Minggu, 09 Desember 2012

SAMUDERA


SAMUDERA
Deeto Kongo


Kulihat sebuah papan selancar terombang-ambing
Kulihat seorang pria dan wanita sedang berenang 
Kulihat sebuah perahu besar terapung
Kulihat sebuah perahu karet berawak
Dan berompi

Ternyata papan selancar itu sebuah papan setrikaan
Ternyata pria dan wanita itu adalah boneka manekin
Dan ternyata perahu besar itu sebuah lemari yang terbuka pintunya

Namun perahu karet
Yang awaknya berompi
Ternyata nyata 

SENYUM


SENYUM
Deeto Kongo

Aku merinding
Aku takut
Aku sedih
Bukan karena hantu
Namun karena senyumanmu

Sebenarnya tidak ada masalah dengannya
Senyum adalah hak setiap manusia
Apalagi katanya
Senyum adalah ibadah
Tapi yang jadi masalah
Senyummu berlebihan
Menjijikkan

Mengapa kau tidak berbuat sesuatu
Yang membuat mereka tersenyum 
Daripada kau tersenyum saja
Dan tidak berbuat apa-apa? 

Fiksi



Saya benar-benar buntu. Buntu. Buntu. Apa yang saya tulis tak lagi menjadi bahan fiksi yang unik. Dulu, ketika HB. Jassin dan kawan-kawan masih hidup, hingga dilanjutkan oleh kritikus generasi Sapardi dan Korrie, cerita fiksi adalah cerita yang hanya dalam imajinasi namun berfungsi untuk melukiskan dan menyamarkan kenyataan hingga halus dan bisa dinikmati.
Tetapi sekarang? Saya keki. Jengkel. Semua bahan fiksi yang akan, sedang, dan telah saya tulis, telah ada menjadi kenyataan yang jauh lebih jahat dan mengerikan. Sumpah. Lantas, pekerjaan saya apa lagi kalau khayalan saya di dahului dunia nyata?
Beberapa bulan lalu, saya ingin menulis tentang seorang ibu yang membakar anaknya karena tak mampu menghidupi keluarganya. Keluarganya belasan tahun menghilang, agar kesan fiksinya lebih kuat. Tak lupa, sosok suami yang turut menghilang dihadirkan dalam cerita ini.
Setelah lelah membuat jalinan cerita, saya menonton televisi sambil menyeruput kopi hangat. Harum sekali. Saya lalu duduk di sofa empuk. Untuk referensi, saya coba-coba melihat berita, siapa tahu ada yang bisa saya tambahkan kedalam cerita. Televisi malam-malam begini kalau tidak film lama ya berita pagi yang hampir basi.
Eh, tak tahunya... tokoh-tokoh dalam cerpen saya menjadi objek berita malam itu! Lengkap dengan laporan langsung dan suami yang memang menghilang serta keluarganya yang tak jelas rimbanya. Kenapa pas benar, ya?
Saya sepakat, bahwa cerita fiksi harus memiliki jarak fiksi dengan dunia nyata. Saya sadar betul. Meski hanya nama yang berbeda, tetapi saya tetap jengkel, saya harus mencari ide lain agar kesan kreatif saya tetap bertahan.
Apa, ya? Oh ya.
Saya, malam itu juga, akhirnya menemukan cerita tentang seorang pengarang feminis yang mengadakan bedah buku di kota. Kota Ku terkenal dengan penduduknya yang memegang teguh religiusitas dan toleransi.
Banjir dan kemampetan jalan raya oleh sampah-sampah menjadi masalah utama kota. Disamping, seperti pada umumnya kota besar, urbanisasi menghasilkan berton-ton masalah yang tak kunjung selesai.
Apa lagi, ya? Ia mengadakan acara ini atas desakan komunitas para sastrawan agak kiri sedikit yang ingin menambah wawasan. Juga, mereka yakin acara ini diadakan di lingkungan terbatas. Nah, di tengah cerita, sekelompok telik sandi beberapa ormas mencium gelagat ini. mereka anti feminis. Ssst, mereka nafsunya besar juga pada wanita.
Masalahnya, materi buku yang di bedah dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka, seperti, gravitasi itu kebawah, dan laki-laki itu unik, serta perempuan itu ganas. Mulailah mereka merencanakan sesuatu.
Penggerebekan. Tepat di tengah acara. Maka jadilah penggerebekan itu mengacaukan acara yang tengah berlangsung, pembicara berusaha menetralkan, tetapi yang ormas-ormas itu inginkan, acara berhenti dan pembicara hengkang ke negara asalnya yang sangat liberal. Neo liberalis.
Tiga hari setelah saya tulis cerita ini, dan yakin sekali akan di muat di koran Kota Ku, mata saya mencolot hampir jatuh. “SEORANG PENGARANG FEMINIS DI GEREBEK MASSA DI TEMPAT BEDAH BUKU”
Awalnya, saya mengira itu judul cerpen saya yang saya kirim minggu lalu. Tetapi, ternyata itu judul berita utama. Buntu! Saya menyerapah. Entah kenapa lagi-lagi dunia nyata mendahului saya. Apa-apaan sih dunia ini? tidak punya pekerjaan selain mengganggu cerita-cerita saya.
Saya kesal. Akhirnya saya membuat cerita tanpa berkhayal sama sekali. Maksudnya, pura-pura tak pernah tahu dunia nyata. Semoga kali ini saya berhasil membuat jarak fiksi yang begitu nyata. Bahasa adalah simbol kenyataan, baik. Dan kini mari merenung-renung tentang jalan ceritanya.
“pada suatu hari,” saya memulainya. Cukup fiksi.
Dulu, ada seorang bupati yang memenangkan pemilihan di sebuah kota kecil dekat laut. Ia memenangkan pemilihan itu karena wakil yang menjadi pasangannya, adalah pemain ludruk terkenal. Semua bisa dibuat terpingkal-pingkal olehnya. Ia lucu sekali.
Singkat cerita, mereka berdua banyak membuat terobosan-terobosan dalam pembangunan. Namun, dasar laki-laki. Di tengah jalan, libido sang bupati menuntut gadis perawan termolek dari rakyat yang dipimpinnya dipersembahkan kepadanya. Bagaimana dengan sang wakil?
Rupanya, pemain ludruk beruntung ini mencium gelagat tak baik sejak awal, maklum. Ia ahli sandiwara. Ahli membaca skenario dan penerapannya di dunia peran. Ia mengundurkan diri, yang tentu saja di sambut kekagetan berbagai pihak. Mengejutkan!Mulailah ia membeberkan satu demi satu skandal, meski secara tersirat. Sang bupati, sebagaimana lazaimnya pejabat negeri itu, tetap cuek dan tak tersentuh.
Kembali tentang bupati, ia kesampaian menikahi gadis termolek di kotanya, meski keluarga sang gadis setengah hati. Umur sang bupati hampir padam, tapi masih saja menyala-nyala libidonya. Pada gadis pula.Itu kan jatah jejaka kotanya, kritik aktivis perempuan yang mengomentari kejadian ini di sebuah acara televisi.
Entah kenapa, seperti orang kekenyangan saja, bupati nyentrik ini menceraikan istrinya di usia perkawinan yang baru empat hari!
Aha, cerita saya kali ini cukup fiksi. Yang sanggup mengalahkannya hanya lakon-lakon wayang seperti Bima Bungkus, Gatotkaca Sraya, atau sekalian Wahyu Makutharama. Ya, saya yakin benar kali ini.
Mungkin, cerita kuda Troya yang ternyata non-fiksi juga belum tentu punya skenario serumit dan seaneh ini, meskipun jika penguasa kota saya tahu ada karangan seperti ini yang dimuat, siap-siap saja ganti nomor telepon.
Eh, dasar pena saya dikutuk Yang Maha Kuasa. Seminggu setelahnya, di D-U-N-I-A N-Y-A-T-A YANG SAYA BENCI, infotainmen ramai-ramai memberitakan tentang bupati dari kota di dekat laut, yang habis ditinggal oleh wakilnya karena perbedaan prinsip dan skandal yang macam-macam, menikah dengan gadis usia delapan belas tahun.
Belum cukup, yang paling melukai perasaan saya sebagai pengarang yang mengagung-agungkan kefiksian cerita saya kali ini-dengan harapan masuk koran-empat hari kemudian dia menceraikan istrinya. Yang paling menghancurkan logika saya, ketika di wawancara dalam sebuah jumpa pers, ia dengan wajah penuh senyum mengatakan demikian:
“mencintai wanita itu seperti mengganti baju, kalau tak suka, ya ganti lagi...”
Gol. Gawang saya robek parah. Hati dan logika saya ditembus bola misterius bernama kegagalan menciptakan jarak fiksi antara cerpen saya dengan kenyataan. Kalau begini, imajinasi saya ternyata menjadi logis, dan cerpen saya menjadi seperti berita di koran. Apalah maksudnya ini!
Saya sih, senang-senang saja mengenakan wanita seperti mengenakan baju. Jangan dibayangkan, ya. Masalahnya, wanita mana yang mau dianggap demikian? Memang mengasyikkan, tapi resikonya, bos!
Saya frustasi, tuan. Saya merapuh. Pekerjaan saya sebagai pengarang terancam mengalami kebuntuan. Apa saja yang menjadi keyakinan saya mengenai kefiksian sedang diuji. Tetapi saya harus melakukan sesuatu agar karier saya di koran-koran tak mampus.
Dapat duit dari mana, coba?
Saya memutuskan untuk konsultasi pada sastrawan terkemuka negeri ini, namun tak dikenal, sebab karyanya banyak dinikmati orang tetapi tidak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah. Nilainya tinggi, luhur. Tetapi matematika dan linguistik jauh lebih luhur dalam sistem nilai dan norma saat ini.
“Jadilah wartawan, teman...” Katanya tenang. Ia banyak mengalami asam garam kenyataaan. Rujak.
“Saya pengarang, mas, tidak seprinsip!” Saya mencoba idealis.
Dia ini saya anggap teman sekaligus guru pribadi yang bisa saya temui tanpa harus menuliskan di daftar pustaka.
“Buktinya, tulisanmu identik dengan berita di koran,”
“Bukan itu...”
Ia menyela, “Buat apa kamu susah-susah membuat cerita, yang mengandung nilai moral, kalau di masyarakat fiksi tak memiliki jarak lagi dengan dunia nyata....”
Asap rokoknya mengepul tinggi-tinggi, sementara rokok saya hambar. Ditelan frustasi.
“Sebenarnya fiksi itu apa sih, mas...” Saya merenung.
“Ya, tidak nyata, gampangnya, ngimpi, gitu”
“Terus, yang saya buat selama ini apa, mas? Nyata terus”
“Kamu harus ngerti, teman. Kenapa pengarang-pengarang luhur jaman orde-orde itu mampet bikin karya lagi. Mereka sadar, mendekati kiamat, Tuhan menciptakan makhluk baru dari dunia konsep di dunia nyata bernama Fiksi” Ia merebahkan badannya lebih nyaman pada kursi kayu tempat kami diskusi.
“Ah, mas, saya sedang konsul malah dikasih puisi”
“Lho, aku lagi nyimpulkan ini. Menjelaskan yang kamu alami. Fiksi ini dinyatakan Tuhan, sehingga kita, para pengarang sebagai pemilik awal fiksi awalnya keheranan juga”
“Terus, hubungannya apa?”
Dari mulutnya memang bau ciu. Tetapi omongan sastrawan besar kita ini ada benarnya juga. fiksi kini tak ada lagi, semuanya menjadi mungkin ada  dan kemungkinannya lebih besar, jauh lebih besar dari sebelumnya untuk ada di dunia nyata. Entah kenapa.
Mungkin pemerintah kita adalah korban kebijakan jaman dulu, yang mewajibkan kita rajin membaca fiksi, sehingga mereka terpengaruh cerita-cerita itu.
“Ya, gitu lah. Sudahlah, kamu jadi wartawan saja, terus kamu beritakan hal yang aneh-aneh itu menggunakan kemampuan bahasamu yang meliuk-liuk”
“Ye, nanti sama dengan berita gosip, yang meliuk-liuk bahasanya, lagipula saya tetap ingin jadi pengarang!”
“kalau begitu,” tandasnya, “Kau tulis saja yang pasti fiksi,”
“Apa itu?”
“Menulis konsep tentang masyarakat ideal... atau masyarakat madani... atau sekelompok pengarang yang tinggal di satu desa... atau kita berdua,”
“Lantas?” Saya mengabaikan pendapatnya bahwa kami berdua adalah fiksi.
“Masalahmu, teman, ada pada ketidakmampuanmu menciptakan jarak fiksi antara karangan cerpenmu dengan berita di tivi”
Tuan-tuan tahu? Sepulangnya dari obrolan yang sebetulnya masih panjang itu, saya memutuskan untuk berhenti menulis fiksi, dan menjadi peneliti saja. Tentang berapa jumlah cerita fiksi yang telah menjadi kenyataan.
Kenapa tidak menjadi wartawan? Saya trauma. Trauma membuat cerita, takut dunia nyata yang saya laporkan berbalik menjadi fiksi seperti ketika saya menjadi pengarang cerita fiksi.

Ar-Risalah

Ssstt Jangan Buang Sampah Di Sini



            Sore yang gerimis kembali menyapu jalanan dan debu-debu trotoar. Pekat di bawah sana, arus kecil air kecoklatan yang menyapu tanah membawa segala polusi turun menyentuh tanah dan pergi mengalir melalui got-got kecil di bawah sana hingga ke hulu-hulu sungai nun jauh di sana.
            Di halte sana seorang anak kecil terduduk. Satu tumpuk Koran dipeluknya, tak lupa selembar plastik transparan membungkus setumpuk Koran demi melindunginya dari cipratan atau tetesan air yang merembes dari atap halte yang bocor.
            Biasanya ketika gerimis seperti ini ada satu atau dua bahkan lebih pengguna sepeda motor atau pejalan kaki yang berteduh, namun untuk kali ini halte seakan sepi. Hanya anak kecil penjual Koran saja yang duduk meneduh di sana.
            Anak itu melihat ke kanan dan kiri menyapu seluruh jalanan. lampu merah, lampu lalu lintas sana terus menyala. Semakin lama tumpukkan kendaraan mulai membanyak, mengantre lampu merah berpindah ke lampu hijau untuk menyala. Bunyi decit rem di hadapan mengagetkan anak itu. Seorang pria paruh baya berkendara sepesa motor berhenti dan meneduh di halte. Akhirnya ada juga yang berteduh di halte di sore yang gerimis ini. Pria itu duduk di samping anak kecil penjual Koran itu. Dinyalakannya sebatang rokok di mulutnya, asap mengepul memenuhi atmosfer halte. Dia melirik anak kecil di sampingnya sembari melepaskan batang rokok dari mulutnya dengan menggunakan dua buah jari yang mengapit pada ujung rokok tersebut.
            “Koran sore ya dek?” tanya pria paruh baya itu.
            “Iya pak” jawab lugu anak kecil penjual Koran.
            Dirogohnya saku celana dan diberikan selembar uang ke anak itu dan ditukarkannya dengan satu judul Koran. Dibukanya Koran itu lembar demi lembar, tapi tak satu pun yang terlihat jelas pria itu membacanya. Setelah lembar terakhir ia lihat, pandangannya ia alihkan ke anak itu.
            “Belum ganti baju dek?”.
            “Belum pak”.
            “Kelas berapa?”.
            “Kelas 5 pak”.
            “Ohhh…”.
            Kembali pria itu menghisap rokoknya, dikepulkan asap membumbung tinggi ke langit. Sore gerimis ini belum juga reda, langit mendung seakan masih menahan beban bawaannya untuk tidak ia turunkan dengan segera. Sedikit demi sedikit, mungkin nanti malamlah ia turunkan semua. Asap rokok membaur dengan rintikkan hujan dan jatuh, kalah terbawa oleh rintik-rintik air menghempas tanah.
            Dilipatnya Koran dan ditaruhnya di samping. Ia berdiri dan melangkah beberapa langkah. Menjulurkan tangannya ke depan menjauhi atap halte, merasakan apakah gerimis yang turun mulai reda perlahan. Dirasanya masih belum reda gerimis yang turun di sore ini, ia kembali berjalan dan duduk. Masih di samping anak itu. Dihisapnya rokok di tangannya kembali.
            “Hah, hujannya masih belum berhenti” keluh pria itu, “Bisa terlambat pulang sampai rumah. Kalau nekat hujan-hujanan, nanti malah sakit. Pusing kepala”.
            “Mana badan pegal semua” pria itu kembali berdiri. Dilihatnya ke kanan dan kiri, sejauh-jauhnya yang dapat ia terawang.
            Mendengar keluhan pria itu, anak kecil itu hanya terdiam memperhatikan tindak-tanduk pria itu.
            “Nah itu dia” diserongkan pandangannya ke arah pertokoan tak jauh dari lampu lalu lintas sana. Matanya mulai mencari ke kanan dan kiri. Diambil Koran di tempat ia duduk di damping anak kecil itu tadi, dibuka dan diangkat ke atas kepala. Ia berjalan agak berlari ke arah pertokoan sana dengan dipayungi Koran yang ia beli dari anak kecil penjual Koran di halte itu.
            Sekarang tinggallah sendiri anak kecil itu, yang terus dari tadi memandang tindak-tanduk pria itu. Matanya masih ke arah pria itu yang hilang masuk ke dalam sebuah pertokoan tak jauh dari sana.
            Setelah agak lama pria itu kembali ke halte dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam di tangannya. Koran-koran yang tadi ia gunakan untuk melindungi dari rintikkan hujan masih tetap ia gunakan sebagai paying. Pelindung dari hujan gerimis sore ini. Ia bediri di halte, dibuangnya Koran-koran basah itu ke tanah. Dari bungkusan plastik hitam ia keluarkan sebuah lipatan jas hujan.
            Ia tadi berjalan pergi ke toko itu dan membeli jas hujan, pikin anak itu memperhatikan pria paruh baya itu.
            Pria itu mulai mengeluarkan jas hujannya, di bentangkannya dan di pakai mulai dari celana hingga baju dari jas hujan itu. Setelah selesai memakainya pria itu berjalan ke arah sepeda motornya, dinaiki, dinyalakan dan pergilah ia dari halte itu.
            Anak kecil penjual Koran itu masih duduk terdiam memperhatikan pria tadi pergi. Dialihkannya perhatiannya ke arah tumpukkan Koran basah yang dibuang pria tadi. Dia berdiri dan mulai membereskan tumpukkan Koran basah itu, dirapikannya tumpukkan itu dan ditaruhnya di atas tempat duduk. Dilipatnya sesuai lipatannya yang sudah mulai sobek di sana dan sini.  
            Setelah selesai ia rapiakan dan ia taruh di tempat duduk, sedikit lama ia memperhatikan Koran basah itu. Dirogohnya kantong saku celannya, selembar uang ia keluarkan. Selembar uang itu ia taruh di atas Koran basah itu.
            Lalu berjalanlah ia ke tumpukkan Koran miliknya. diambil dan dibawa dalam pelukkannya meninggalkan halte, pada sore bergerimis yang turun membasahi jalanan, trotoar, dan segala pepohonan yang dipayungi gedung-gedung pencakar langit di kota ini.  



Ridwan

Bicara Tentang Surga, Seperti Hidup Dalam Dongeng?



            Mari kita menjelma menjadi pepohonan di surga, lalu perhatikan manusia pertama yang baru saja diciptakan. Dia dianugerahi nama Adam oleh sang Pencipta. Dengan kuasa yang dikehendaki sang Pencipta, Ia menyuruh mahluk yang sudah lebih dahulu diciptakannya untuk memberi penghormatan kepada Adam.
            Malaikat adalah mahluk yang selalu bertasbih, tugas dia yang utama adalah ta’at kepada sang Pencipta. Saat diminta untuk menghormati Adam, maka rebahlah badannya sebagai tanda penghormatan. Tidak ada hal yang penting setelah ini.
            Iblis? Kau tahu Iblis? Dia adalah mahluk sang Pencipta yang juga tidak kalah bertaqwanya. Kemudian apa yang terjadi ketika Iblis diminta penghormatannya kepada Adam?
            “Api lebih baik daripada tanah.”
            Penolakan.
            Iblis hanya tidak mau menghormati Adam.
            Kepada sang Pencipta? Ia tetap sujud dan rebah menyembah.
            Bermain-mainlah Adam dalam surga itu. Iblis? Dia sudah diusir akibat penolakan. Adam sendirian dan muncul rasa sepi ditengah kenikmatan. Sang Pencipta akhirnya menciptakan pasangan untuk Adam melalui salah satu tulang rusuknya bagian kiri, dan jadilah seorang perempuan yang bernama Hawa. Mungkin bidadari belum ada saat itu.
            Kira-kira kau tahu apa pandangan Adam kepada Hawa pertama kali? Cinta sepertinya. Lalu mereka bersenang-senanglah hingga lalai bahwa Iblis sudah menjadi musuh yang nyata bagi mereka.
            Tahukah kau? Kadang aku sempat berpikir jauh ke masa itu. Masa Adam yang sedang bercengkrama dengan Hawa dalam surga yang jarang dijelaskan surga apa.
            Kau juga pasti tahu kan? Siapa yang paling bertanggung jawab atas tinggalnya kaum kita di bumi ini? Pernahkah kau menyesalinya? Atau… pernahkah kau berkhayal jika peristiwa Adam dan Hawa memakan buah khuldi itu tidak pernah ada?
            Ah, jadi kau bahkan menginginkannya? Menginginkan peristiwa itu tidak pernah ada? Supaya apa? Aha… supaya anak cucu Adam juga bisa  menetap di surga itu pastinya kan? Dan kau… kau juga bisa menetap disana tanpa perlu merasakan pahit ketir tinggal di bumi ini ya? Kau ini picik juga ya.
            Baiklah, mari kita hidupkan khayalan kita kembali, jika memang takdir yang kita kehendaki terjadi. Manusia menetap di surga itu. Manusia menetap disana dengan segala kenikmatan yang ada. Kira-kira seperti itu?
            Pertama-pertama kontruksi tubuh manusia tidak seperti sekarang ini.
            Buang air besar?
            Buang air kecil?
            Kentut?
            Manusia tidak akan mengeluarkan hal-hal menjijikan seperti itu. Tubuh mereka bersih dan wangi. Memancarkan cahaya? Bisa jadi.
            Manusia berlimpah kenikmatan. Mereka tinggal menjentikkan jari, maka muncullah keinginan yang ada di pikirannya. Kebutuhan biologis? Bagaiman dengan kebutuhan itu? Tenang, mau dengan lawan jenis dari manusia? Atau dengan bidadari? Aku dengar-dengar, kerudung bidadari itu lebih indah dari dunia dan seisinya. Tahan dulu liurmu… klimaksnya bisa mencapai 70 tahun lamanya. Ah itu yang kau tunggu-tunggu bukan?
            Manusia dibuai kenikmatan abadi.
            Pasti ada dampak negatifnya dari khayalan kita ini. Mari kita berpikir sedikit lagi. Manusia menetap di surga itu? Tanpa seleksi terlebih dahulu dari bumi? Tanpa merasakan pahit ketir dulu?
            Ujian?
            Peringatan?
            Adzab?
            Apakah ‘mungkin’ itu masih ada ketika sudah di surga? Apakah manusia akan merasakan ujian, peringatan, atau bahkan menyaksikan adzab? Lalu iblis? Apa pekerjaan mereka ketika manusia menetap di surga itu? Masih adakah yang sanggup digoda? Maka Iblis akan kesepian nanti di dalam neraka.
            Tanpa proses hidup di bumi, langsung menetap di surga… ini akan menjadikan manusia tidak tahu arti dari perjuangan? Pengorbanan? Berbagi? Penderitaan? Memperebutkan cinta dari sesama? Dan lain sebagainya yang hanya ada di bumi.
            Manusia menjadi konsumtif tanpa tahu arti dari itu semua. Kau pernah berpikir seperti itu?
            Hedonisme…
            Kau pernah berpikir seperti itu?
            Ternyata sang Pencipta maha pintar. Sebelum Ia menciptakan Adam, Ia telah memberikan tujuan yang jelas terhadap apa yang akan diciptakannya.
            Adam dan anak cucunya akan menjadi khalifah di bumi yang telah diciptakan-Nya. Sungguh menarik bukan? Lalu Malaikat.. apa responnya? Dia mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh sang Pencipta. Seperti ada keraguan bukan?
            Hebat, malaikat meragukan keputusan sang Pencipta.
            Hakikat para malaikat adalah ta’at kepada sang Pencipta, jadi saat dia mempertanyakan keputusan sang Pencipta, apa kiranya jawaban sang Pencipta?
            “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


           
mn ujung bulan 2012

Jumat, 30 November 2012

Siapa Menipu Siapa



“Aku sudah tak tahan apabila kita harus hidup dalam kesusahan seperti ini terus menerus” ucap istriku dengan ketus.  
            “Lantas apa yang harus kulakukan? Sudah tak ada lagi orang-orang yangdatang kepada ku untuk mempergunakan jasaku lagi”.
            “Kau bisa membuat mereka kaya, kenapa kau tidak mempergunakan kesaktianmu untuk membuat kita kaya juga”.
            “Kau tahu itu membutuhkan beberapa syarat….”.
            “Akan kulakukan syarat apa saja asal kita dapat kaya kembali. Jika kau tak mau, aku ingin kita berpisah saja!”.
            Aku terdiam sejenak memikirkan semua yang diucapkan oleh istriku. “Baiklah”. Aku berjalan melewati lorong gelap tepat di bawah rumahku menuju sebuah gua yang kubangun sebagai istana tempat aku bekerja melayani tamu-tamuku. Tamu yang ingin menggunakan jasaku. Untuk sekedar mencari harta atau kecantikan dan pesona lainnya aku sanggupi. Tapi kini sepertinya sudah tak ada lagi yang dating kepadaku, mereka telah mendapatkan apayang mereka inginkan sehingga kini tinggalah aku yang kehilangan mata pencaharian. Hingga kini aku hamper jatuh ke dalam lubang kemiskinan dan istriku mengancamku untuk pergi meninggalkan aku.
            Kurapikan segala sesajen yang kuletakkan di atas sebuah meja kayu berwarna hitam, sebelum memulai upacara pemanggilan. Kunyalakan kemenyan hingga asap dan wanginya menyebar mengelilingi seluruh gua. Kurapalkan matera-mantera pemanggilan guna memanggil pesuruhku, sesosok jin kecil berkepala botak, orang-orang banyak memanggilnya Tuyul.
            “Ada apa tuanku memanggilku?” sahut Tuyul yang tiba-tiba muncul dari kegelapan gua, lalu berjalan ke arahku.
            “Aku membutuhkan bantuanmu”.
            “Untuk siapa kali ini, pejabatkah, tentarakah atau penduduk biasa?”.
            “Kali ini aku memanggilmu untuk diriku sendiri”.
            “Oooh, baiklah. Tapi jangan lupa syaratnya pun tak berbeda dengan yang lain. Yaitu sesuatu dari istrimu”.
            “Baiklah”.
            Tuyul kembali menghilang sembari berkata, “Uangmu akan ada malam ini dan syaratnya aku pun inginkan malam ini pula”. Aku tertunduk lesu memikirkan apa yang telah istriku inginkan padaku. Sebuah kesalahan yangtelah aku lakukan, aku tidak memilih istri yang mencintaiku apa adanya. Istriku menikah denganku gara-gara aku menggunakan sebuah ajian padanya, hingga pada akhirnya aku menyesalinya. Hingga larut malam aku tetap berdiam di dalam gua, sendirian. Sendiri dalam kebodohan pemikiranku sendiri.
            “Sesuai janjiku, aku datang membawakan apa yang kau inginkan” Tuyul mengeluarkan berlembar-lembar uang dari balik tangannya, “Dan sekarang aku inginkan janjimu”.
            “Pergilah, dia sudah menunggumu di atas” aku tertunduk lesu hingga seluruh tubuhku seakan mati rasa melihat Tuyul berlari kecil menaiki tangga menuju ke atas, menuju istriku. Sebelum ia menghilang, kulihat senyum licik mengembang di wajahnya.
            Setelah begitu lama waktu yang kurasakan, kuberanikan diriku berjalan ke atas melihat istriku. Kulihat pada ruang tamu hingga ke dalam kamar kami, ia tak kutemukan. Lalu kuberjalan terus mencarinya hingga aku melihat pintu rumahku terbuka lebar. Berjalan menuju halaman rumahku.
            Seluruh mulutku kelu seakan mati rasa. Kutemukan tubuh istriku terkulai lemah di tanah, kudekap tubuhnya hingga menggigil seluruh darahku. Di dahinya kutemukan dua buah jejak kaki kecil membekas di sana. Ia tak bernafas lagi, ia mati.
            Seluruh air mata membanjiri mata dan pipiku, aku menjerit namun seluruh kekuatan suaraku tak keluar. Kubawa tubuh istriku menuju kamarku, kubaringkan ia di tempat tidur kami. Kuambil sebilah keris lalu kuhunuskan ke langit, akan kubunuh Tuyul. Akan kubawa kepalanya ke hadapan istriku, dan semua orang. Aku mendendam hingga langit.
            Kekalutan menjalari seluruh tubuhku. Aku berlari mengelilingi perkampungan mencari jejak Tuyul sembari mengacung-acungkan keris di tangan kananku. Aku tak letih terus mencarinya. Hingga aku menemukan jejaknya, ya jejaknya kembali menuju rumahku. Jejak itu kembali lenyap di dekat tubuh istriku, amarahku kembali memuncak hebat seakan telah dipermainkan dengan adanya selembar kertas berisikan sebuah ajian.
Kurapalkan beberapa ajian. Ajian pembuka gerbang, gerbang menuju dunia lain. Aku tahu dia telah pergi menuju dunianya. Kini akan kukejar ke mana pun kau pergi. Sebuah kilatan cahaya menyambar di pelupuk mataku, beberapa helaian angin lembut membawa tubuhku pergi. Menghilang dari duniaku, dunia manusia.
Mereka terlihat begitu aneh dan menyeramkan jika para manusia itu melihat mereka. Lari dan ketakutan pun yang akan para manusia itu lakukan bila ada di sini. Aku juga adalah seorang manusia, tapi aku yang akan membuat mereka lari ketakutan sebab aku datang dengan dendam. Dendam seorang manusia terkutuk.
Kuberjalan mendekati sesosok jin dengan sebuah bola mata terpasang di bawah mulutnya, taringnya panjang dan hidungnya, ia tak memiliki hidung. “Di mana dia?”.
“Si si siapa maksudmu?” ucapnya ketakutan, menggoyang-goyangkan kepala dan kedua tangannya.
“Jangan kau berpura-pura padaku. Di mana Tuyul itu?!”.
“Me me mereka….”.
“Cepat!”.
“Mereka ada di bukit hitam sana, dekat dengan istana raja Iblis”.
“Baiklah”. Kugerakkan kaki dan tubuhku melewati kota ini, berjalan mendaki sebuah bukit dan sampai pada sebuah pedesaan. Di sana semua penghuni desa adalah para tuyul.
“Di mana dia?”.
“Siapa?”.
“Tuyul”.
“Apa maksudmu? Kami semua bernama Tuyul. Tuyul yang manakah yang kau cari”.
“Heii Tuyul aku tahu kau di sini, tak usah kau bersembunyi. Berani-beraninya kau membunuh istriku. Keluarlah, akan kubunuh kau!” teriakku menggema seluruh pedesaan.
“Apa maksudmu dengan membunuh?” tanya tetua desa tuyul, “Kami tak memiliki kekuatan sama sekali untuk membunuh, terutama di dunia kalian, para manusia”.
“Tidak mungkin”.
Sejurus kulihat Tuyul berlari dari kejauhan menuju kegelapan. “Itu dia!” aku berlari mengejarnya.
“Siapa?!”.
Kuikuti terus dia berlari menuju ke mana pun. Akakn kuburu kau hingga kau mati di tanganku. Kami berkejaran terus menerus menerobos hutan gelap, sungai-sungai kemerahan, dan jurang-jurang penuh belukar batu lancip. Hingga kulihat ia masuk ke dalam sebuah pintu gerbang raksasa, hitam warnanya pintu itu. Aku pun memasukinya.
Kulihat ruangannya begitu besar, mungkin tempat raksasa kukira. Tapi di sana terdapat sebuah singgasana yang berlapis marmer kehitaman dengan sedikit emas di setiap sudutnya. Begitu sepi dan sunyi tempat itu. Tiba-tiba kulihat Tuyul meloncat dari balik singgasana dan langsung duduk di atas singgasana.
            “Kau!”.
            “Kikikikik kulihat kau hebat juga dapat mengejarku dan sampai di tempat ini”.
            “Akan kubunuh kau!”.
            “Bersabarlah, kikikikik”.
            “Bedebah” tubuhku melompat dan langsung menghujam tubuh Tuyl dengan keris yang kuacungkan, “Hah matilah kau”.
            Dengan keris menancap di tubuhnya Tuyul kurasa telah mati, tak ada yang dapat hidup jika telah kutusuk dengan keris sakti ini. Keris sakti yang dapat membuat tujuh pegunungan bergetar dengan sekali sabetan.
            “Hahahahahaha, sekarang dendamku telah terbalas!”.
            “Apakah benar?” mata Tuyul terbuka kembali dan langsung berubah wujudnya, dari yang kecil dan botak kini ia menjelma sesosok bayangan hitam tinggi yang terbuat dari kabut kehitaman. Aku terpelanting jauh ke belakang.
            “Tidak mungkin!”.
            “Kikikikik kau kira aku ini siapa? Aku bukanlah tuyul seperti yang kau bayangkan”.
            “Bangsat, kau telah menipuku. Iblis keparat!”.
            “Kikikikik manusia memanglah makhluk naïf”.
            “Sialan kau!” kembali kumelompat dan mencoba menusukkan kerisku ke tubuhnya. Dengan sebuah kibasan dari tangannya Iblis mampu melontarkan seluruh tubuhku menghantam tiang besar ruangan itu. Darah keluar dari mulutku.
            “Keris itu hanya sebagian kecil kabutku, kau tak mungkin membunuhku dengan keris itu kikikikik”.
            “Bangsat, aku tak mungkin tertipu kembali olehmu” kembali serang Iblis, namun sekarang dengan sebuah serangan yang berbeda. Kuayun-ayunkan kerisku mencoba untuk membunuh Iblis, dia hanya membalas dengan sebuah serangan dan dengan sebuah serangan itu aku harus kembali terpental jauh dan terluka lebih parah.
            Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan seluruh kekuatanku yang tersisa, kurapalkan mantera terhebat yang pernah kupelajari. Keris di tanganku berguncang begitu hebat, seluruh tempat itu bergetar.
            “Kikikikikik ayo lakukan”.
            Dengan seluruh kesaktianku, kembali kumelompat ke arah Iblis dan dengan kecepatan tinggi kutusukkan kerisku menembus dadanya. Kami berdua jatuh, seluruh tempat ini berguncang dengan hebat.
            “Hahahahahaha lihatlah istriku, aku telah membunuhnya. Sebagai tanda bukti bahwa aku telah membunuhnya akan kupotong salah satu jarinya, akan kutunjukkan padamu dan kesemua orang bahwa aku telah membunuh Iblis”.
            Sesampainya di hadapan tubuh istriku kucium dan kupeluk tubuhnya. “Kini dendammu telah kubalas. Beristirahatlah dengan tenang”. Kuberjalan keluar pintu rumahku. Hari telah memasuki pagi yang begitu cerah. Para tetanggaku telah memulai aktifitasnya kembali.
            “Heiiii para tetanggaku lihatlah di tanganku ini apa!! Ya ya benar ini adalah telunjuk sang Iblis, semalam aku telah membunuhnya. Aku marah padanya karena istriku telah dibunuh olehnya” air mataku keluar begitu deras.
            Ketua RT dan beberapa orang anak muda mencoba menahan kedua tanganku dan terus berbisik kepadaku untuk menyebut nama Tuhan. “Apa-apaan kalian! Lepaskan aku! Jika tidak maka kakan kubunuh kau!” jerit dan rontaku, “Aku telah membunuh Iblis kau tahu, lihatlah jarinya telah kupotong hahahahahaha”.
            “Pak RT, luka di tangannya cukup parah, darahnya tak mau berhenti” ucap seorang anak muda kepada Ketua RT.
            “Carilah perban dan tutup luka potongnya dan bawa jarinya pula. Kita bawa dia ke rumah sakit dahulu sebelum ke kantor polisi”.



Ridwan
            

Sabtu, 10 November 2012

Cahaya Untuk Kubur Sang Penyair



Sebuah senja pada sebuah pekan terakhir dari jangka waktu pemberitaan yang seakan berlalu-lalang di berbagai media pemberitaan kini menjelang. Sebuah senja tentang penguburan dari seorang penyair terkenal yang mengguncangkan dunia dengan sajak-sajaknya yang indah, yang diberitakan pada seluruh dataran dan lautan Indonesia, tengah berlangsung. Sebuah acara penguburan yang dihadiri berbagai macam golongan, dari golongan rendah hingga golongan tinggi status sosialnya. Jasadnya telah rapi berbalut gaun kebesaran menghadap Tuhan, telah bermandikan wewangian dan berhembuskan nafas doa pada setiap kujur tubuh. Kini sang jasad telah siap untuk dikubur, dimasukkan ke dalam liang lahat, tanah merah basah terguyur sisa hujan tadi siang.
Isak tangis keluarga beserta derai air mata rakyat Indonesia mewarnai kepergiannya, kepergian sang penyair yang pergi tanpa pemberitahuan, yang bahkan pergi tanpa pewaris akan ilmunya yang seharusnya ilmunya terus mengalir untuk tanah Indonesia.
Prosesi penguburan telah selesai ketika hujan bintang menjembatani langit. Seluruh keluarga dan para kolega yang hadir kini tengah beringsut untuk pulang. Pulang pada kehidupannya masing-masing meninggalkan tanah kubur tempat bersemayamnya sang penyair yang penuh wewangian bunga-bunga sajak kematian.
Sebelum ketika sang malaikat datang menjemputnya, sang penyair telah tahu akan ajal yang menantinya dengan sebuah sajak ramalan kematian yang ia tuliskan. Sajak ramalan kematiannya. Sehingga ia dan seluruh keluarganya telah bersiap ketika sang malaikat pencabut nyawa mengayunkan sabitnya membelah jiwa dan raga sang penyair untuk dibawanya ke tangan Tuhan.
Kuburan itu terlihat seakan damai dikelilingi bebungaan dan taburan bintang berpemimpinkan bulan di atasnya. Doa-doa seakan menguap dari segala penjuru kuburan itu mengiringi perjalanan ruh sang penyair untuk sampai pada singgasana Tuhan. Tetapi sesuatu seakan terjadi, memutuskan rantai jembatan doa yang menghubungkannya ke jalan singgasana Tuhan.
“Gelap!!” sebuah pekikan keras menggemuruh seluruh kubur sang penyair, “malaikat, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa tempat ini akan begitu gelap? Aku tak ingin meninggalkan tubuhku pada tempat gelap ini. Malaikat jawab aku!” ronta sang penyair menggerogoti tanah kubur.
Pertanyaan yang ia lontarkan untuk malaikat seakan tidak terdengar satupun jawab. “Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, maka datanglah. Bawakan kuburku cahaya untuk tubuhku ini!” sebuah jawab sekan tidak terdengar kembali.
“Baiklah jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku dan tidak ingin membawakan tubuhku cahaya, maka akan kucari cahaya itu dengan tanganku sendiri!. Akan kubawa matahari ke kuburku!”.
Tubuh sang penyair meronta-ronta dalam gelap tanah, tanganya mengkais-kais merahnya tanah hingga lecet. Hingga gores. Hingga luka. Hingga darah. Hingga nanah. Hingga akhirnya tubuhnya tegak keluar dari kuburnya menantang langit.
“Apa ini?. Makhluk-makhluk hina, berani betul kau menggerogoti tubuhku!” sebuah kemarahan terlontar kembali dari mulut sang penyair ketika melihat beribu cacing mengigit grogot seluruh daging tubuhnya. Dihentak-hentakkan tubuhnya sehingga beribu cacing itu terjatuh dan terkapar menggeliat di atas tanah. “Rasakan itu!”.
Namun, tanpa disadari tubuhnya tiba-tiba saja menghujam tanah. “Apa ini? Kenapa tubuhku tak bisa bergerak?”. Kekagetan menjalari seluruh permukaan tubuh dan mental sang penyair. “Sialan!”.
Melihat tubuh sang penyair tergolek tak bergerak, ribuan cacing yang telah dihempaskan oleh sang penyair kembali berjalan memasuki setiap pori tubuh sang penyair, kembali menggerogoti tubuhnya. “Pergi kau makhluk hina! Jangan kau kembali menghancurkan tubuhku!”. Tanpa disadarinya ketika cacing-cacing itu memasuki setiap pori tubuhnya, tubuh sang penyair dengan seketika dapat kembali bergerak berguling-guling ke sana kemari.
“Apa ini?! Kenapa tanpa bantuan cacing-cacing ini tubuhku tak dapat bergerak? Kurang ajar!” geramnya menraung dunia. “Jika aku tetap membiarkan cacing-cacing ini tetap di tubuhku maka tubuhku niscaya akan hancur, dan aku tak akan dapat membawa matahari ke kuburku” sebuah perasaan kalut mengerubungi pikirannya, “aku harus cepat sebelum tubuhku hancur”.
Sang penyair berjalan meninggalkan tanah pekuburan di mana merupakan tempat ia disemayamkan. Dilihatnya langit bertabur bintang menghiasi seluruh jagat alam semesta raya. Di manakah matahari? Pikirannya melayang tentang keberadaan matahari. Dengan apa dia kan sampai pada matahari? Kembali waktu semakin ia tipiskan dengan berbagai macam pikiran.
“Aku adalah penyair. Aku adalah Tuhan dari kata. Dengan kata aku dapat menjadi Tuhan. Dengan kata aku dapat menciptakan dan menjadikan sesuatu. Dengan kata aku akan membuat sebuah jembatan, jembatan menuju matahari. Dengan jembatan kata itu aku kan membawa matahari” diciptakannya sebuah jembatan menuju matahari dengan beribu kata. Tidak, berjuta kata. Ahh tidak, bermiliar-miliar kata akan ia gunakan untuk sampai pada matahari. Jembatan dari bermiliar-miliar kata itu seakan begitu indah dan agung bagi yang melihatnya, keindahan dan keagungannya seakan hampir menyamai keindahan dan keagungan Nirwana. Tak ada yang dapat melukiskannya. Kecuali Tuhan.
Dia berjalan meniti tiap titian jembatan yang ia buat dengan bermiliar-miliar kata dengan sangat cepat, untuk memburu waktu. Dia tidak akan mati tercekik karena kehabisan oksigen bila ia telah mencapai angkasa luar sana karena ia adalah mayat. Mayat yang tidak memerlukan oksigen untuk hidup. Mayat yang kembali hidup karena sebuah keinginan yang ingin ia capai, sebuah keinginan yang tidak mayat lainnya inginkan karena ia adalah mayat seorang penyair. Penyair yang agung.
Telah sampailah ia pada matahari yang bara cahayanya menjilat-jilat hingga seluruh ruang hampa udara angkasa raya yang begitu luas. Bara apinya terpancar ke segala penjuru kehidupan, memanaskan setiap pori-pori tubuh sang penyair yang telah menjasad.
“Aku kan membawamu ke kuburku yang gelap dan sunyi dingin wahai matahari yang memancarkan berjuta cahaya kehidupan” dengan berjuta kata dibuatnya sebuah rantai yang ia ikatkan pada seluruh permukaan matahari. Tak akan putus rantai itu karena rantai itu terbuat dari kata, kata yang tidak kan terkelupas karena bara api cahaya yang melumerkan dan menghanguskan.
Sebelum ia tarik matahari itu keluar dari kursi jabatannya, ia melihat pada bumi. Alangkah kecilnya bumi ini bila dibandingkan matahari yang ukurannya begitu besar. “Aku akan membunuh bumi bila matahari ini sampai pada bumi. Akan hancur kubur persemayamanku” seakan niatnya menciut untuk membawa matahari. Sirna menjadi debu. “Jika tidak matahari, maka bulan akan kubawa”. Ukuran bulan memang tidaklah lebih besar dari matahari begitu pula tidak lebih besar dari bumi, maka tepat.
Ia kembali menggelar jembatan menuju peraduan bulan yang bersemai indah pada orbitnya. Perjalanan menuju bulan memang tidaklah mudah bila dibandingkan menuju matahari, begitu banyak batu ruang angkasa yang terbang melintas pada jalan menuju jalan bulan. Jika pada perjalanan menuju matahari memang lebih banyak batu angkasa yang beterbangan, namun begitu ia terbang melintas dekat dengan matahari maka ia akan lebur mendebu akibat sengatan dan pancaran lidah api yang menyentuh permukaan kulitnya.
Rintangan berat kini telah ia lalui dengan cukup mudah karena, ketika batu angkasa yang terbang menuju ke arah hamparan jembatan yang ia ciptakan, ia gunakan gada, pedang dan berbagai macam senjata lainnya dari kata-kata untuk menghancurkan batu angkasa itu dengan mudah. Hingga telah sampailah ia pada bulan itu berada.
Sebuah nyeri ia rasakan pada tubuhnya. Astaga! daging tubuhnya kini mulai lepas sedikit demi sedikit akibat cacing yang terpaksa ia biarkan hidup di tubuhnya hanya untuk sekedar dapat menggerakkan tubuhnya. Ia terus terburu akan waktu, yang seakan ia dapat rasakan bahwa apa yang ia lakukan seakan tidak berguna karena ia kembali menemukkan hal yang mustahil. Bulan tidaklah menciptakan cahaya ia hanya memantulkan cahaya yang dipancarkan oleh matahari kepadanya. Bulan tidak akan memberikkan sinar untuk kuburnya. Lalu apa? Apa lagi yang harus ia bawa untuk menyinari kuburnya? Listrikkah? Lampukah? Senterkah? Kunang-kunangkah? Manusiakah? Bidadarikah? Ya bidadari,  ia mulai berpikir bahwa bidadarilah yang dapat memancarkan sinar cahaya. Tidak ada lagi yang lain selain bidadari, selama ini ia selalu menggambarkan bidadari pada sajak-sajak ciptaannya merupakan makhluk yang bercahaya sepanjang waktu tak kunjung padam. Tapi di manakah dia? Siapakah dia?
Sang penyair kembali hanyut dalam pikirannya, merenung. Merenung dalam keindahan bulan yang selalu ia lukisan tentang keindahan cintanya terhadap sang istri, bagaimana ia selalu memberikkan tawa kepada bintang-bintang yang berdendang dalam gelapnya langit dalam sunyinya angkasa. Memberikkan mereka alas an untuk tetap mempertahankan sinarnya menerangi beribu galaksi alam semesta raya. “Tunggu dulu, istri? Ya istriku, istriku adalah bidadari yang aku cari. Aku harus membawa dia” pikirnya dalam kekalutan waktu.
Dibentangkannya kembali jembatan yang tadi ia gunakkan untuk membawa dirinya menuju matahari dan menuju bulan untuk sekarang membawanya menuju kembali ke bumi, meuju rumahnya. Dimana tempat sang bidadari berada. Tempat istrinya.
Dilihat dari balik jendela rumahnya, sang istri tengah tertidur lelap memimpikan tentang kehidupan yang akan ia lalui tanpa kehadiran sang suami yang dahulu senantiasa menghadapi problema masalah kehidupan bersama, kini telah tiada. Meski semua kecukupan yang ia perlukan dan yang anak-anak mereka perlukan tidak lagi harus dipikirkan lagi hingga akhir ia datang, bergandeng tangan menjemput hari akhir bersama sang suami yang telah mendahuluinya menhadap kuasa tangan Tuhan.
Sang penyair membuka pintu rumahnya, yang ia tahu bahwa sang istri tidak mungkin menguncinya karena ia tahu bahwa sang istri masih belum merelakan ia pergi lebih dahulu. Masih mengharapkan untuk sang suami kembali pulang padanya. Dilewatinya ruang tamu dan ruang keluarga yang penuh kenangan kehidupan bersama keluarganya, hingga pada air mata yang sekarang menetes hingga pintu kamar ia dan istrinya. Didekati tubuh istrinya yang lelap dalam tidur.
“Kau masih cantik, Elsa. Seperti dahulu kita bertemu” tangannya ia dekatkan dengan wajah sang istri yang ia cintai. “Aku baru beberapa hari amataku telah tertutup meninggalkan dirimu, tetapi kau telah merindukkan aku dengan sinar wajahmu, Elsa” diusapnya kening sang istri. “kau memang bidadariku”.
Tiba-tiba saja sang istri berteriak membuka matanya. Ia ketakutan melihat bahwa sang suaminya kini telah berdiri di hadapannya, mengusap keningnya.  Sebuah ketakutan ang amat sangat.
“Tenanglah istriku, ini aku suamimu” ucap sang penyair.
“Kau… kau apa yang kau lakukan di sini?” sebuah ketakutan memancar deras pada diri sang istri.
“Aaaa.. aku hanya ingin melihatmu”.
“Kau pasti Iblis! Kau pasti Iblis! Pergilah! Pergi!”.
“Tenang, tenanglah ini aku suamimu. Seorang penyair hebat”.
“Tidak! Tidak mungkin kau suamiku! Suamiku telah mati!”.
“Aku memang telah mati, tapi aku hidup kembali untuk bertemu denganmu, Elsa”.
Sang istri terus menjerit ketakutan melihat suaminya tengah bangkit dari kuburnya dan kini ia telah berdiri di hadapannya dengan keadaan yang begitu buruk. Daging-daging tubuhnya kini telah menghilang, menampakkan putihnya tulang-tulang tubuh khas seorang manusia. Dengan terpaksa sang penyair berlari pergi, takut akan kehadiran anak-anaknya yang hanya akan memperkeruh keadaan. Dilihat dari kejauhan anak-anaknya memeluk mencoba menenangkan kekalutan sang ibu.
“Aku tidak mungkin membawanya pula, aku lupa akan anank-anakku yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. lagipula ia pun pasti akan mati sama seperti halnya diriku” sebuah keputus asaan melanda jiwa sang penyair yang kini seakan tidak memiliki tekad kembali.
Dilihatnya ke tanah sebuah Koran yang memberitakan tentang dirinya terserak terhampar. Diambil dan dibacanya koran tersebut. “Indonesia kini tengah berduka atas dua hal. Yang pertama adalah berita tentang kematian seorang penyair hebat Indonesia dan yang kedua adalah kematian dari penyair tersebut yang tidak meninggalkan ilmunya kepada para pewaris generasi baru Indonesia…..”.
“Sekarang aku tahu bahwa kenapa kuburku begitu gelap” sang penyair kembali berjalan menuju kuburnya dengan sebuah perasaan yang sedih, “Aku telah menerima kegelapan kuburku”.
Di berjalan kembali masuk ke dalam lubang kuburnya dan membaringkan tubuhnya kembali di atas tanah yang merah, menutup rapat lubang kuburnya rapat-rapat. Memejamkan mata.

Beribu kata kuukir dalam sebuah jembatan
Antara bumi, matahari, dan bulan
Entah kapan waktu seakan mencampakkan
Namun bidadari tetap telah pergi
Aku kini lelap dan tunggu



Ridwan