Minggu, 16 Desember 2012

Ayam dan Seorang Ksatria



            Wangi tanah basah tercium semerbak menghiasi hutan ini, begitu menyengat hidung. Suasana dingin yang menusuk kulit begitu terasa, terutama ditambah dengan suara-suara serangga yang semakin menambah dengan kesunyian yang menyengat pendengaran. Angin seakan tak terasa hembusannya, tertahan lebatnya pepohonan yang tumbuh serampangan di sana-sini. Cahaya mentari pun seakan tertumbuk larinya oleh dedauan yang merubungi atap hutan dan terpantul, tak sampai menyentuh permukaan tanah. Hanya sedikit yang berhasil menembus masuk melalui celah-celah kecil dedaunan.
            Sebilah besi berukuran kecil menyembul dari balik semak-semak di arah barat sana. Seorang pria bersembunyi di sana. Tanpa satu pun gerakkan ia boroskan, dengan busur yang ia pasang dengan kuda-kudanya demi melesatkan sebilah anak panah. Satu gerakkan maka selesai sudah.
            Tak jauh di timur sana, seekor ayam hutan sedang asyik mematuki tanah basah hutan, mencari krikil-krikil kecil. Tubuhnya begitu tegap dan ramping, kaki-kakinya begitu kuat mencengkram tanah, paruhnya begitu cepat mematuk tanah, begitu merah jenggernya. Ia pejantan. Pejantan dengan warna bulu hitam gelap. Matanya begitu awas.
            Dedauana semak itu seakan telah akrab dengan keringat dingin yang mengucur dari dahi pria itu, tak ada satu pun daun yang bergoyang. Bahkan gerakkan kecil dari serangga-serangga hutan yang hinggap di semak itu tak membuatnya bergerak satu kali pun. Sudah kukatakan di atas, satu gerakkan maka selesai sudah. Sang buruan akan langsung lari begitu mengetahui ada seorang pemburu di semak sana yang mengincarnya.
            Setelah dirasa begitu tepat, waktu dan posisi dari dirinya dan mangsa buruannya. Sebilah anak panah melesat dari balik semak, meluncur dan memburu sasarannya.
            Mendengar suara dedauan terkoyak dan melihat dengan sekejap sesuatu meluncur ke arahnya, ayam hutan itu dengan gerak refleksnya mengembangkan kedua sayapnya, dikepakkan dan langsung melompat jauh tinggi ke atas udara.
            Merasa bidikkannya meleset, pria itu berlari dan melompat keluar dari balik semak-semak sembari mencabut sebilah parang dari sarung parang di pinggangnya. Diayunkan parangnya kea rah buruannya,namun kembali ayam hutan itu melompat ke udara menghindar serangan parang pria itu.
            Sesaat sebelum mendarat di tanah, ayam itu dengan paruhnya yang kuat melepaskan serangan balik ke arah pria itu. Pria itu terjatuh dengan dahi yang terluka dan kembali bangkit mengambil ancang-ancang. Dilihat buruannya telah bersiap pula dengan ancang-ancangnya, dikembangkan kedua sayapnya, jenggernya semakin memerah, matanya melotot begitu tajam. Ia bersiap untuk menyerang pula atau bahkan kembali memberikan serangan balasan bila pria itu menyerang terlebih dahulu.
           
Kali ini ayam hutan itu yang menyerang terlebih dahulu. Ia berlari dan langsung melompat mencakar dengan kakinya, namun dengan kesigapan seorang ksatria pria itu menebaskan parangnya. Dengan keseimbangan kedua sayapnya yang dapat memotong udara, ayam hutan itu merubah arah posisi tubuhnya di udara sehingga parang pria itu hanya sedikit mengenai bulu sayap ayam hutan itu.
            Ia mendarat di tanah sempoyongan, sedikit bulu sayapnya berhamburan di udara. Dihentakkan satu kakinya memperbaiki tubuhnya agar seimbang sehingga tidak terjatuh di tanah dan dapat berdiri dengan tegap. Ancang-ancang kembali ia lakukan.
            Nafasnya begitu deras membabat oksigen segar yang dikeluarkan pepohonan di hutan ini. Tak disangka olehnya, seekor ayam hutan dapat membuatnya bertarung hingga kepayahan seperti sekarang.  Seorang ksatria dari kerajaan Sriwijaya yang tengah berada dalam sebuah misi hidup dan mati demi menyelamatkan sang putri mahkota dari kehancuran kerajaan, harus bertarung dengan seekor ayam hutan yang begitu gagah dan perkasa. Darah menetes dari dahinya yang terluka begitu parah, tak berhenti ia menetes.
            Secara tiba-tiba ayam hutan itu membalikkan  badannya dan berlari menjauhi arena pertempuran. Melihat hal itu, pria itu segera mengejarnya masuk lebih dalam ke area hutang yang lebih gelap. Di sini keberadaan cahay begitu sedikit bila kita bandingkan dengan area hutan tempat pertarungan pertama tadi. Bahkan suasana siang hari tak jauh berbeda dengan suasana pada malam hari. Jika kau melihatnya. Kesunyian dan udara lebih sunyi dan dingin di sini.
            Pria itu menghentikkan langkahnya, dilihatnya jauh di bawah sana jurang menga-nga begitu dalam di bawah kakinya. Di seberang sana, ayam itu berdiri seakan mengejek. Tak jauh memang lebar jurang itu, tapi jika kau melihat dalamnya mungkin seluruh tubuhmu pun akan ketakutan. Dia mundur beberapa langkah mengambil jarak untuk melakukan sebuah lompatan. Diambilnya langkah pertama, ia melompat. Begitu tinggi ia melompat, namun tak cukup jauh untuk melompati lebarnya jurang itu.
            Karena tubuh maupun tangannya tak mampu menggapai pinggiran di seberang jurang, maka ia gunakkan parangnya untuk ia tancapkan di tanah dan membuatnya tidak jatuh ke dalam jurang. Ia bergelantung di parang. Dari atas terlihat cakar ayam muncul, sebuah patukkan melesat mengoyak jemari pria itu. Dia berteriak dan jatuh. Parangnya pun tak luput jatuh pula.
            Tubuhnya menghempas tanah, ternyata masih ada bagian kecil retakkan tanah yang mencuat muncul dari bagian pinggiran jurang menahan tubuh pria itu. Tak terlalu jauh dari jarak ia bergelantung tadi, kira-kira 10 meter jauhnya. Dia segera bangkit, dicarinyaparang miliknya namun tak ada. Parangnya telah jatuh ke dalam jurang paling dalam. Ia genggam batu-batu yang mencuat di pinggir-pinggir mulut jurang, dipanjatlah ia ke atas sana.
            Setelah mencapai atas, ia kembali mengejar ayam itu, hingga jatuh tepat malam hari mereka terus berkejaran. Hutan semakin  gelap dan sunyi. Suara-suara dari binatang-binatang malam mulai bersahutan di hutan menggema seluruh hutan. Dingin di sini pun mulai mendekap tubuh.
            Dia terus mengendus-endus jejak ayam itu dalam kegelapan, tak disangka sebuah serangan mendadak membuatnya terjatuh. Dadanya robek, darah berlinang di tubuhnya. Segera ia bangkit, namun serangan berikutnya yang dating tak dapat ia elakkan. Kini matanya telah berdarah.
            Sedikit lama ia tidak membangkitkan tubuhnya. Serangan berikutnya tak muncul kembali. Dia bangkit perlahan menahan perih di sekujur luka tubuhnya. Dari kejauhan di balik semak sana terdengar bunyi dedaunan bergesek berbunyi.
            “Di sana kau rupanya! Kali ini akan kuhabisi kau!” diambil sebatang kayu yang tak berukuran besar di bawah kakinya, segera ia berlari ke arah semak-semak di sana.
            Semakin malam hutan semakin misterius. Segala bebunyian dari hewan-hewan malam tak dapat kita tebak, mungkin terlindung di kegelapan malam. Dingin pun semakin menguatkan kemisteriusan hutan.
            “Dimana dia?” Tanya seorang perempuan sendiri berlindung di gerowong bawah sebuah pohon besar, “di mana engkau, Paman?”. Ia terlihat begitu lemas dan lemah, bahkan perkataan ia tadi pun terdengar begitu kecil tak bertenaga suara yang keluar dari mulutnya. Ke dua bibirnya bahkan terlihat semakin pucat. Tangannya masih menekan kuat perutnya. Begitu kuruslah ia. “Masihkah kau lama, Paman? Aku sudah tak kuat….” Matanya terpejam seiring sebuah jeritan seorang pria dan auman harimau menggema dari balik hutan rimba sana.


Ridwan

Merah Dalam Jingga


               
                Senja di ibukota memang unik. Jingga dalam tiap wajah tersorot oleh sang surya yang ingin beristirahat sejenak. Tiap wajah memadahkan kelelahan yang terlihat dalam guratan-guratannya. Belum lagi kemacetan yang ternyata belum bisa teratasi oleh tiap buaian-buaian kata para penjanji.
                Macet… ya kemacetan memang selalu dikutuk oleh sebagian kalangan yang merasa dirinya selalu dirugikan. Siapa kiranya yang pantas bertanggung jawab terhadap kerugian ini?
                Jalanan yang sempit? Putaran yang tidak strategis? Angkutan partikelir yang sembrono? Angkutan milik negara yang terlihat angkuh? Pasar tumpah? Pasar pagi? Pasar malam? Kendaraan pribadi yang membanjir? Rombongan para pejabat yang diberi prioritas? Kalangan atas? Kalangan menengah? Atau kaumku, kaum yang terinjak gedung-gedung pencakar perumahan kumuh?
                Entah siapa yang patut disalahkan. Jelasnya semua penyebab, baik yang terlihat maupun tersirat memiliki andil tersendiri dalam rangka ikut berkontribusi terhadap kemacetan.
                Tidak bisa dipungkiri bahwa kaumku sering mendapat keuntungan dari kemacetan. Kontras dengan mereka-mereka yang menghardik kegiatan rutin ini. Mungkin tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari kaumku sedang berperang dengan sebagian besar dari mereka. Hanya saja para cendekiawan menyebutnya kesenjangan sosial. Sok intelek sekali bahasanya bukan ?
                Aku sendiri besar sebagai orang yang sering disebut pengamen jalanan, atau kadang ada juga beberapa orang yang bilang musisi jalanan, lebih terlihat keren sepertinya dengan nama itu. Pergaulanku dengan sesama pengamen membuat aku lebih mengerti kalimat yang sering digadang-gadang masyarakat, “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri” agak melankolis memang kalau terdengar dikuping musuh kami, tapi mereka memang tidak akan pernah mengerti jika tidak nyemplung ke dunia kami.
***
                Mataku terusik dengan sinar matahari yang datang dari timur. Sudah hampir tepat di atas kepala sepertinya. Aku lunglai dengan keadaan ini. Di mana kemacetan yang aku tunggu masih beberapa jam lagi muncul. Perutku kadang tidak mau tahu dengan keadaan ini, sedang uang telah menjelma menjadi tuan-tuan manusia yang menjauhi aku.
                Kupandangi satu persatu orang-orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Aku seperti tiada. Mungkin aku seperti hantu, tidak terlihat. Tetapi tidak terlihat bukan berarti tidak ada kan? Tato di lenganku mungkin menjadi penyebab hilangnya keberadaanku. Atau bisa jadi tindikkan di beberapa anggota ragaku yang menjadikan hadirnya dinding tebal yang menghilankan eksistensiku.
                Bagaimana aku bisa menghadirkan sepiring nasi… ah terlalu muluk-muluk khayalanku ini, tak perlulah sepiring nasi, beberapa suap saja sudah cukup sebenarnya. Bisa saja aku mengamen di bawah lampu merah, tapi aku sudah kebagian jatah di kemacetan, begitu kata bos ku. Populasi pengamen memang terus meningkat, yang pensiun jarang, yang baru memulai karirnya sebagai pengamen membludak. Negeri ini memang terlalu rumit untuk menghadirkan pekerjaan yang cocok bagi orang-orang seperti aku.
                Oh iya, aku lupa memberitahu, kira-kira ada dimana posisi kaum menengah? Tahu kah? Mereka tidak netral. Sebagian dari mereka berada di pihak kaumku, sebagian dari mereka menjelma oposisi. Kira-kira seimbanglah perbandingannya. Aku tak ambil pusing dengan hal ini.
                Perang menjijikan ini sudah sampai pada tahap yang buka-bukaan sepertinya. Jelas saja saat aku sedang menjajakan nada-nada di samping kendaraan mereka, bukan receh yang dikeluarkan melainkan todongan pisau dari orang berdasi dalam mobil mewah itu. Aku tersentak. Aku hantam tangannya dengan gitarku sampai pisau itu terlepas dari genggamannya. Tiba-tiba dia mengambil bedil dan mengarahkan kearahku. Aku kabur tunggang-langgang dengan nafas memburu.
                Kejadian ini bukan aku saja yang mengalami. Hampir semua pengamen sepertiku mendapati perilaku yang sama dari mereka-mereka yang mengutuk kami. Aku tak habis pikir, bisa-bisanya hal ini terjadi. Hai para cendekiawan, ini bukan lagi kesenjangan sosial, tetapi pemusnahan sosial!
                Bos ku datang dengan Koran ditangannya. Dibantingnya Koran itu.
                “Bangsat. Mereka mengira kita dan para pedagang liar adalah kemacetan itu!”
                Tokoh kalangan atas yang menentang kemacetan memberikan komentar dan menuduh kami. Ini seperti pernyataan perang terbuka! Kami layani dengan taring menyeringai.
                Setiap kemacetan tiba, aku meyiapkan sebilah golok yang aku kaitkan di pinggang. Prinsip kami jelas.
                “Tidak akan menyerang kalau tidak diserang!!”
                Kalangan atas tidak semuanya itu musuh, karena segelintir dari mereka adalah para simpatisan yang sudah bisa memosisikan dirinya dikehidupan kami.
                Akhirnya ada juga kejadian dimana aku menebas leher musuh kami saat dia mencoba menodongkan senjata api laras pendek. Hampir putus. Darah bersimbah hingga tanganku merah. Anyir dan amis baunya. Ini perdana bagiku mengeksekusi. Bisa jadi membantu malaikat maut merealisasikan tugasnya. Ada rasa iba saat itu, namun prinsip menjadi penentu keteguhan hatiku.
                Peperangan ini terus berlanjut berhari-hari hampir sepekan lamanya. Dua rusukku sudah patah terkena tongkat golf, tanganku disarangi beberapa peluru, pelipisku robek terkena tiga jahitan, dan sisanya beberapa luka lecet terkena spion mobil. Satu nyawa… aku bantu menghilangkannya, selebihnya aku tidak pernah lagi mengincar leher, biasanya hanya tangan atau jari saja yang kutebas dengan golokku.
                Kalangan atas ternyata kelimpungan menghadapi kami. Kami merasa sudah diatas angin. Menang hampir kami raih, hampir kami genggam. Euforia ini kami hadirkan dengan menaiki mobil-mobil musuh sambil mengcungkan senjata. Golok, celurit, pisau, kujang, rencong, dan lain-lain. Yang penting harus tajam dan dibiarkan berkarat sedikit, supaya bisa meninggalkan tetanus.
                Tiba-tiba anjing-anjing mengepung kami dari jarak belasan meter. Aku bertatapan dengan bos ku. Matanya panik, wajahnya pucat. Kenapa dia? Ternyata dibalik anjing-anjing negara itu, ada sosok tokoh kalangan atas yang wajahnya terpampang di Koran. Aku dapat melihat wajahnya dari kejauhan, aku dapat lihat mimik wajahnya, tersenyum setan! Biadab, mereka menjilat pantat anjing itu untuk bisa memperbudaknya.
                Nafasku memburu. Hampir tegang. Pesimis mulai mengaburkan pandanganku, mengaburkan semangatku untuk membela kaumku dari fitnah ini. Mereka memang selalu mencari-cari kesalahan kaumku untuk menghindari kaumnya yang berpotensi lebih besar untuk disalahkan. Penjilat memang licik!
                Bos ku naik ke atas peti kemas kontainer. Mengarahkan golok tajam berkarat yang dihiasi darah kearah tokoh penentang kami.
                “Mati atau hidup dalam bayang-bayang kenistaan!!”
                Satu kalimat.
                Satu kalimat memang.
                Namun mampu untuk membuat kepulan semangat juang kami. Ya… mati urusan nanti. Kami tantang kematian itu.            
     


Mn ujung bulan 2012

Minggu, 09 Desember 2012

SAMUDERA


SAMUDERA
Deeto Kongo


Kulihat sebuah papan selancar terombang-ambing
Kulihat seorang pria dan wanita sedang berenang 
Kulihat sebuah perahu besar terapung
Kulihat sebuah perahu karet berawak
Dan berompi

Ternyata papan selancar itu sebuah papan setrikaan
Ternyata pria dan wanita itu adalah boneka manekin
Dan ternyata perahu besar itu sebuah lemari yang terbuka pintunya

Namun perahu karet
Yang awaknya berompi
Ternyata nyata 

SENYUM


SENYUM
Deeto Kongo

Aku merinding
Aku takut
Aku sedih
Bukan karena hantu
Namun karena senyumanmu

Sebenarnya tidak ada masalah dengannya
Senyum adalah hak setiap manusia
Apalagi katanya
Senyum adalah ibadah
Tapi yang jadi masalah
Senyummu berlebihan
Menjijikkan

Mengapa kau tidak berbuat sesuatu
Yang membuat mereka tersenyum 
Daripada kau tersenyum saja
Dan tidak berbuat apa-apa? 

Fiksi



Saya benar-benar buntu. Buntu. Buntu. Apa yang saya tulis tak lagi menjadi bahan fiksi yang unik. Dulu, ketika HB. Jassin dan kawan-kawan masih hidup, hingga dilanjutkan oleh kritikus generasi Sapardi dan Korrie, cerita fiksi adalah cerita yang hanya dalam imajinasi namun berfungsi untuk melukiskan dan menyamarkan kenyataan hingga halus dan bisa dinikmati.
Tetapi sekarang? Saya keki. Jengkel. Semua bahan fiksi yang akan, sedang, dan telah saya tulis, telah ada menjadi kenyataan yang jauh lebih jahat dan mengerikan. Sumpah. Lantas, pekerjaan saya apa lagi kalau khayalan saya di dahului dunia nyata?
Beberapa bulan lalu, saya ingin menulis tentang seorang ibu yang membakar anaknya karena tak mampu menghidupi keluarganya. Keluarganya belasan tahun menghilang, agar kesan fiksinya lebih kuat. Tak lupa, sosok suami yang turut menghilang dihadirkan dalam cerita ini.
Setelah lelah membuat jalinan cerita, saya menonton televisi sambil menyeruput kopi hangat. Harum sekali. Saya lalu duduk di sofa empuk. Untuk referensi, saya coba-coba melihat berita, siapa tahu ada yang bisa saya tambahkan kedalam cerita. Televisi malam-malam begini kalau tidak film lama ya berita pagi yang hampir basi.
Eh, tak tahunya... tokoh-tokoh dalam cerpen saya menjadi objek berita malam itu! Lengkap dengan laporan langsung dan suami yang memang menghilang serta keluarganya yang tak jelas rimbanya. Kenapa pas benar, ya?
Saya sepakat, bahwa cerita fiksi harus memiliki jarak fiksi dengan dunia nyata. Saya sadar betul. Meski hanya nama yang berbeda, tetapi saya tetap jengkel, saya harus mencari ide lain agar kesan kreatif saya tetap bertahan.
Apa, ya? Oh ya.
Saya, malam itu juga, akhirnya menemukan cerita tentang seorang pengarang feminis yang mengadakan bedah buku di kota. Kota Ku terkenal dengan penduduknya yang memegang teguh religiusitas dan toleransi.
Banjir dan kemampetan jalan raya oleh sampah-sampah menjadi masalah utama kota. Disamping, seperti pada umumnya kota besar, urbanisasi menghasilkan berton-ton masalah yang tak kunjung selesai.
Apa lagi, ya? Ia mengadakan acara ini atas desakan komunitas para sastrawan agak kiri sedikit yang ingin menambah wawasan. Juga, mereka yakin acara ini diadakan di lingkungan terbatas. Nah, di tengah cerita, sekelompok telik sandi beberapa ormas mencium gelagat ini. mereka anti feminis. Ssst, mereka nafsunya besar juga pada wanita.
Masalahnya, materi buku yang di bedah dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka, seperti, gravitasi itu kebawah, dan laki-laki itu unik, serta perempuan itu ganas. Mulailah mereka merencanakan sesuatu.
Penggerebekan. Tepat di tengah acara. Maka jadilah penggerebekan itu mengacaukan acara yang tengah berlangsung, pembicara berusaha menetralkan, tetapi yang ormas-ormas itu inginkan, acara berhenti dan pembicara hengkang ke negara asalnya yang sangat liberal. Neo liberalis.
Tiga hari setelah saya tulis cerita ini, dan yakin sekali akan di muat di koran Kota Ku, mata saya mencolot hampir jatuh. “SEORANG PENGARANG FEMINIS DI GEREBEK MASSA DI TEMPAT BEDAH BUKU”
Awalnya, saya mengira itu judul cerpen saya yang saya kirim minggu lalu. Tetapi, ternyata itu judul berita utama. Buntu! Saya menyerapah. Entah kenapa lagi-lagi dunia nyata mendahului saya. Apa-apaan sih dunia ini? tidak punya pekerjaan selain mengganggu cerita-cerita saya.
Saya kesal. Akhirnya saya membuat cerita tanpa berkhayal sama sekali. Maksudnya, pura-pura tak pernah tahu dunia nyata. Semoga kali ini saya berhasil membuat jarak fiksi yang begitu nyata. Bahasa adalah simbol kenyataan, baik. Dan kini mari merenung-renung tentang jalan ceritanya.
“pada suatu hari,” saya memulainya. Cukup fiksi.
Dulu, ada seorang bupati yang memenangkan pemilihan di sebuah kota kecil dekat laut. Ia memenangkan pemilihan itu karena wakil yang menjadi pasangannya, adalah pemain ludruk terkenal. Semua bisa dibuat terpingkal-pingkal olehnya. Ia lucu sekali.
Singkat cerita, mereka berdua banyak membuat terobosan-terobosan dalam pembangunan. Namun, dasar laki-laki. Di tengah jalan, libido sang bupati menuntut gadis perawan termolek dari rakyat yang dipimpinnya dipersembahkan kepadanya. Bagaimana dengan sang wakil?
Rupanya, pemain ludruk beruntung ini mencium gelagat tak baik sejak awal, maklum. Ia ahli sandiwara. Ahli membaca skenario dan penerapannya di dunia peran. Ia mengundurkan diri, yang tentu saja di sambut kekagetan berbagai pihak. Mengejutkan!Mulailah ia membeberkan satu demi satu skandal, meski secara tersirat. Sang bupati, sebagaimana lazaimnya pejabat negeri itu, tetap cuek dan tak tersentuh.
Kembali tentang bupati, ia kesampaian menikahi gadis termolek di kotanya, meski keluarga sang gadis setengah hati. Umur sang bupati hampir padam, tapi masih saja menyala-nyala libidonya. Pada gadis pula.Itu kan jatah jejaka kotanya, kritik aktivis perempuan yang mengomentari kejadian ini di sebuah acara televisi.
Entah kenapa, seperti orang kekenyangan saja, bupati nyentrik ini menceraikan istrinya di usia perkawinan yang baru empat hari!
Aha, cerita saya kali ini cukup fiksi. Yang sanggup mengalahkannya hanya lakon-lakon wayang seperti Bima Bungkus, Gatotkaca Sraya, atau sekalian Wahyu Makutharama. Ya, saya yakin benar kali ini.
Mungkin, cerita kuda Troya yang ternyata non-fiksi juga belum tentu punya skenario serumit dan seaneh ini, meskipun jika penguasa kota saya tahu ada karangan seperti ini yang dimuat, siap-siap saja ganti nomor telepon.
Eh, dasar pena saya dikutuk Yang Maha Kuasa. Seminggu setelahnya, di D-U-N-I-A N-Y-A-T-A YANG SAYA BENCI, infotainmen ramai-ramai memberitakan tentang bupati dari kota di dekat laut, yang habis ditinggal oleh wakilnya karena perbedaan prinsip dan skandal yang macam-macam, menikah dengan gadis usia delapan belas tahun.
Belum cukup, yang paling melukai perasaan saya sebagai pengarang yang mengagung-agungkan kefiksian cerita saya kali ini-dengan harapan masuk koran-empat hari kemudian dia menceraikan istrinya. Yang paling menghancurkan logika saya, ketika di wawancara dalam sebuah jumpa pers, ia dengan wajah penuh senyum mengatakan demikian:
“mencintai wanita itu seperti mengganti baju, kalau tak suka, ya ganti lagi...”
Gol. Gawang saya robek parah. Hati dan logika saya ditembus bola misterius bernama kegagalan menciptakan jarak fiksi antara cerpen saya dengan kenyataan. Kalau begini, imajinasi saya ternyata menjadi logis, dan cerpen saya menjadi seperti berita di koran. Apalah maksudnya ini!
Saya sih, senang-senang saja mengenakan wanita seperti mengenakan baju. Jangan dibayangkan, ya. Masalahnya, wanita mana yang mau dianggap demikian? Memang mengasyikkan, tapi resikonya, bos!
Saya frustasi, tuan. Saya merapuh. Pekerjaan saya sebagai pengarang terancam mengalami kebuntuan. Apa saja yang menjadi keyakinan saya mengenai kefiksian sedang diuji. Tetapi saya harus melakukan sesuatu agar karier saya di koran-koran tak mampus.
Dapat duit dari mana, coba?
Saya memutuskan untuk konsultasi pada sastrawan terkemuka negeri ini, namun tak dikenal, sebab karyanya banyak dinikmati orang tetapi tidak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah. Nilainya tinggi, luhur. Tetapi matematika dan linguistik jauh lebih luhur dalam sistem nilai dan norma saat ini.
“Jadilah wartawan, teman...” Katanya tenang. Ia banyak mengalami asam garam kenyataaan. Rujak.
“Saya pengarang, mas, tidak seprinsip!” Saya mencoba idealis.
Dia ini saya anggap teman sekaligus guru pribadi yang bisa saya temui tanpa harus menuliskan di daftar pustaka.
“Buktinya, tulisanmu identik dengan berita di koran,”
“Bukan itu...”
Ia menyela, “Buat apa kamu susah-susah membuat cerita, yang mengandung nilai moral, kalau di masyarakat fiksi tak memiliki jarak lagi dengan dunia nyata....”
Asap rokoknya mengepul tinggi-tinggi, sementara rokok saya hambar. Ditelan frustasi.
“Sebenarnya fiksi itu apa sih, mas...” Saya merenung.
“Ya, tidak nyata, gampangnya, ngimpi, gitu”
“Terus, yang saya buat selama ini apa, mas? Nyata terus”
“Kamu harus ngerti, teman. Kenapa pengarang-pengarang luhur jaman orde-orde itu mampet bikin karya lagi. Mereka sadar, mendekati kiamat, Tuhan menciptakan makhluk baru dari dunia konsep di dunia nyata bernama Fiksi” Ia merebahkan badannya lebih nyaman pada kursi kayu tempat kami diskusi.
“Ah, mas, saya sedang konsul malah dikasih puisi”
“Lho, aku lagi nyimpulkan ini. Menjelaskan yang kamu alami. Fiksi ini dinyatakan Tuhan, sehingga kita, para pengarang sebagai pemilik awal fiksi awalnya keheranan juga”
“Terus, hubungannya apa?”
Dari mulutnya memang bau ciu. Tetapi omongan sastrawan besar kita ini ada benarnya juga. fiksi kini tak ada lagi, semuanya menjadi mungkin ada  dan kemungkinannya lebih besar, jauh lebih besar dari sebelumnya untuk ada di dunia nyata. Entah kenapa.
Mungkin pemerintah kita adalah korban kebijakan jaman dulu, yang mewajibkan kita rajin membaca fiksi, sehingga mereka terpengaruh cerita-cerita itu.
“Ya, gitu lah. Sudahlah, kamu jadi wartawan saja, terus kamu beritakan hal yang aneh-aneh itu menggunakan kemampuan bahasamu yang meliuk-liuk”
“Ye, nanti sama dengan berita gosip, yang meliuk-liuk bahasanya, lagipula saya tetap ingin jadi pengarang!”
“kalau begitu,” tandasnya, “Kau tulis saja yang pasti fiksi,”
“Apa itu?”
“Menulis konsep tentang masyarakat ideal... atau masyarakat madani... atau sekelompok pengarang yang tinggal di satu desa... atau kita berdua,”
“Lantas?” Saya mengabaikan pendapatnya bahwa kami berdua adalah fiksi.
“Masalahmu, teman, ada pada ketidakmampuanmu menciptakan jarak fiksi antara karangan cerpenmu dengan berita di tivi”
Tuan-tuan tahu? Sepulangnya dari obrolan yang sebetulnya masih panjang itu, saya memutuskan untuk berhenti menulis fiksi, dan menjadi peneliti saja. Tentang berapa jumlah cerita fiksi yang telah menjadi kenyataan.
Kenapa tidak menjadi wartawan? Saya trauma. Trauma membuat cerita, takut dunia nyata yang saya laporkan berbalik menjadi fiksi seperti ketika saya menjadi pengarang cerita fiksi.

Ar-Risalah

Ssstt Jangan Buang Sampah Di Sini



            Sore yang gerimis kembali menyapu jalanan dan debu-debu trotoar. Pekat di bawah sana, arus kecil air kecoklatan yang menyapu tanah membawa segala polusi turun menyentuh tanah dan pergi mengalir melalui got-got kecil di bawah sana hingga ke hulu-hulu sungai nun jauh di sana.
            Di halte sana seorang anak kecil terduduk. Satu tumpuk Koran dipeluknya, tak lupa selembar plastik transparan membungkus setumpuk Koran demi melindunginya dari cipratan atau tetesan air yang merembes dari atap halte yang bocor.
            Biasanya ketika gerimis seperti ini ada satu atau dua bahkan lebih pengguna sepeda motor atau pejalan kaki yang berteduh, namun untuk kali ini halte seakan sepi. Hanya anak kecil penjual Koran saja yang duduk meneduh di sana.
            Anak itu melihat ke kanan dan kiri menyapu seluruh jalanan. lampu merah, lampu lalu lintas sana terus menyala. Semakin lama tumpukkan kendaraan mulai membanyak, mengantre lampu merah berpindah ke lampu hijau untuk menyala. Bunyi decit rem di hadapan mengagetkan anak itu. Seorang pria paruh baya berkendara sepesa motor berhenti dan meneduh di halte. Akhirnya ada juga yang berteduh di halte di sore yang gerimis ini. Pria itu duduk di samping anak kecil penjual Koran itu. Dinyalakannya sebatang rokok di mulutnya, asap mengepul memenuhi atmosfer halte. Dia melirik anak kecil di sampingnya sembari melepaskan batang rokok dari mulutnya dengan menggunakan dua buah jari yang mengapit pada ujung rokok tersebut.
            “Koran sore ya dek?” tanya pria paruh baya itu.
            “Iya pak” jawab lugu anak kecil penjual Koran.
            Dirogohnya saku celana dan diberikan selembar uang ke anak itu dan ditukarkannya dengan satu judul Koran. Dibukanya Koran itu lembar demi lembar, tapi tak satu pun yang terlihat jelas pria itu membacanya. Setelah lembar terakhir ia lihat, pandangannya ia alihkan ke anak itu.
            “Belum ganti baju dek?”.
            “Belum pak”.
            “Kelas berapa?”.
            “Kelas 5 pak”.
            “Ohhh…”.
            Kembali pria itu menghisap rokoknya, dikepulkan asap membumbung tinggi ke langit. Sore gerimis ini belum juga reda, langit mendung seakan masih menahan beban bawaannya untuk tidak ia turunkan dengan segera. Sedikit demi sedikit, mungkin nanti malamlah ia turunkan semua. Asap rokok membaur dengan rintikkan hujan dan jatuh, kalah terbawa oleh rintik-rintik air menghempas tanah.
            Dilipatnya Koran dan ditaruhnya di samping. Ia berdiri dan melangkah beberapa langkah. Menjulurkan tangannya ke depan menjauhi atap halte, merasakan apakah gerimis yang turun mulai reda perlahan. Dirasanya masih belum reda gerimis yang turun di sore ini, ia kembali berjalan dan duduk. Masih di samping anak itu. Dihisapnya rokok di tangannya kembali.
            “Hah, hujannya masih belum berhenti” keluh pria itu, “Bisa terlambat pulang sampai rumah. Kalau nekat hujan-hujanan, nanti malah sakit. Pusing kepala”.
            “Mana badan pegal semua” pria itu kembali berdiri. Dilihatnya ke kanan dan kiri, sejauh-jauhnya yang dapat ia terawang.
            Mendengar keluhan pria itu, anak kecil itu hanya terdiam memperhatikan tindak-tanduk pria itu.
            “Nah itu dia” diserongkan pandangannya ke arah pertokoan tak jauh dari lampu lalu lintas sana. Matanya mulai mencari ke kanan dan kiri. Diambil Koran di tempat ia duduk di damping anak kecil itu tadi, dibuka dan diangkat ke atas kepala. Ia berjalan agak berlari ke arah pertokoan sana dengan dipayungi Koran yang ia beli dari anak kecil penjual Koran di halte itu.
            Sekarang tinggallah sendiri anak kecil itu, yang terus dari tadi memandang tindak-tanduk pria itu. Matanya masih ke arah pria itu yang hilang masuk ke dalam sebuah pertokoan tak jauh dari sana.
            Setelah agak lama pria itu kembali ke halte dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam di tangannya. Koran-koran yang tadi ia gunakan untuk melindungi dari rintikkan hujan masih tetap ia gunakan sebagai paying. Pelindung dari hujan gerimis sore ini. Ia bediri di halte, dibuangnya Koran-koran basah itu ke tanah. Dari bungkusan plastik hitam ia keluarkan sebuah lipatan jas hujan.
            Ia tadi berjalan pergi ke toko itu dan membeli jas hujan, pikin anak itu memperhatikan pria paruh baya itu.
            Pria itu mulai mengeluarkan jas hujannya, di bentangkannya dan di pakai mulai dari celana hingga baju dari jas hujan itu. Setelah selesai memakainya pria itu berjalan ke arah sepeda motornya, dinaiki, dinyalakan dan pergilah ia dari halte itu.
            Anak kecil penjual Koran itu masih duduk terdiam memperhatikan pria tadi pergi. Dialihkannya perhatiannya ke arah tumpukkan Koran basah yang dibuang pria tadi. Dia berdiri dan mulai membereskan tumpukkan Koran basah itu, dirapikannya tumpukkan itu dan ditaruhnya di atas tempat duduk. Dilipatnya sesuai lipatannya yang sudah mulai sobek di sana dan sini.  
            Setelah selesai ia rapiakan dan ia taruh di tempat duduk, sedikit lama ia memperhatikan Koran basah itu. Dirogohnya kantong saku celannya, selembar uang ia keluarkan. Selembar uang itu ia taruh di atas Koran basah itu.
            Lalu berjalanlah ia ke tumpukkan Koran miliknya. diambil dan dibawa dalam pelukkannya meninggalkan halte, pada sore bergerimis yang turun membasahi jalanan, trotoar, dan segala pepohonan yang dipayungi gedung-gedung pencakar langit di kota ini.  



Ridwan

Bicara Tentang Surga, Seperti Hidup Dalam Dongeng?



            Mari kita menjelma menjadi pepohonan di surga, lalu perhatikan manusia pertama yang baru saja diciptakan. Dia dianugerahi nama Adam oleh sang Pencipta. Dengan kuasa yang dikehendaki sang Pencipta, Ia menyuruh mahluk yang sudah lebih dahulu diciptakannya untuk memberi penghormatan kepada Adam.
            Malaikat adalah mahluk yang selalu bertasbih, tugas dia yang utama adalah ta’at kepada sang Pencipta. Saat diminta untuk menghormati Adam, maka rebahlah badannya sebagai tanda penghormatan. Tidak ada hal yang penting setelah ini.
            Iblis? Kau tahu Iblis? Dia adalah mahluk sang Pencipta yang juga tidak kalah bertaqwanya. Kemudian apa yang terjadi ketika Iblis diminta penghormatannya kepada Adam?
            “Api lebih baik daripada tanah.”
            Penolakan.
            Iblis hanya tidak mau menghormati Adam.
            Kepada sang Pencipta? Ia tetap sujud dan rebah menyembah.
            Bermain-mainlah Adam dalam surga itu. Iblis? Dia sudah diusir akibat penolakan. Adam sendirian dan muncul rasa sepi ditengah kenikmatan. Sang Pencipta akhirnya menciptakan pasangan untuk Adam melalui salah satu tulang rusuknya bagian kiri, dan jadilah seorang perempuan yang bernama Hawa. Mungkin bidadari belum ada saat itu.
            Kira-kira kau tahu apa pandangan Adam kepada Hawa pertama kali? Cinta sepertinya. Lalu mereka bersenang-senanglah hingga lalai bahwa Iblis sudah menjadi musuh yang nyata bagi mereka.
            Tahukah kau? Kadang aku sempat berpikir jauh ke masa itu. Masa Adam yang sedang bercengkrama dengan Hawa dalam surga yang jarang dijelaskan surga apa.
            Kau juga pasti tahu kan? Siapa yang paling bertanggung jawab atas tinggalnya kaum kita di bumi ini? Pernahkah kau menyesalinya? Atau… pernahkah kau berkhayal jika peristiwa Adam dan Hawa memakan buah khuldi itu tidak pernah ada?
            Ah, jadi kau bahkan menginginkannya? Menginginkan peristiwa itu tidak pernah ada? Supaya apa? Aha… supaya anak cucu Adam juga bisa  menetap di surga itu pastinya kan? Dan kau… kau juga bisa menetap disana tanpa perlu merasakan pahit ketir tinggal di bumi ini ya? Kau ini picik juga ya.
            Baiklah, mari kita hidupkan khayalan kita kembali, jika memang takdir yang kita kehendaki terjadi. Manusia menetap di surga itu. Manusia menetap disana dengan segala kenikmatan yang ada. Kira-kira seperti itu?
            Pertama-pertama kontruksi tubuh manusia tidak seperti sekarang ini.
            Buang air besar?
            Buang air kecil?
            Kentut?
            Manusia tidak akan mengeluarkan hal-hal menjijikan seperti itu. Tubuh mereka bersih dan wangi. Memancarkan cahaya? Bisa jadi.
            Manusia berlimpah kenikmatan. Mereka tinggal menjentikkan jari, maka muncullah keinginan yang ada di pikirannya. Kebutuhan biologis? Bagaiman dengan kebutuhan itu? Tenang, mau dengan lawan jenis dari manusia? Atau dengan bidadari? Aku dengar-dengar, kerudung bidadari itu lebih indah dari dunia dan seisinya. Tahan dulu liurmu… klimaksnya bisa mencapai 70 tahun lamanya. Ah itu yang kau tunggu-tunggu bukan?
            Manusia dibuai kenikmatan abadi.
            Pasti ada dampak negatifnya dari khayalan kita ini. Mari kita berpikir sedikit lagi. Manusia menetap di surga itu? Tanpa seleksi terlebih dahulu dari bumi? Tanpa merasakan pahit ketir dulu?
            Ujian?
            Peringatan?
            Adzab?
            Apakah ‘mungkin’ itu masih ada ketika sudah di surga? Apakah manusia akan merasakan ujian, peringatan, atau bahkan menyaksikan adzab? Lalu iblis? Apa pekerjaan mereka ketika manusia menetap di surga itu? Masih adakah yang sanggup digoda? Maka Iblis akan kesepian nanti di dalam neraka.
            Tanpa proses hidup di bumi, langsung menetap di surga… ini akan menjadikan manusia tidak tahu arti dari perjuangan? Pengorbanan? Berbagi? Penderitaan? Memperebutkan cinta dari sesama? Dan lain sebagainya yang hanya ada di bumi.
            Manusia menjadi konsumtif tanpa tahu arti dari itu semua. Kau pernah berpikir seperti itu?
            Hedonisme…
            Kau pernah berpikir seperti itu?
            Ternyata sang Pencipta maha pintar. Sebelum Ia menciptakan Adam, Ia telah memberikan tujuan yang jelas terhadap apa yang akan diciptakannya.
            Adam dan anak cucunya akan menjadi khalifah di bumi yang telah diciptakan-Nya. Sungguh menarik bukan? Lalu Malaikat.. apa responnya? Dia mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh sang Pencipta. Seperti ada keraguan bukan?
            Hebat, malaikat meragukan keputusan sang Pencipta.
            Hakikat para malaikat adalah ta’at kepada sang Pencipta, jadi saat dia mempertanyakan keputusan sang Pencipta, apa kiranya jawaban sang Pencipta?
            “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


           
mn ujung bulan 2012