisau, peluru, senapan, bendera, darah, adalah satu kesatuan, semuanya dari bumi, dan tak pantas diantara anak cucu bumi saling membenturkan diri”
“Wahai Putra Air Langit, Bani Ma’isamaa! Hujan awal musim semi akan segera turun, menghapus jejak darah!”
Tubuh itu, seorang militan yang bangkit lagi menjadi Imam Ali, yang kini menahbiskan dirinya adalah saksi segalanya, memandang satu-satu sahabiyin yang bangkit mengikutinya.
Ia membayangkan masa kecil yang indah bersama mereka di Makkah. Ia membayangkan penyiksaan yang datang bertubi-tubi dari para penentang ketika sama-sama mempertahankan keyakinan. Ketika belum ada prasangka diantara mereka tentang siapa yang salah, dan siapa yang lebih salah.
Tetapi ini: darah keyakinan yang sama, mesti jatuh seperti gerimis ketika salah seorang dari mereka ingin mempertahankan umurnya lebih lama.
Mendadak, Imam Ali, diiringi ribuan tentara para shahabiyin mengangkat tangan kelangit dan terdengar suara dzikir yang membahana, memenuhi gurun dan lembah, memenuhi kota-kota, dan memenuhi segala ruang yang menjadi medan pertempuran. Memanggil-manggil nama Tuhan. Memanggil-manggil rahmat yang lama terhenti. Memanggil-manggil yang maha Penyayang.
Pisau, Peluru, dan Senapan hanya bisa diam. Mereka tetap hanya benda mati, yang dipengaruhi kehendak pemiliknya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, mereka hanya saling menggumam dalam hati. Tentang perang. Tentang jalannya perang. Tentang Imam Ali yang tiba-tiba muncul, dan memberikan harapan baru bagi tegaknya kedamaian di Suriah, Iran, Iraq, Afghanistan, Sudan, Indonesia, dan segenap kantong-kantong perang lainnya yang terpendam namun menjadi bisul yang menyakitkan hati setiap orang.
Mereka akhirnya berhenti menggumam. Mereka memilih dengan syahdu mengikuti suara dzikir yang terbang di udara seperti kupu-kupu, dan satu-satu menghinggapi bunga-bunga putih kecil yang tumbuh memenuhi kota.
Seluruh kota, yang diselimuti bunga-bunga putih kecil, kini juga dipenuhi kupu-kupu dzikir para shabiyin itu, dipimpin Imam Ali. Seperti musim semi sehabis kemarau panjang yang diciptakan Bashar.
Bunga-bunga putih kecil, yang berasal dari para militan dan tentara, mekar dengan sempurna, dan menyambut matahari dengan lebih terbuka. Lalu ikut pula berdzikir, hingga dzikir itu kini aromanya seperti bunga putih kecil padang pasir.
Dan kupu-kupu terbang diantaranya, terus keatas, hingga jauh, jauh menuju ketinggian, tempat Tuhan betul-betul berada.
Dzikir mereka diikuti segenap orang-orang sipil yang hadir, dan dari menara putih Damaskus, menara sebuah masjid tua tempat di ibukota tempat Bashar mengatur jalannya perang. mendadak sebuah cahaya terang menyala lembut, lalu orang-orang berteriak:
“Isa Al-Masih Ibn Maryam, Rasulullah telah nuzul kembali!”


ar-risalah

Renung



Aroma malam yang terus mengunduh gemintang di langit sana setiap detiknya semakin menunjukkan gelapnya kabut malam yang datang bersama tiupan gelombang angin. Menerbangkan dedauanan kering dan bunga-bunga yang mengkerucut kuncupnya, tak berani menantang malam. Lampu-lampu jalanan seakan berperang dengan lampu-lampu taman mengadu terangnya cahaya yang mereka pancarkan. Di tiang lampu taman seseorang tengah duduk menengadah langit dengan aroma rokok kretek yang begitu menyengat dari mulutnya. Ia menyadandarkan tubuhnya di tiang itu sembari duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen dengan balutan cat berwarna hijau.
                Dilihatnya sekeliling taman ini seakan sepi, biasanya orang-orang asyik berduaan berkasih-kasih di taman ini. Namun sekarang begitu sepi, hanya ada kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan tepat di hadapan orang itu. Diseruputnya kopi hitam yang semenjak tadi menemani sebatang rokok yang menyempil di antara kedua jarinya. Semakin nikmatlah suasana sepinya malam ini, terasa hingga relung paru-paru dan terecap hingga batang tenggorokkan.
                “Bang boleh pinjem korek gak?” sebuah suara anak kecil mengagetkan orang itu.
                “Hah, mau ngerokok dek?”.
                “Iya Bang” anak itu tersenyum.
                “Kecil-kecil udah ngerokok. Nggak boleh!”.
                “Yahhh Bang”.
                “Ngapain kamu masih kecil udah ngerokok?”.
                “Abisnya dari tadi saya ngeliat Abang ngerokok sendirian aja asyik sih. Siapa tahu kan kayak Abang, ngerokok bisa ngatasin kesepian”.
                “Waduh, sok tahu nih anak. Kata siapa ngerokok bisa ngobatin kesepian?”.
                “Dari mata Abang”.
                “Eh jangan sok tau. Udah malem ngapain anak kecil kayak kamu masih di luar?”.
                “Nggak tahu nih Bang, tadi disuruh sama Ibu nyari orang yang lagi duduk sendirian di taman”.
                “Hah, terus kenapa ke sini?”.
                “Ya abis yang duduk sendirian di sinikan cuma Abang”.
                Sejenak mata yang menghitam legam dari wajah orang itu seakan tampak begitu kebingungan dengan kehadiran seorang anak kecil di sampingnya. Aroma udara malam yang begitu pekat seakan hilang perlahan-lahan sepinya dari kulit orang itu. Dinginnya angin yang menerbangkan dedauanan kering seakan telah menghilang keberadaannya. Semua lampu jalanan dan lampu taman telah mati, kecuali lampu taman yang ada di antara mereka berdua. Suara-suara bising kendaraan yang lalu lalalng di jalalan sana pun lenyap seketika.
                “Eh namamu siapa?”.
                “Iwan, Bang. Kelas 2 SD Bang” anak itu tersenyum kembali.
                “Lah belom juga nanya lagi udah dua kali jawab aja?”.
                “Hahahaha abis udah ketauan pasti pertanyaan selanjutnya apa Bang” anak kecil itu menggaruk-garuk kepalanya.
                “O iya tadikan kamu bilang kalua kamu ke sini disuruh Ibu, emang Ibu kamu siapa kok tahu saya?”.
                “Nah itu dia om saya lupa nanya sama Ibu saya soal itu. Apa mau saya balik lagi nanya ke Ibu saya om?”.
                “Nggak usah, nggak. Ntar malah bikin cape doang kamunya….”.
                “Tapi sih yang jelas, yang saya udah ucapin tadi Bang. Saya disuruh kemari buat nyari orang yang duduk sendirian di taman terus disuruh nemenin dia Bang”.
                “Aduhhh makin nggak ngerti aja nih otak” orang itu menggaruk-garuk kepalanya, tak begitu keras garukkan yang ia lakukan tapi untuk sekedar menyentuh rambutnya yang panjang tentu sangat terasa.
                “Tapi Abang sadar nggak”.
                “Sadar apa Dek?”.
                “Abang nggak kelihatan kesepian lagi” anak kecil itu bangkit dari tempat duduk di samping orang itu dan berlari sembari tertawa begitu riang.
                “Hey Dek, tunggu mau ke mana?”.
                “Mau pulang Bang, udah disuruh pulang sama Ibu” anak itu menghilang di kejauhan malam.
                Sebuah senyuman merekah dari balik wajah orang itu. Lampu-lampu jalanan dan lampu taman yang tadi mati kini menyala kembali. Aroma malam kembali terasa disertai angin malam yang begitu dingin. Kendaraan yang lalu lalang mulai kembali membuat bising suasana.
                Orang itu berdiri, menyeruput kopi dari gelasnya hingga habis dan menghisap rokoknya yang tinggal satu hisapan. Dibuangnya gelas kopi dan puntungan ke dalam tempat sampah.
                “Esok tahun baru ya? Aku lupa bahwa ada yang harus kukerjakan”. 


Ridwan

Sajak Dari Suara Kecil


Dari suara yang mungkin tak terdengar
bagi mereka yang menganggap mereka besar
sehingga sebelah telinga saja tak mau terbuka
mungkin aku memang kecil
namun aku memiliki suara
bukankan kita sedang melewati jalan yang sama
mengapa kalian membuat jarak untuk koloni kalian sendiri ?
bukankah telah dijelaskan dibawah cakar sang Garuda
apakah virus yang bernama kesombongan
telah menggerogoti sebagian otak kalian
bukankan kita sama-sama terbuat dari tanah
lantas apa yang membuat kita seolah seperti manusia dan dewa
jika kalian merasa seperti dewa
apakah seorang dewa tak mampu mendengar suara manusia
dan tak menganggap mereka yang tidak menyembahnya ?


Boim Tembok
Jakarta, 24 Desember. 2012

Sabtu, 29 Desember 2012

Mati untuk Hidup


Aku merenung, baru dua hari aku di tempat ini, belum lama jika hitungan waktu bumi. Hanya saja aku berada di luar dimensi bumi sekarang. Satu hari di tempat ini rasanya seperti seratus tahun di bumi. Orang-orang yang ada disini pun tidak ada yang tua, bahkan tidak terlihat seorang bayi kecil berada disini. Semua terlihat seperti berumur remaja. Semua lelaki terlihat tampan begitu juga perempuan yang ada sangat cantik.

Baru dua hari aku tinggal di dimensi ini. Rasa bosan sudah melanda. Mengapa? Karena tidak ada masalah, semua berjalan sangat damai. Apapun yang ingin dilakukan dapat terlaksana dengan mudah. Bahkan aku bisa terbang disini. Semua karena kemampuan manusia yang berada di sini sudah melebihi kemampuan manusia yang ada di bumi. Mungkin terbersit pertanyaan kenapa aku bisa ada di tempat ini. Baik, aku akan bercerita tentang kehidupanku satu tahun waktu bumi sebelum aku berada di tempat membosankan ini.

Aku Uka Apais, saat itu aku berusia 23 tahun. Aku hidup di tahun dimana ada isu akan terjadinya kiamat. Bel  jam di kamarku sudah berbunyi, bertepatan dengan matahari yang sudah berada tepat di atas kepala setiap orang yang berjalan. Tetap saja masih sangat terlalu pagi bagiku untuk membuka mata. Maklum aku biasa tidur kalau masjid dekat rumahku sudah menganjurkan setiap orang untuk beribadah daripada tidur. Bagi aku, tidur merupakan sesuatu yang lebih penting daripada menjalankan ritual yang aku sendiri tidak tahu gunanya untuk apa.

Saat terbangun aku langsung mengambil sebatang rokok dan menyalakan televisi yang ada di kamarku. Saat itu aku melihat acara gosip yang menanyakan pendapat para artis-artis yang sok agamis. Pendapat artis tentang ramalan akan terjadinya kiamat di tahun ini. Sontak, saat itu juga aku berteriak “orang tolol …..!!!!” bagiku orang-orang yang berbicara tentang hal yang belum terjadi itu bodoh. aku pun kesal dan langsung mematikan TV “acara tv sekarang pembodohan semua”.

Batang rokok yang aku hisap hampir habis. Aku pergi ke kamar mandi dan langsung bersiap untuk berangkat kuliah. Dengan pakaian tebal aku berangkat ke kampus. Pada saat itu, aku sedang sakit sehingga aku memakai jaket yang cukup tebal. Sebenarnya aku bingun apa tujuan kuliah, namun aku tetap berangkat dan menjalani rutinitasku. Aku menganggap rutinitas kuliah adalah hiburan dunia maya yang aku jalani hanya untuk menghibur diriku. Sampai di kampus aku bertemu teman-temanku yang memiliki pemikiran hampir sama gilanya denganku. Hanya mereka yang membuat aku tetap rela bertahan di kampus. Masuk ke kelas, aku harus bersandiwara menjadi orang yang normal demi beradaptasi dengan teman-teman yang ada di kelas. Orang normal bagiku adalah orang-orang yang patuh pada peraturan yang mengekang ide-ide membangun. Orang normal adalah orang yang menjalani ritual rutin tanpa tahu untuk apa dia menjalankan ritual itu. Orang normal adalah orang yang bangun pagi, kena macet, kerja menurut pada perintah bos, pulang lalu tidur. aku berpikir kalau itu adalah cara untuk menjadi orang normal, maka aku memilih untuk menjadi orang yang tidak normal.

“sekarang kita UTS yah” kata dosen.

Banyak sekali yang terkejut pada saat itu. Saat dosen keluar untuk mengambil kertas soal ujian, banyak yang pindah tempat duduk ke belakang. Aku tetap santai dan nyaman dengan tempat dudukku  di depan. Aku berpikir untuk apa nilai bagus tetapi itu tidak mencerminkan kemampuan yang aku miliki. Saat ujian berlangsung banyak diantara temanku yang orang normal berwajah muram karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Sambil senyum aku berjalan menghampiri dosen dan memberikan kertas jawaban. Aku pun keluar kelas dan kembali ke tembok, habitat nyata yang aku miliki di kampus. Aku selau menjadi orang pertama yang selesai dalam ujian kelas apapun. Aku selalu yakin dengan kemampuan yang ku miliki.

Saat aku bersandar di tembok, datanglah Arisalah dengan Nawdir. “Ukaaaaaa, udah kelar lo UTSnya?” Nawdir menyapaku. Aku menjawab “sudah”. Arisalah memandangku sambil memegang sulingnya. Dia bertanya tentang kesehatanku.

“uka. Lo lagi sakit yah?” tanya Arisalah.
“sedikit ga enak badan.” Jawabku.

Setelah beberapa perbincangan dan diskusi, aku pergi ke kantin untuk makan. Di sana aku bertemu dengan seseorang yang pernah cukup dekat dengan kehidupanku. Dia melihat kondisiku yang sedang sakit. Dia menganjurkan agar aku pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi tubuhku. Kami berbincang cukup singkat, karena setelah makananku habis, aku menyalakan rokok. Dia terlihat marah karena aku merokok saat kondisi tubuhku tidak sehat. Dia pun pergi dari hadapanku tanpa pamit. Aku hanya senyum, karena memang aku tidak perduli dengan siapapun bahkan dengan diriku sendiri.

Sepulang dari kampus, aku menyempatkan mampir ke klinik dekat rumah untuk memeriksa kondisi tubuhku. Saat pemeriksaan berlangsung dokter menyarankan kepadaku untuk segera berhenti merokok. Dokter itu tahu bahwa seperempat paru-paru yang aku miliki memang sudah tidak berfungsi atau mati. Dokter mengatakan kenapa aku masih hidup saat ini, itu karena daya tahan tubuhku yang sangat kuat dan aku sering berolahraga. Hanya itu yang membuatku masih dapat bertahan.

Sepulang dari klinik aku pergi ke apotek untuk menebus obat dari dokter. Aku merogoh saku celana dan mengambil sebatang rokok lagi untuk ku hisap. Aku tudak perduli dengan apa yang dikatakan dokter itu pada ku. Menurutku bukan dokter itu yang menentukan umurku, bahkan Tuhan pun  tidak dapat mengambil nyawaku. Hanya diriku sendiri yang dapat menentukan kapan aku akan mati. Lagipula akupun sudah mulai bosan hidup di dunia ini. Jadi kapanpun aku mati, aku sudah siap. Meski aku jarang beribadah atau bisa dibilang aku orang dengan banyak dosa. Aku berpikir seperti itu sambil menghisap rokok yang ku pegang. 

Rupanya kebosanan ku tinggal di bumi tercinta ini memang sudah sangat memuncak. Aku tidak perduli dengan keadaan tubuh ku yang sudah sangat menurun ini. Hingga pada suatu hari aku merasa sangat mengantuk dan aku tidur di tembok kampus. Di dalam tidurku aku bermimpi roh ku terbang dan melihat teman-temanku menangis di samping tubuhku. Semua terlihat sangat nyata. Aku sulit mengendalikan roh ku yang terus naik melewati pintu dimensi. Ternyata harapan ku untuk meninggalkan bumi ini terwujud. Aku telah mati.

Saat sampai di pintu masuk dunia baru, aku disuruh memilih tubuh manusia segar yang akan aku pakai selama aku berada di dimensi ini. Aku masuk ke tubuh baru itu. Aku merasa ada yang aneh, tubuh ini sangat kuat. Kemampuanku untuk berpikir juga sangat cepat dan tepat. Ternyata tubuhku yang baru ini adalah tubuh yang dapat memaksimalkan kemampuan otak manusia. Aku dapat melakukan semua hal yang aku mau.

Hari pertama aku di sini, aku terbang mengelilingi tempat baru ini. Ternyata tempat ini memiliki karakter yang sama dengan bumi. Ternyata ini juga merupakan planet yang ada bersampingan dengan dimensi bumi. Hanya saja planet ini memiliki besar beribu kali lipat dengan besar bumi. Setelah aku mengelilingi planet baru ini. Aku mencoba kemampuan otakku yang lain. Aku memikirkan sebuah benda yang pernah ku lihat di bumi, yaitu mobil. Hanya dengan memikirkan dan menggabungkannya dengan apapun yang ada di sekitar, ternyata berhasil membuat mobil itu terbentuk dan menjadi nyata.

Aku sadar bahawa kekuatan ini memang benar-benar ada dan aku miliki. Aku seperti tuhan yang dapat membuat atau menciptakan apapun yang aku mau. Mungkin ini yang dibilang banyak orang di bumi sebagai surga. Karena kita akan dapatkan apa saja yang kita inginkan di surga. Lalu aku berpikir kembali. Kalau disini adalah surga, maka seharusnya ada neraka. Setelah aku berkeliling dan keluar dari planet baruku ini. Aku tidak menemukan tanda-tanda adanya neraka. Akupun bertanya kepada orang yang sudah lama berada disini. Benar saja, tidak ada neraka dimanapun itu dan di dimensi apapun. Mungkin saja pernyataan orang itu benar. Karena jika dilihat saat aku masih hidup di bumi. Aku jarang sekali beribadah. Bahkan aku cenderung banyak melakukan dosa. Harusnya aku masuk neraka jika memang neraka itu ada.

Setelah semua kemampuan yang aku miliki sudah aku coba. Aku keluar dari planet itu dan membuat planetku sendiri. Hanya butuh waktu beberapa jam untuk membuat planet baru yang indah dan mirip bumi. Aku bersantai dan melamun didalamnya. Aku mulai merasa bosan dengan kehidupanku sekarang. Ini adalah hari kedua aku tinggal di dimensi baru ku ini. Tidak ada kekacauan, keributan, masalah dan apapun itu. Aku teringat kebiasaan aku berdiskusi dan berdebat di tembok kampus tentang masalah-masalah yang ada dan mendapatkan jalan keluar dari masalah itu. Aku dan teman-teman tembok ku juga gemar membuat cerpen.

Akhirnya aku memutuskan membuat cerpen untung mengobati rasa rindu ku ini. cerita ini yang sedang aku tulis sekarang. Setelah sampai pada akhir-akhir cerita yang aku tulis ini. Mulai terpikir olehku, dengan kemampuan aku yang sekarang, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Kenapa aku tidak kembali ke dimensi lama ku dan kembali ke tembok kampus dimana terakhir kali aku terbaring disana. Aku akan melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu, jadi aku bisa kembali. Maka akupun mencobanya.

Aku mulai berpikir keras untuk melakukan perjalanan ruang dan waktuku itu. Aku merasa kesakitan karena aku melakukan perjalanan dengan kecepatan berjuta-juta kali melebihi kecepatan cahaya hingga tubuhku lebur hingga tidak berbentuk. Tiba-tiba semua gelap, lalu aku mendengar suara teman-temanku memanggil. Uka bangun, Uka jangan mati, Uka, Uka, Uka. Itu yang aku dengar. Aku sadar bahwa aku telah berhasil melakukan penembusan ruang dan waktu. Aku membuka mata lalu melihat wajah sedih teman-teman tembokku. Aku melihat wajah sedih Maren, Arisalah, Nawdir, Askar, mamah Inos, Kuple, Paruh, Hallursan. Aku tersenyum dan berkata “aku kembali kawan”.

Aku kembali dari dimensi yang disebut orang mungkin adalah surga. Tenyata aku juga kembali dengan membawa kekuatan yang aku dapat dari sana. Aku merahasiakan kekuatanku dari yang lain. Aku juga tidak akan pernah memakai kekuatan itu, karena hidup yang mudah dan hidup tanpa masalah itu hidup yang sangat membosankan. Jika hidup di surga adalah hidup yang berjalan tanpa adanya masalah sedikitpun maka aku Uka Apais lebih memilih untuk tinggal dan hidup di bumi selamanya.  

Dirham Damara

Membunuh Diri


                  Pagi menjelma petang, meracau malam silih berganti berhembusan melewati rongga-rongga karat tak terasah sebilah pisau, tak bergeming tak tersentuh secuil pun irisan melintang kulit tanganku, seakan menjelma sebuah tombak yang tertancap pada sebongkah berhala tanpa kepala. Hanya nanar mataku yang berani mengadu pandangan disela-sela temaramnya keempat dinding beku yang menghimpit pertukaran aliran udara. Keringat bercucuran menyelingi perdebatan dua buah suara yang saling berbisik di gendang telinga hati.
            “kau memang bodoh! mau saja menerima bualan kata-kata manis lelaki pembohong itu!. Sudah jelas dia itu buaya darat, tapi kenapa kau mau saja menerima dia menjadi kekasihmu?”. Makhluk bertanduk itu menggenggam pundakku erat sembari memonyong-monyongkan bibirnya meniup-niup urat-urat leherku. “sudah kau genggam saja pisau itu lalu kau iriskan tepat di nadi lengan kirimu. Tak usah kau pedulikan neraka atau surga, itu hanya iming-iming orang-orang berpeci agar kau taat beribadah”. Makhluk bertanduk itu mendekati sebilah pisau yang membujur di atas meja kayu tepat di hadapanku sembari menggerak-gerakkan jarinya mengitari sekeliling pisau itu. “jika kau takut tersesat, tak usah perduli!. Aku bersedia untuk menemanimu jasadmu nanti”. Sesaat ludah kutelan.
 “tak usah kau dengar dia! Dia itu makhluk hina! Surga dan neraka itu ada!”. Balas sesosok makhluk yang tubuhnya dikelilingi oleh sebuah cahaya. “pria itu hanya cobaan untukmu, hanya untuk mengetes apakah imanmu kuat atau tidak. Jika kau mengiris tanganmu kelak kau hanya akan menjadi teman dia di neraka nanti. Ingat surga dan neraka itu ada!”.
            “cuihhh, pembohong! Jika surga dan neraka ada, apa buktinya kalau surga dan neraka itu ada? Itu hanya omongan pembodohan besar-besaran!”. Kedua makhluk itu berkeliling mengitari setiap rongga-rongga kepala, silih berganti mendebat ketika air mataku menghujan mengalir di pipiku membasahi setiap penjuru pori-pori, tak guna usapan tanganku air mata terus berlinangan mengalir. “sudah tak usah kau pikirkan perkataan malaikat busuk itu!. Bagi dirimu yang sebatang kara ini, hidup di dunia hanya akan terus membuatmu menderita!”. Mataku melotot semakin memburu berniat untuk menggerakkan tanganku meraih pisau. Gemetar jari-jariku mengkisut ketika kulitku beradu dengan dinginnya besi berkarat itu.
            “derita?! Kau bilang itu derita!. Apakah kau akan menyerah begitu saja?! Bukankah hidup di dunia ini adalah sebuah tantangan? Dia adalah salah satu tantangan yang baru kau hadapi di dunia ini. Apakah kau akan menyerah terhadap sebuah tantangan? Kau adalah wanita tangguh, tak mungkin kau akan menyerah begitu saja terutama terhadap pria brengsek macam dia!”.
            “berisik kau! Bualan motivasimu terdengar seperti orang-orang tolol dalam televisi yang sok bijak!. Pendidikan dasar pun  belum tentu mereka dapat luluskan hahahaha”.
            “gue cinta lo! tapi kenapa lo ngebuang gue?!”. Teriakku merintih kekalutan hati menjerit menarik seluruh air mata dari kantung lelapnya. “gue gak bisa hidup tanpa lo!”. Kutarik garis mendarah di lenganku, lebih sedikit di atas nadi kiriku menggunakan sebilah pisau yang kugenggam. Darah menyeri tak kurasakan bila dibandingkan dengan remuk redamnya perasaanku.
            “jangannn! Tak ada guna kau menyakiti diri, kini dia telah pergi!”. Teriak sang malaikat. “menyakiti diri sendiripun tak akan menyelesaikan masalah”.
            “hahahahahaha aku menang! Aku menang!”. Teriak sang iblis. “ayo sekarang sobek nadimu dengan pisau itu!”. Lidah sang iblis menjulur menjilati seluruh permukaan nadi lengan kiriku menikmati setiap tetes darah yang keluar mengucur dari lenganku. Tiga kali sayatan telah kubuat namun nadiku sendiri masih belum tersayat.
            “bangsat!. Banyak bacot lo!”. Sebuah tinju menghujam pipi sang iblis.
            “ooohh, jadi kau ingin bermain kasar rupanya?!”. Ucap sang iblis. “akan kuperlihatkan kesaktianku!”. Jari-jarinya mengacung ke angkasa, lafalan-lafalan mantera-manteranya terdengar memilukan gendang telinga. Seketika puluhan ribu tikus-tikus bermata merah berbulu hitam berkerumun mengangkat tombak diikuti ribuan kelelawar bercakarkan besi berterbangan mengelilingi atmosfer ruangan berdinding sempit. “serrraaaangg!!”. Beribu-ribu pasukan sang iblis berlari mengangkat senjata menyerang sang malaikat.
            Sang malaikat kaget, direntangkannya kedua tangan hingga memunculkan cahaya kemilauan berbinar-binar seperti aurora yang menggantung dilangit malam, menarik lukisan-lukisan manusia yang tertempel dalam dinding  pada kertas keluar bergelumat gulat dengan puluhan ribu tentara sang iblis. Menumpah darah tak karuan pertempuran itu, pembataian dan pembunuhan terjadi satu sama lain hingga habis luluh lantah seluruh bala tentara dari kedua belah pihak, tak ada satu pun yang berhasil keluar menjadi pemenang.
            “cuihhh seimbang!”. Ucap sang iblis meludah.
            Kekalutan keduanya terjadi. Sang iblis mencabut ekornya yang berubah menjadi sebuah tombak bermata tiga yang diikuti oleh sang malaikat yang mencabut pedang dari salah satu bulu sayapnya. Pedang dan tombak beradu menciptakan topan menopan yang meluluh lantahkan seisi ruangan, tembok-tembok mulai bergetar hampir tercerabut, petir menyambar kesegala penjuru ruangan membumi hanguskan seluruh lantai. Seakan-akan dunia hancur berantakan menyerak ketika tombak dan pedang beradu beribu-ribu kali diikuti puluhan ribu mantera terlafalkan berkomat-kamit.
            “hentikkkaaaannn!!”. Teriakku tak tahan. “gue yang seharusnya hancur! kenapa kalian yang menghacurkan satu sama lain?!”. Segera kuberdiri dari tempatku terduduk, berlari mengacungkan pisau pada sang malaikat dan sang iblis yang berhenti bertempur kaget karena teriakkanku.Kutarik baju sang malaikat, segera kuhujam dadanya hingga mati dengan pisau di tanganku.
            “bagus, bunuh dia! Dia hanya serangga pengganggu hahahahaha”. Gembira sang iblis. “sekarang sayatlah nadimu”. Kualihkan sorot mataku pada sang iblis sembari mendekat ke arahnya. “bagus kemarilah dan sayat nadimu di hadapanku, agar aku bisa menyaksikan kematianmu hahahahha”. Kutarik tanduk sang iblis.” Lho apa yang kau lakukan?!”. Teriak sang iblis.
            Segera kutarik tubuh sang iblis menghadap tanah dan sesegera itu pula kutikam dadanya. “berisik lo!”. Nafasku memburu.
            “Toktoktok”. Tiba-tiba suara pintu kamarku terdengar. Dengan tergesa kurapikan tatanan rambutku yang acak-acakan. Ketika membuka pintu segera kusembunyikan sebilah pisau yang tengah kugenggam di balik bayangan punggungku, rupanya tetangga kostanku mengetuk pintu. “ada apa ya mbak?”.
            “mohon maaf ya mbak, bisa minta tolong musiknya dikecilin sedikit saya mau istirahat”.
            “o iya, maaf mbak hehehe”.
            Segera kututup kembali pintu kamarku dan kuputar tombol speaker komputerku ke arah minus.
            “dasar orang gila! Dengerin lagu metal kenceng-kenceng, orangkan juga mau istirahat!”. Sebuah gerutuan kudengar dari balik pintu kamar kostanku.
             

Ridwan

Fatamorgana Malam


            Malam terasa mulai menancapkan kuku-kuku jarinya di bentangan uban-uban yang tumbuh di atas kepala, mengacau seluruh bilangan kecerdasan sel-sel kelabu otak, menyabuni seluruh isi kepala dengan butiran-butiran buih putih sepuluh tahunpun rasanya belum cukup untuk meringankan bulatan daging bertulang yang menancap di atas tubuh ini. Tapi setidaknya aku akan merasa lebih beruntung sedikit karena seplastik bir yang telah kucampur dengan berbagai macam ramuan yang berhasil kuracik setidaknya dapat membawakan kebahagiaan malam ini, walaupun memang setiap malam selalu kutenggak, tapi malam ini kurasa akan berbeda.
            Langkah gontai membawaku pada sebuah bangku semen di sebuah taman yang sepi dan sunyi, hanya angin dan daun-daun saja terlihat berbincang berkelakar di taman ini tak ada sedikitpun suara makhluk hidup yang kudengar atau kukecap di sini. Di bangku itu kutuang seplastik bir yang kubawa dari rumah ke dalam sebuah gelas yang kubawa pula dari rumah sedikit demi sedikit untuk kuteguk dan kurasakan kenikmatannya ketika mengalir melewati bibir membasahi tenggorokkan dan tersemat menghangat di lambung kenikmatan.
            “minum apa om?”. sebuah suara anak kecil mengagetkanku hingga tersendak.
            “eh, ngapain anak kecil keluyuran malam-malam gini? Kagak diomelin emak lw?”.
            “kagak om, malah emak saya yang nyuruh saya keluar”.
            “lah kok bisa? Emak lw sinting ye?”.
            “nggak om, emak saya enggak sinting. Emak saya nyuruh saya keluar buat nyari duit om”.
            “hahahaha nyari duit apaan bocah kayak lw? Duit monopoli?”.
            “duit aslilah om, bukan maenan”.
             “masih kecil, udeh demen boong aje lw!”.
            “sumpah om saya kagak boong. Kalo gak percaya om mao berape juta?”.
            “eh anak kecil, songong benget lw ama yang tua!. Udeh kagak usah ngelawan lagi lw, kualat ntar ama yang tua!”. Kutuang kembali bir ke dalam gelas. Ketika akan kuminum kedua tangan anak kecil itu meraih tanganku.
 “om bagi dong!”.
            “eh gundul sialan, masih belom pantes lw minum beginian!”. Terjadi perebutan antara tanganku dengan tangan anak kecil itu. Semakin keras kutarik tanganku semakin menjadi-jadi pula dia menarik tanganku, kurang ajar betul ini bocah sudah dilarangpun masih berniat untuk membantah. Kaki mungilnya kurasakan telah menjejak di pinggangku, semakin keras pula usahaku agar setidaknya minumanku tidak tumpah dikepala botak licinnya itu.
            “gw minta om!”. Tiba-tiba suara anak kecil itu berubah menjadi berat dan menakutkan. Kaget, terjatuhlah tubuhku ke atas tanah berlumuran bir yang telah tumpah akibat kejadian berebutan tadi. “huuuuuu om pelit”. Sahut anak kecil itu berlari pergi dan menghilang ditelan kabut.
            “busyet, apaan tadi?”.pikirku kaget ketakutan melihat perubahan yang terjadi pada anak kecil tadi.
            Segera kuberdiri dan kembali menuangkan bir kegelasnya, kurogoh saku celanaku mencari bungkus rokok yang beberapa hari lalu kubeli, berharap sebatang rokok yang kan kuhisap dapat meredakan ketakutan dan kekagetanku atau setidaknya menghentikan gemetaran pada jari-jari tua yang kisut ini. “ abis lagi”. Kuremas bungkus rokok tersebut sembari gemetaran lalu kembali kurogoh saku celanaku mencari dompet. “dompet gw mane?!”. Tergesa-gesa kurogoh seluruh kantong celanaku mencari dompet, tapi hanya uang seribu rupiah yang berhasil kutemukan. “bangsat tuyul zaman sekarang, ngambil duit orang pake pengen minta minuman orang segala!”. Tinju kukepalkan menyumpah serapah, namun bibir tetap beradu gemetar.
            Kulihat uang seribu rupiah yang berhasil kutemukan. “ serebu?”. Lumayanlah buat beli sebatang kretek”. Ucapku lirih sembari berjalan terseok-seok mencari sebuah warung pinggir jalan. “ bang, rokok kreteknya dong sebatang”.
            “tunggu ya bang”. ucap si pedagang warung sembari mengaduk-aduk sebuah kotak berisikan berbagai macam rokok berbeda merek yang dijual perbatang atau ketengan. “nih bang rokoknya”. Ucap si pedagang warung sembari memberikan sebatang rokok kretek.
            “nih duitnya bang”.
            Si pedagang warung mengambil uang yang kuberikan sembari menatap wajahku. “kenapa bang?”. mata pedagang warung itu kulihat semakin melotot, keringatnya bercucuran deras, bibirnya menggigil, pucat pasi wajahnya. Lalu kutanya sekali lagi “bang, abang kenape? Ada yang salah sama muka gw? Ape duitnye kurang?”. Tiba-tiba saja si pedagang warung berlari sembari berteriak ketakutan. “bang tunggu, woyy mao kemane?!. Ini duitnye!”. Kugaruk kepala kebingungan. “kenape tuh abang-abang?. Gw kan cumin beli rokok doing malah ketakutan, emang gw setan ape?”. Kuambil korek gas yang menggelantung terikat pada seikat tali raffia di pintu warung dan menyalakan rokok kretek yang akan genggam.
            Sembari menghisap rokok kuberjalan kembali ke bangku taman sembari memikirkan kejadian yang barusan kualami.
            “waduh siape nih yang ngabisin minuman gw?!”. Kataku sembari memeriksa gelas dan seluruh isi plastik bir milikku. “ooohhhh die nih yang minum, kurang ajar betul nih orang!”. Tunjukku pada seorang bapak-bapak tua yang tergeletak di tanah, tubuhnya basah berlumuran penuh bir yang kurasa adalah bir milikku yang dia minum. Mulut bapak tua itu berbusa. “hahaha baru minum bir oplosan gw aje langsung teller lw”. Kutendang badannya hingga terbalik. “woyy bangun, udah minum-minuman orang jangan tidur sembarangan di tanah lw!”. Kugenggam rambutnya. “idih muka lw mirip banget kaya muka gw ya, tapi sayang lw udeh mati hahahahahaha”.


Ridwan